Monday, November 16, 2009

Elegi sebuah kaos

Kau sendiri kan yang bilang suka Vespa?

Walaupun aku tidak pernah mau naik diatas kendaraan tahun dodol yang butut itu. Dilengkapi dengan suara ribut memekakkan telinga – belum lagi kepulan asapnya membuatku terbatuk-batuk.

Walaupun ada sedikit rasa gengsi..kau tahu sendiri kan, aku punya penyakit asma?

Jadi bagaimana mungkin aku memenuhi permintaanmu setiap malam minggu – setelah berdandan rapi dan cantik, mengenakan rok mini baruku – sepatu hak tinggi sepuluh centi – dan kau tetap memaksaku jalan-jalan keliling kota dengan Vespa bututmu itu? Kau lakoni sendiri saja. Aku tak keberatan menghabiskan malam mingguku dengan mematut di depan komputer menemani teman-teman dunia mayaku yang sudi menemaniku sebelum aku tenggelam dalam permintaan mu yang sejauh ini kuanggap paling gila.
***


Dan.. tiba-tiba saja hari ini, aku menemukan kaos itu. Kaos bergambar Vespa biru – meskipun tidak sebutut Vespa biru mu yang masih saja sering bertandang ke rumahku. Yang tak henti-henti memaksaku menaikinya, walaupun tahu hanya penolakan yang ia terima.

Bukan, kaos itu tidak baru – aku juga hanya berbelanja di pasar loak, karena uangku tak cukup untuk membelikanmu barang-barang mewah hanya untuk menunjukkan aku peduli. Lagipula, aku rasa aku bisa menyulap kaos itu menjadi seperti baru – sehingga kau tidak malu mengenakannya. Sudah cukup keringatku menetes siang ini, hanya untuk mencarikanmu sebuah kaos bergambar vespa biru.

Kaos itu sudah ku rendam menggunakan air hangat, biar kau tau, betapa hangatnya hatiku mendekapmu. Ku tabur bubuk cucian yang paling harum, biar tercium harum rasa sayangku yang kusisipkan ke dalam kalbumu. Ku cuci hingga bersih, biar kau cerna jernihnya jiwaku yang mencintaimu. Ku gosok diatas papan setrika ku hingga kesat dan licin, biar kau tau – aku membuatnya begitu karena aku sungguh ingin buat satu senyum tersungging dari bibirmu.

Ku bungkus dengan kertas kado berwarna biru langit – kesukaanmu. Malam ini, kaos bergambar Vespa biru ini akan menjadi milikmu – seperti hatiku yang masih menjadi tanda tanya bagimu. Tidak, aku tidak pernah bilang kalau aku pacarmu. Seperti kau yang tidak pernah berkata cinta – namun aku tau cinta tidaklah perlu berujung bunga. Maka mungkin kalau aku beruntung, malam ini cinta kita bisa saling terungkap.

Kau dan Vespa biru butut itu sudah bertandang di depan pagar besi tinggi rumahku. Dengan sumringah aku meloncat-loncat diantara rumput-rumput tinggi taman, menuju teras tempat kita biasa bercengkrama, berbicara dari hati ke hati, kadang bertengkar juga. Ku berikan langsung bungkusan biru langit itu padamu. Kau tampak terkejut – dan sebelum kau buka, kau sudah mempersembahkan satu senyuman untukku. Ah, sudah cukup, pikirku.

Aku memandangi jemarimu yang tergesa membuka hadiah spesial dariku malam itu. Dibukanya dengan paksa lipatan kaos bergambar Vespa biru itu. Diterawang di bawah sinar bulan di langit malam yang cerah. Dan kau bertanya padaku..

“Gila kamu. Di mana kamu dapatkan kaos bergambar Vespa ini?

Dengan bangga aku berjalan mendekati mu, tersenyum centil dan memaparkan perjuanganku di pasar loak yang jaraknya 3 jam menyetir mobil di jalanan yang penuh sesak dan ramai. Berjalan menyusuri deretan ratusan penjual baju di pasar, bergumul dengan debu – dan bau apek dari pakaian bekas lainnya walaupun akhirnya menemukan kaos itu. Aku berharap, tindakan selanjutnya adalah ucapan terima kasih, atau mungkin... satu kecupan? Ah, aku bermimpi.

