Sunday, November 29, 2009

Rumput Liar


Pria itu tidak pernah berkata ia mencintaiku, sedikit pun. Namun aku kadang mampu merasakan dari kekuatirannya, kemarahannya padaku, dan segala pertengkaran yang kami lakoni setiap hari layaknya pertengkaran anjing dan kucing. Namun, toh aku tidak beranjak dari sisinya. Aku tahu aku mencintainya, namun aku tak pernah tau apa dia mencintaiku. Haruskah aku merasa ragu?


Kerap kali aku mencuri perhatiannya dengan berbuat hal-hal yang justru aku tahu, dia akan murka. Dia akan marah – dan seakan ingin mengeyahkanku jauh-jauh dari hidupnya. Namun entah kenapa aku masih enggan menyingkir- layaknya rumput liar yang saban hari dipotongnya – namun para kumbang, kupu-kupu, atau anjing-anjing yang tak kenal permisi- maupun sang angin nakal itu membawa bibitku yang ditebar begitu saja, membiarkanku bercumbu dengan tanah dan memeluk hujan untuk tetap tumbuh- dan masih saja setia menunggu untuk jadwal potongan berikutnya.

Semakin hari – semakin panjanglah aku, sehelai rumput liar, seolah berlari mengelilingi pria itu layaknya lingkaran setan. Tak jarang ia akan menangkapku, memotongku, namun Ia tak punya pilihan, Karena aku tetap tumbuh – dan aku tak ingin berpaling darinya, walaupun itu bukan jaminan dia akan membiarkan taman kecil di depan rumahnya bebas dari aku.

Kadang ia lelah. Ia tak lagi menangkapku dari hembusan angin yang menggodanya dan membiarkanku menari di tengah taman itu seorang diri. Terkadang ia hanya menjadi penonton yang setia, pura-pura baik hati dengan tidak menoleh padaku dan membiarkan cumbuanku dengan tanah semakin menjadi dan hujan pun semakin setia menemaniku.

Tunggu, ini bukan cerita rumput liar, tanah, hujan, atau angin nakal. Ini ceritaku dengan pria itu – pria yang tak pernah mengatakan ia mencintaiku. Pria yang terlalu acuh membiarkan cintaku lenyap layaknya biru langit yang lega setelah melepaskan kristalnya yang menyejukkanku. Tidak. Aku tidak butuh semua kebahagiaan nyata itu. Aku perlu satu kata pembuktian darinya, cinta.

Iya. Iya. Cukup! Banyak sudah aku mendengar bahwa cinta tak perlu diungkapkan, namun itu mereka, itu kalian, itu pria lain yang kerap berkata cinta tidaklah berujung bunga, dan bunga akan tersudut mati apabila menunggu kumbang. Ya ya. Itu mampu kuterima dengan logika. Cinta memang rumit, seperti buah simalakama. Diungkapkan - terkadang takut, apabila tidak diungkapkan- menimbulkan resiko bahwa cinta itu akan lenyap dan menghilang bagai debu. Namun… apabila aku tak mampu merasakan cinta, apa yang akan membuatku hidup?

Aku mengambil lembaran kain putih itu dan mengikatnya erat di pelipisku. Iya, kata orang cinta penuh perjuangan, jadi aku harus berjuang! Aku berusaha bersikap semanis mungkin agar pria itu sejenak saja mau berbincang denganku, sisakan sedikit saja waktu untukku, berkata satu kata saja agar buatku tersenyum. Namun segala yang kulakukan tidak ada artinya di matanya. Seperti biasa kami lagi-lagi setiap hari layaknya kucing dan anjing – bebuyut yang tak pernah berbaikan. Akhirnya, ku putuskan lagi untuk menjadi penghias tamannya- rumput liar yang pasrah.
***

Auww!!
Aku berteriak keras karena seseorang telah menginjakku. Aku baru saja ingin berubah lagi menjadi kucing yang selalu diajak perang mulut oleh pria itu. Namun, yang menginjakku bukan dia, melainkan seorang wanita. Aku terpaku menatapnya. Kubiarkan dia menginjakku semena-mena, semau hatinya, sesukanya. Sambil bertanya-tanya dalam hati, mengapa pria itu membiarkan wanita ini menginjak-nginjak rumput liar seperti aku. Apa dia tidak tahu, pria itu pun tak tega menginjakku seperti ini. Karena pria itu hanya memotongku saja, ia membiarkan akarku hidup, merelakan hujan menari denganku dan memberiku kesempatan bercumbu dengan tanah coklat yang subur. Namun… nampaknya sekarang, aku harus benar-benar berbuat sesuatu.

