Thursday, November 19, 2009

Elegi sebuah kaos (bagian 2)

Kejadian sebelumnya : diintip disini

Perjuangan seorang pria untuk mendekati seorang wanita dengan mengandalkan vespa biru bututnya – namun si wanita tidak jua pernah mau diajak plesir dengan vespa itu. Belum lagi si pria membuat perjuangan si wanita sia-sia dengan gurauannya yang keterlaluan.. Ada apa dengan mereka?

Dan aku masih berdiri di depan pintu gerbang neraka ke delapan belas. Mengatur nafas dan menahan diriku untuk tidak mengambil belati dan menyayatkannya ke dalam nadiku. Inginnya kutikam saja pria itu, agar bisa kulihat, apa ada seonggok cinta untukku di hatinya. Tanganku gemetar menahan amarah – hanya bisa mengenggam bulir embun agar tidak turun dengan menatap bulan yang seolah tersenyum mengejekku.

***
Tidak.
Aku tidak mau baca pesan darinya. Biarkan saja menumpuk di telfon genggamku yang ketinggalan jaman. Biarkan saja dia mengendap disana, sampai banjir pun tidak akan bisa menghanyutkan amarah yang menggelayut di hati.

Lelah.
Lelah juga mengacuhkannya- sudah dua malam minggu tidak mendengar kendaraan butut itu. Sudah lebih dari puluhan pesan di telfon genggamku – ratusan panggilan yang tak terjawab. Namun – mengapa amarah ini tak meluber juga. Malahan kalimat yang dia ucapkan semakin terngiang-ngiang di telinga. Membawa mimpi buruk setiap malam.
Mata beningku lenyap sudah. Hanya ada garis-garis kesedihan disana yang telah terukir sejak kuusir dia dari rumahku. Garis senyuman yang biasanya terlihat jelas, kali ini menghilang. Jangan tanya aku, mengapa bisa begitu.

Menyerah?
Masa aku harus menyerah?? Aku tidak sudi. Aku bukan kumbang, dan dia bukan bunga. Dia yang seharusnya mencariku, dia seharusnya yang terbang ke padaku – walaupun hujan menggugurkanku, angin meniupku ke pelosok terjal – seharusnya dia bisa datang padaku. Mana ada takdir yang menciptakan sebuah bunga yang tiba-tiba mempunyai sayap dan terbang ke langit biru – bertanya kepada awan – hingga kepanasan dicaci oleh Matahari yang mengingatkan “Bukanlah bunga hinggapi Kumbang….!” Aku terpaku nelangsa ..

Sampai akhirnya terdengar olehku – suara vespa birunya yang membuat telingaku marah – dan asapnya jelas mampu membuatku sesak dalam sedetik.

Namun kupaksakan diri untuk keluar – menemuimu. Ingin tahu lagi, seberapa jauh usaha kita untuk memperbaiki hubungan ini. Langkahku gontai, sisa amarah masih tampak jelas dalam sudut hati – namun rasa rindu mengetuk-ngetuk pintu maaf ku.

Dia berdiri disana – tidak, aku tidak berlari lagi melainkan berjalan lambat-lambat. Tanpa senyum. Dia menatap mataku – yang mampu membuat jantungku tertikam. Ah, cinta – selalu menyakitkan, pikirku.

Hei, dia mengenakan baju kaos itu.. Baju kaos bekas bergambar sebuah vespa biru yang kucari susah payah penuh perjuangan, yang hanya mendapatkan sebuah gurauan setajam sembilu tanpa terima kasih. Kembali aku rasakan ketukan halus pada pintu maaf di sudut hati.

Dia tidak berbicara sepatah katapun, digamitnya kedua tanganku dan menyelipkan selembar kertas. Lalu pria itu mundur selangkah, memberiku waktu untuk membaca tulisan cakar ayamnya yang tergores dengan lugu dan lugas…

Memang aku punya vespa buntut yang berisik dan asap mengepul dari lubang knalpotnya yang kecil, tapi aku dak gengsi kok pakai baju bekas yang hanya beli di loakan,apa lagi sudah dicuci seperti baru lagi. Aku pakai lebih nyaman dan wangi,daripada aku pakai baju baru kalo tidak nyaman dipakai, buat apa?


Aku tau vespa butut ku buat kamu sesak nafas, dan bisa membuat asma mu kambuh tapi kamu sadari juga kalo vespa ku itu sangat berjuang untuk mendapatkan sebuah cinta yang tak pernah kita ungkap.


Aku akan memakai baju bekas bergambar vespa biru itu seperti separuh nyawaku dan semoga hanya maut yang bisa memisahkan aku dengan baju bekas itu.”


Aku tak tahan untuk tidak tersenyum atau tidak menangis. Aku lakukan saja keduanya. Dia telah membawakan kunci pintu maaf untuk hatiku dan membukanya dengan apik walaupun sedikit berlebihan. Dia menyadarkanku kalau aku mencintainya – karena hanya cinta yang selalu mampu memberikan maaf..