Senyum pria itu memudar. Dia memegang bahuku – aku mulai tegang, “Ya Tuhan, inilah kecupan pertama yang akan ku terima dari pria yang kucintai!” Otakku mulai tidak sinkron dengan deru nafas gugupku yang sedikit panik, tapi tatapan matanya berubah tidak lembut lagi, dengan mengatakan satu kalimat, ia mampu membuatku lemas…

“Kamu pikir lelaki mana yang iklas mengenakan kaos bekas itu?”

Kupikir, saat itu aku sudah mati. Karena ucapannya benar-benar menusuk jantungku di bagian paling dalam. Mata elangnya seakan mematuk dan mencabut nyawaku saat itu juga. Bahuku yang di berati oleh tangannya seakan ingin melesakkan tubuhku ke dalam tanah- hingga lenyap dari pandangannya. Kristal bening mulai mengembun dari ujung mataku.

Aku membeku di hadapannya. Melihat perubahan lagi dari senyum sinis nya menjadi sebuah senyuman hangat yang biasa ku lihat. Tangannya melembut dan mulai merengkuhku, aku masih bergeming, diam. Kakiku tak bisa beranjak saat ia membisikkan,

“Aku hanya bergurau.. “

Darahku melesat ke ubun-ubun. Tidak - tidak ada lagi rasa cinta yang tak terungkap itu. Tidak sudi aku direngkuhnya, aku membuang cintaku bersama kaos vespa biru itu, yang ku lempar ke wajah pria penuh dengan tanya, menanti penjelasan. Ku dorong dia keluar dari pintu gerbangku. Tanpa perkataan apa-apa lagi, aku hanya berkacak pinggang dan bersumpah tidak akan memaafkan gurauannya yang menyentil hatiku, mengoyaknya, meremukkannya menjadi kepingan tak berarti- dan yang seolah sudah mengirimku ke neraka lapis delapan belas…

**
How can you stop the rain falling down ? (Booked the weather man!)
How can you stop sun shinning? (You can't - for sure!)
How can you mend a broken heart ? (.....)

Mullumbimby, 16 November 09

35 comments:

albertus goentoer tjahjadi said...

kalau hanya bergurau... kenapa tidak dimaafkan mbak...? bukankah kaos bergambar vespa biru itu adalah sebentuk perjuangan yang tiada kenal lelah... jadi.. mengapa semua harus berakhir dengan kekecewaan...

Clara said...

pertama, aku setuju sama pendapat mas albertus di atas. yang kedua ada salah ketik nih
"walaupun tahu hanya penolakan yang ia terima." kan dari awal kamu udah pake bahasa aku-kau, kok tiba" ada kata ia? :D
trus yang terakhir, ini cerpenmu kah?

Clara said...

eh, ternyata ke bawahnya juga, ya?
jadi bukan di satu kalimat itu aja ding XD

atau sengaja ya kamu bikin kek gitu?
jadi ada yg pake kamu(kau) terus berikutnya ganti dengan kata -nya.

-Gek- said...

@ Clara : haiahhh dirimu super duper teliti non!!! (Iya, musti konsisten ya, pake kau atau kamu)
btw..., "ia" refers to.. Vespa. :)

@ Mas Cahyadi : saya juga ga ngerti Mas.. kenapa hati rasanya tercabik-cabik.. (*lebay..)

-Gek- said...

@ Clara : kalo pakai "nya" itu variasi - biar dirimu komen 2 kali,, atau mungkin lebih..
Hahahhaa...XD

-Gek- said...

@ Clara : Bukan.. ini hanya "goresan". Cerpenku, bisa dilirik di label "Kisah yang tak bersuara" hehehe.. Mbak Fanny dah sering tuh, mampir ke situ.

(apaan sih aku nye-pam sendiri.. hahahaha!)