Angin meniupku perlahan sore itu, membiarkanku menyanyi lagu yang luar biasa sendu. Pilunya dukaku tak mungkin ia rasa- kala sang wanita itu mencabut akarku dan ia buang jauh-jauh. Tak hanya itu saja, ia mulai menyalakan api. Aku terpana melihat nyala-nyala api yang ia hidupkan melalui daun-daun kering yang berjatuhan di taman kecil itu. Aku tak menyangka wanita ini yang akan datang untuk menjadi penghalang uniknya hubunganku dengan sang pria yang tak bisa kutinggalkan walau pria ini sudah menyakitiku sedalam  palung lautan tiada bertepi- namun tidaklah sekejam wanita ini yang sangat kentara ingin memusnahkanku.

Kesabaranku tidak mampu lagi untuk menanti kata cinta dari sang pria namun aku tidak merasa kuatir kalau wanita itu akan menggantikan posisiku. Tanganku telah menggenggam sesuatu diatas bara api yang tak sempat berkobar, terasa sejuk ditanganku dan dari sela-sela jariku mengalir cairan yang mematikan bara api itu perlahan-lahan, walaupun nyalanya masih menjilat-jilat ditengah deru angin yang menderu dibelakang leher.

Aku mendengar pria itu berlari ke arah taman, tempatku berasyik masyuk melakukan kegiatanku. Pria itu menatapku dan ia membeku disudut taman itu, tidak seperti biasanya. Lidahnya tiba-tiba tak mampu berucap seribu kata yang biasanya menusuk hatiku bagai sembilu. Aku tersenyum – memasang senyum kemenanganku sore itu. Aku berjalan menuju pria itu, sambil membawa sesuatu yang kini sudah berbau anyir di tanganku.

Tidak ada kata maaf untukku di dalam hati wanita ini.” bisikku lirih, seraya menyerahkan sabit pemotong rumput yang kuasah semalaman, masih berlepotan cairan berwarna merah- ke tangan pria itu, sambil mengarahkan ujungnya yang runcing, tepat pada jantungnya.

“Apa kau punya, Ayah?” tanyaku lirih. Aku tahu, dia akan menjawabnya dengan sahut-sahutan panjang seperti biasanya. Namun, tidak kali ini- dan perkiraanku meleset jauh- sejauh ia melemparku dan membuatku terbakar dalam nyala api dendam yang merefleksikan terik mentari, tertegun menyaksikan sang angin meringkusku tanpa jejak.

Rumput liar itu telah terbang tinggi - diiringi nyala api mengecil yang serta merta menembangkan pesan wasiatku pada pria itu. “Cabutlah aku, bakarlah aku, dan injaklah aku – namun aku adalah rumput liarmu yang tetap tumbuh dan tegar dalam taman itu. Meskipun warna tanah yang mencumbuku berubah menjadi merah - oleh darahku yang tersisa di sabit yang kau genggam, Ayah.. Percayalah, aku tetap setia.”

49 comments:

sibaho way said...

ah, ceritamu menghanyutkan gek. analogi sebagai rumput liar sungguh berkarakter tanpa kehilangan alur cerita. saya suka :)

Zahra Lathifa said...

wah, bang sibaho udah "mengacau" disini juga :)
Hebat gek...filosofi rumput liar mu mencuri perhatianku :) mungkin taman tidak akan terlihat indah tanpa rumput liar, karena bagiku rumput liar lebih alami, natural...

jhoni said...

saya penasaran ma modelnya?!?!?! itu pasti gek ya???? kok malu2 gitu photonya?!?!?!qiqiqiqiqi

tapi ceritanya cinta tak berbalas ni!?!?! sedihhhh!!

anindyarahadi said...

ini buat papanya mbak gek ya?

hemmmmmpppp.... *spijles aku ngga bisa ngomong apa-apa





tapi analoginya kereeen..






BANGED (pake D bukan T)

SeNjA said...

kerenn gek,...

perumpamaan rumput liar hemm,...
rumput liar yang teguh,meski dipotong dia akan tetap tumbuh...
dia tidak mudah mati meski kemarau dan tetap teguh meski air hujan mengguyur tubuh rapuhnya yg tegar...