Belum sempat membaca ulang sederetan kalimat lugu miliknya – Dia berbisik tegas di telingaku..


“Will you be my girl friend?”

24 comments:

Rin said...

wiieeey..
endingnya soo sweeeeeeet... ^^

christie said...

dan dengan 3 kata, aku akan menjawab "yes, i will"
ihh..merinding ah, klo dibisikin kya gitu. :)

-Gek- said...

@ Rin : makasii Nona manis dan baik hati yg mau bagikan Award sama akuuu.. huks huks (T.T) terharuuu..

Clara said...

so sweeeetttt....
biar gengsi" tuh cewek suka juga ya sama si cowok vespa XD

Sang Cerpenis bercerita said...

jadi itu toh asal muasalnya kalian jadian hehehe? kok ditanya lagi mau gak jadi pacarku? bukannya dah pacaran.

Sigit Purwanto said...

mau dunk...hehe
lagi berkhayal nih, indahnya menjadi tokoh dalam goresanmu itu mb..

t.e.3.k.4 said...

*binar* so sweet gek endingnya...

*masih berbinar*

anindyarahadi said...

maniiiis banget. sosuit.. ini cerita apa curhat colongan ya mbak?? sori, ini aku udah pasang link ke blog mbak^^

Seti@wan Dirgant@Ra said...

Aku baru tahu ada nereka ke delapan belas.

Seti@wan Dirgant@Ra said...

Endingnya so sweet khan???

Moga aja kisahnya makin indah.

Bandit Pangaratto™ said...

hahaha


abndit suka cerita romantisnya...
bandit suka cara berceritanya... baru dan segar... heheheh

Ayas Tasli Wiguna said...

1. aku ngga' ada vespa
2. aku bukan dia
3. berhentilah mengharapkanku
4. ini embernya, silahkan muntah!

Pohonku Sepi Sendiri said...

hmm, sampe 2 minggu ya marahnya.. fiuh, keteguhan wanita, yang lebih mendominasi daripada ego & emosi, memang tak terkalahkan..
remember some manga's dialog, saying.. 'they're only women, but they're too strong'

ah.. *termenung*
memory remain.. :(

aaslamdunk said...

wah, gebetanku juga lagi nunggu nih ucapana " would you be my girl friend"
tapai belum bisa ketemu hehehe
nanti kalo ketemu akan langsung kuungkap
tapi gak pake vespa, aku pake supra vit hitam aja deh yang irit hehehee

aaslamdunk said...

diterima gak ya>?
coz 2 hari ini kayanya lost contact setelah 2 minggu akrab banget

jhoni said...

saya pernah coba mesra2an gini ma istri saya!!!......saya coba berbisik sambil bilang;
"maukah kamu menjadi pacar saya.......????"

istri saya ngejawab;
"kamu kesambet ya?...kita kan udah nikah!?!?"

katanya tanpa dosa......jangan tiru kita bedua ya gek nanti kalo dah punya pasangan!!!!!qiqiqiqiqiqi

mocca_chi said...

hmmm... sentuhan fisik dan nyata membuat semua kebekuan luber, hmm.. memang benar kok. tapi ak ga akan kuat diem2an sampe dua minggu :P

secangkir teh dan sekerat roti said...

pertanyaannya buat saya ato siapa niih...


???
celingak celinguk liat orang2 disekitar....

Ra-Kun said...

boleh dicontek nih.... :)

yans'dalamjeda' said...

kaos dan cinta, bersama vespa butut melahirkan rasa yang dalam. Ck...ck..ck...

ninneta said...

aku pasti lututnya gemeter deh di bisikin gitu... hihihihihihi... apalagi kalo Anang yang bisikin.... *ngarep* hukhukhuk....

Gusti said...

happy ending, penulis senang, pembaca senang, tapi... ada tapi'a nie gek... :D

tapi knp ga dari dulu yak kenal ma gek, ceritanya keren2 smua...

keep posting, can't wait your next post... :)

SeNjA said...

waaahhh,.... indahnya gek *_*

happy ending nih hehe,...
tapi gek,ngomong2 ini kisah nyata dirimu atau bukan ? jadi penasaran nih ...

jawab ya bu guru ...

-Gek- said...

@ Senja dan untuk semuanya.. ::

Terima kasih banget sudah baca, dan sampe agak sedikit ge er, karena terus-terusan dibilang kisah nyata.. hehehe.

Sungguh (berani sumpah nich) kisah ini murni khayalan fantasi saya belaka. Tokoh-tokohnya (seperti yg dibilang oleh Sigit) semua itu fiksi.

Kisah ini adalah sebuah kisah perumpamaan. Maknanya? Hmm.. hanya saya dan Yang Punya Cerita (GOD) dan.. my rainbow yang tau.
Saya hanya tukang ketik..
Terima kasih untuk pujian nya!
Semangat nulis - salam bloggers!!