Clara said...

wkwkwkkw, jadi kamu mau aku sering" komen ke sini yak...seppp~ dah nanti aku berkunjung ke tempat cerpenmu ^^

btw, ber-oooo dulu, baru ngeh kalo ia itu maksudnya vespa wkwkwkwkwkk

Gogo Caroselle said...

aku ngerti perasaanmu loh gek, beneran de...
cuma, kalo bisa dimaafin aja kali ya,
cowo emg suka gitu si, suka ga peka de...
sabar yah darling....
*hugs*

zujoe said...

mwehehe... apa ini cerpen ttg dirimu??? kalo cerpen aku komennya pasti ga bakalan bener soale ga ngerti cerpen dan menulis... taunya ngetik ngalor ngidul ajah hehe... tapi idenya fresh tuh, kapan ya bikin ttg pembunuhan kek tetangga sebelah tuh hahaha...

Sang Cerpenis bercerita said...

wah, yayangnya iseng banget tuh. hehehe.

Sang Cerpenis bercerita said...

aku juga bisa tersinggung kalo diperlakukan begitu, untung cuma guyonan. tapi terlalu deh....

Anonymous said...

G : cinta tidaklah perlu berujung bunga....penggunaan yang sangat tepat, right words on the right place...hehey

jhoni said...

@joe.....qiqiqiqiqi bener tuh joe kapan ya bikin cerita yang banjir darah kayak si "tetangga" ntu heheheheh

tapi ceritanya bagus gek?!?!? pengalaman pribadi nih........??????

Rin said...

candanya gitu bangeet... :( *membantu mengutip hati -Gek- yang tercabik-cabik*

untung bukan kaosnya yang tercabik-cabik ya mb? :)

vie_three said...

ini cerpenmu, iya niy agak bingung bacanya.... awalnya pake aku-kamu.... kok kebawah ganti -nya.....

-Gek- said...

@ all : semoga para komentator membaca komen ini.. hehehe..
CONFIRMASI :: bukan,, syukurnya ini bukan kisah pribadi saya! Hehehehe.. bukan juga cerpen, ini hanya sebuah KISAH PERUMPAMAAN yang melukiskan isi hati saya. :) (Senyata itukah? hehehehe!)Thanks- saya bersyukur kalian2 sdh mau baca dan komen! :)

@ Vie - 3 & Clara : iya, tapi kalau dipake aku dan kau di bawah,, serasa ga seru. Dan, tidak membingungkan pembaca.. (lhoooo??) Tapi TERIMA KASIH untuk sarannya yaaa...!!!! hugs from Gek.

@ Mba Fan n Rin : ho oh... para pria memang tidak bisa mengerti ke-sensi an wanita.. hehe.

@ Bli Joni dan Zujoe : Adooo pembunuhan? Musti bertapa kaleee sebulan biar bisa buat cerpen kayak enchi dan clara.. btw, enchi ga mampir2 nich.. huhuhuhu, sedih! :(

@ G : Thanks buat kalimat itu, hehe! Hope you like the story. :)

mocca_chi said...

idenya ak suka dan hahaha... yg aku tangkap dri cerita ini adalah, bahwa bekas atau ga,yg penting kita membeirkannya ga seperti dia dalam keadaan bekas itu, namun diperbaiki dan dikemas sedemikian rupa. dan jihaaaa.... ga jaid ah

btw, gek sebelumnya aku jelaskan sesuatu. aku tidak bsa sering2 bewe, kerjaan kadang full sehari walau tetep ol di ym tp bewe butuh konsentrasi waktu baca.jadi maaf klo ak telat bewe ke tempatmu,juga ke tempat clara dan yang lain. hari ini banyak sentilan soal itu,sampe ak mikir ak mu nutup komentar aja ut setiap postingan.

seperti hari ini, aku bewe sekali dan mengusahakan membaca setiap apdetan, hanya it yg bsa ak lakukan ut membalas komentar kalian ut setiap postinganku. maaf ya

-Gek- said...

@ Enchi :: duuuuu, kok jadi sedih begini sih Non..
Santai aja.. kita sabar kok, nunggu komen dari kamu, hehehehe!