Elsa said...

hati hati... too much love will kill you! hehehehe, judul lagunya siapa ya, kok lupa aku.

minomino said...

dandelion atau Gynura crepisoides (mudah2an tidak salah ejaan :p )... :)
biar liar tapi tetap indah...
tidak perlu punya kelopak besar2 dan warna yg mencolok, tapi ketahanan hidupnya bisa melebihi bunga2 norak lainnya...
yaaahh...apapun itu mbak..
mdh2n 'cinta'-nya bisa tetap survive seperti dandelion :)

(atau sekalian aja seperti edelweis,he2)

Seiri Hanako said...

bagus banget, Gek...
fotonya juga unik...
pas.
(^^)

sabda said...

uppss kali ini aku ikut terbawa oleh alur RUMPUT LIAR mu"...asyik...

RanggaGoBloG said...

sayah suka potonyaaah... kira kira poto siapakah itu....???

lina said...

rumput liar itu malah lebih awet dibandingkan mawar jika dipetik ditaruh di vas
i love it.

salam kenal ya....

tealovecoffee said...

beautifully & nicely written :D
tapi agak merinding juga baca yg ada sabit2nya :p
waa baru pertama kali mampir sini, melihat bakat menulis yang luar biasaa ^^
salam kenal mbak -Gek-, hehehe

Sang Cerpenis bercerita said...

wah,kok mirip cerita si nchi. ada sabit segala

Pohonku Sepi Sendiri said...

geekkk.. bingung neehhh.. hehe.. maap lagi telmi..
tulisannya indah, tapi bingung mencari maknanya.. apakah ini cinta si rumput liar pada ayahnya? ato cinta layaknya sepasang kekasih pada seorang lelaki? ah, sudahlah.. apapun itu aku tetap menyukai gaya penulisannya..
nice post gek.. :)

Anonymous said...

jie : cool.....implisit, siipppp....

Sigit Purwanto said...

tanya pada rumput yang bergoyang..mungkin memang rumput mengerti dan akan menjawab apa yang kita pertanyakan..entahlah..

Ellious Grinsant said...

ini cerita tentang apa yak? aku masih loading nih... ini cerita tentang ayah yang jatuh cinta sama anaknya ya?

-Gek- said...

@ Minomino : makasi komennya loh, mudah2an seperti bunga edelweis..

@ Ellious : um.. sepertinya ga sejauh itu deh, coba baca pelan2, jangan skimming aja.. hehe.

@ All : ketemu di blog masing2 ya! :)

becce_lawo said...

aii..aii..aiii

aku juga nggak mudeng nih...rumputnya kok berdarah-darah??? terus ntu laki-laki sapa??? bapaknya atau pacarnya???

:0

-Gek- said...

@ Bang Becce : tenang donk, tenang.. baca nya pelan2... Laki2 itu Ayahnya. Kan udah diulas di bagian akhir. :)

Andie Gokil said...

aku ga ngerti ini.
hehehehe
mangap mbak, yang penting koment yah.
hehehehe

*nasib anak SMA yang tidak mengerti konotasi* halah

follow you back, mbak :)

kang sugeng said...

hehehe.... sungguh ceritanya menghanyutkan hatiku Gek..... andai akulah rumput liarku itu, tentu aku akan selalu tumbuh dan tumbuh lagi... hehehe...

mobile blogging tutorial said...

sumpah saya terhanyut membaca ini semua....

Ivan Kavalera said...

hmmm, nikmatnya minum kopi sambil baca2 narasi asyik ini. mantap binti keren.

Noor's blog (inside of me) said...

kok rumput liar sih..? rasanya memang sulit mendapatkan cinta kalau memang kehadirannya saja sudah tak diinginkan...

Clara said...

kalo rumput liar maksudmu bunga tanpopo yang ada di gambar itu, aku juga suka Gek, hihihihi...

jadi rumput liar memang harus kuat
apapun terpaannya rumput liar kan selalu tumbuh
dan dimana pun, dia akan selalu ada

Piet Puu said...

hmm teh.. klo baca tentang rumput liar jadi ingat serial komik piet yg judulnya IMADOKI teh.. ^_^
di komik itu ada karakter tokoh yg buad piet jatuh cinta.., ^_^
"Yamazaki Tanpopo"
gadis itu semacam dandelion (rumput liar)
yang akan terus tetap hidup meski harus
diinjak-injak...
semangat dan kebranian tanpopo buad piet jadi iri, meski dia orang ga mampu, tapi dia memiliki kekayaan semangat hidup yang ga dimiliki orang lain..
hohoho jadi cerita piet teh...

Itik Bali said...

Membaca rumput liar ini jadi inget cerita di meteor garden,
Rumput liar tak gampang dimusnahkan
tak gampang di hilangkan, biar diinjak, biar dibabat tetap kan bertumbuh terus.