Because we love you! xoxo
Cayo BINTANG UTARA...!!

Pohonku Sepi Sendiri said...

ini pasti kisah nyata deh, yg mungkin diplesetkan dikit2.. iya kaannn? hayo, ngakuuu.. hihii..
abisnya, dari awal sdh mengarah pd pengakuan kisah (nyata) yg sangat intim dgn menggunakan 'aku & kau'.. kemudian tiba2 spt menghindar dgn memasukkan 'ia' yg notabene org ketiga..
hahaha.. sotoy neh..
but, it's nice story gek.. really.. :)

-Gek- said...

@ Pohon : waduh.. engga Pohon. Gek tidak pernah mengalami hal ini. Murni, ini benar2 FIKSI. Ada pesan moral yang terkandung di dalamnya, semoga ada yang bisa mengartikannya, tapi.. sejauh ini, para komentator masih meleset, dan saya gembira plus bersyukur.. karena mampu (sedikit) menghanyutkan kalian dengan hayalanku.. hehehe! (*lebay plus narsis*)
Terima kasih udah di baca pohon! :)

Enno said...

aku suka banget naik vespa lho gek...
daripada naik bajaj

hehe

Kang Sugeng said...

gak tau trimakasih banget sih Gek, uda susah2 dibeliin, panas-panas dicuciin, eeeee... jawabannya malah kayak gitu, hargai dikit kenapa, paling gak bilang makasihlah

bhogey said...

halah ta baca serius2 ternyata bukan kisahnya taa,hhaa
but keren,,,

Anonymous said...

G : true story or 50:50?

suguh k said...

ini kisah nyata ya ? klo kisah nyata tragis banget...karena yang penting tuh kata q niat memberinya bukan nilainnya...bener ka gek

Itik Bali said...

Bergurau yang keterlaluan ya Mbak..
sampe tersinggung begitu..
tapi nanti juga bakalan reda, soalnya masih ada cinta

Cinta selalu bisa memaafkan kan?

-Gek- said...

@ Enno : hihihi, biar ga desek2an ya mbak? Apalagi kalo pas sebangku sama yang big size..

@ Kang Sugeng : Betul!

@ Bhogey : :) Thanks ya.

@ G & Suguh : 100% FICTION. :)

@ Itik : kok jd terharu bc komenmu geg... bener itu.. (T.T)

becce_lawo said...

mmmhh...perempuan memang sperti itu mbak, ngambek-ngambek minta dibujuk...ha,ha,ha

lha..mbak kan perempuan yk???
kaburrrrrr sebelum di lindas ma vespa..hi,hi,hi

Gusti said...

hi, alow, salam kenal...
jadi seperti bercermin setelah baca cerita'a...
keren ide'a...

ditunggu cerita selanjutnya :D

ninneta said...

hehehehe.... ga kira-kira sih becandanya.... aku juga pasti kayak gitu tuh....

salam kenal ya mba...

Ninneta

SeNjA said...

Gek,..

kisah nyatakah ? hemm,... membuang cinta yg kau rasa krn sebuah gurauan, sayang ??

benarkah,...?

meskipun gurauannya memang sedikit menyebalkan hihihi....

ayoo,teruskan ceritamu lagi shbt...trima ksh untuk pilihan namanya,sedang aku pikirkan ^_*

have a nice day,Gek...

Seti@wan Dirgant@Ra said...

Saya bisa merasakan kekecewaaan itu,... sungguh seorang yang tidak bisa menghargai sebuah pemberian yang tulus.

-Gek- said...

@ All : terima kasih yaa.. semua komennya menyentuh, dan sudah membuka pintu maaf saya lo..

Hidup bloggers! Sering2 nye-pam.. hehe.

Sang Cerpenis bercerita said...

gek, majalah ausindo msih ada kok. namanya jadi Ozindo. tapi gak dpt honor ya. cuma dikasih coklat atau apa gitu.

Sang Cerpenis bercerita said...

majalah ausindo masih ada kok. namanya jadi Ozindo. tapi gak dpt honor ya. cuma dikasih coklat atau barang gitu deh.