Sigit Purwanto said...

balik lagi, baca lanjutan yang kemaren, soalnya kemaren masih nanggung bacanya, biasalah panggilan alam..ehhee.
sambil cari alasan untuk membangunkan inspirasi yang terlelap..
sambil menyelam minum air..blebegk..blebegk..

Apisindica said...

saya suka sekali analogi tentang rumput liar. Kesannya tangguh.

Tapi, selayaknya rumput liar, akan ada saatnya rumput itu untuk menepi dan mati!

christie said...

ih..bagus banget postingan nya. ajarin buat tulisan kya gini dong.
awalnya tadi berpikir tentang cinta cewek ke seorang cowok, ternyata ke seorang ayah toh.
cerita ku hampir2 mirip2 kya gini Gek, tapi ke seorang cowok. hahahaa
*kok jadi curcol yah aku. haha

Gogo Caroselle said...

aih, analogi rumput liar
*hugs*
rumput liar itu kuat dan persistent ;))

ninneta said...

huhuhuhuhu...... papa-ku juga segala-galanya buat aku.... lelaki terhebat di dunia.... (no.2-nya Brad Pitt)... Aku sangat teramat dekat dengan papaku.... jadi terisak-isak bacanya...

*cups*

ninneta

Bandit Pangaratto™ said...

kayaknya si putri dgn ayahnya yg bau memiliki ibu tiri...


rumput liar, -yg mana saya elbih suka menyebutnya semak-semak-, memiliki banyak hal yg bisa dipelajari oleh manusia utk mempertahankan hidup...

jd ingat saya pernah punya postingan ttg semak semak...

http://banditpangaratto.blogspot.com/2009/08/puisi-semak-semak.html

vie_three said...

benar2 menghanyutkan jiwaku, aq sering menemukan kiasan tentang rumput liar dalam film drama korea ataupun mandarin..... dan aq menyukai kiasan itu.... setidaknya rumput liar tetap tumbuh meski dinjak-injak.

mbak, meski apapun itu dia tetap seorang ayah buat mbak gek ^^

yanuar catur rastafara said...

keren gek, kuat karakternya
bentar yah, mau baca lagi..

Fanda said...

Seringkali cinta itu memang tak perlu diucapkan, Gek, apalagi krn ada pria yg menganggap mengumbar perasaan sayang itu terlalu feminin

Fajar said...

ketika dalam penantian...tanyakanlah pada rumput yang bergoyang......salam kenal ya....

mocca_chi said...

klo bgini, memang temen bloggermu yg lebh tau masalahmu dripada orang disekitarmu,tpi ga apa sih,meluapkan sesuatu yg selama ini disimpan sendri ^ ^

cumn darah it darah sapa ya :P

diar said...

Bagus gek!!!

-Gek- said...

@ Bandit : um, tebakan yang tidak kena.. hehe. Nice try! :p

@ Nchi : oh ya..? Uhm.. pastinya masih tertutup kok Bu.. Ga pa pa lah teman bloggers yg tau, ada tempat menumpahkan darah.. eh, uneg2.. xixixi..

@ Yanuar : dah lese baca blom?

@ Readers baru : Welcome, sampai jumpa di blog masing2 ya! ;)

Bandit Pangaratto™ said...

aku cuma punya dua ide ttg tulisan ini, klo gak yg komenku tadi ya cinta segitiga gtu...


hehehe

*salah lagi? ... kasih tau donkk.... hehehehe

-Gek- said...

@ Bandit : selamat penasaran ya.... (gek lagi kejammm, hehehhehehe!) Cinta segitiga? Bukan ah.
Kujadikan kuis nanti nih, hehehhe... :p
Coba lagi!

Philida Thea Noorvika Herry said...

Dua cendol buat GEK..
tapi aku juga masih kurang paham nih,,

haha awal2nya mirip kayak kisah aku loh,,,
hohohoho

-Gek- said...

Buat FAJAR : gek ga bisa komen ke blogmu, gara2 verifikasi kata!!! Huks huks, bagi temen2 yang masih ada verifikasi kata.. dihilangin dounk.. serasa.. gimannnnaaaa gituuuu.. :)

albertus goentoer tjahjadi said...

cerita rumput liarnya indah mbak... membawaku terhanyut hingga akhir... tapi kok endingnya ada yang berdarah-darah ya?

Andie Gokil said...

mampiiirr... cihuy. hehe. komentmya kan udah kemarin :p

Kika said...

Nice stroy. Aku suka alurnya. Asyiikk...

Enno said...

keren banget gek :)