Sunday, February 28, 2010

Djarum BLACK, bertindak?


Ada berita di surat kabar Kompas via internet yang mengusik hati saya untuk membuat artikel ini, yaitu soal perselisihan antara Indonesian Tobacco Control Network (ITCN) dengan Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI).
Menurut info yang saya baca perselisihan ini disebabkan oleh akan adanya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang pengamanan produk tembakau sebagai zat adiktif bagi kesehatan.

Tentunya para readers tau sendiri kan, kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatan, betul? Bahkan perokok pasif – hanya pencium asap rokoknya saja bisa terkena penyakit yang sama dengan para perokok itu sendiri.
Masalah tembakau dianggap zat adiktif itu, tentulah merupakan keputusan individu masing-masing. Apakah ingin setiap hari merokok satu batang – atau satu bungkus, itu murni pilihan mereka – dengan kesehatan mereka sebagai resiko.
Namun, beda pendapat ini justru terjadi karena adanya iklan dari Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) yang menolak Rancangan Peraturan Pemerintah tersebut dengan alasan bahwa petani tembakau akan merugi dan bangkrut.
Opini mereka (AMTI) ini ditolak mentah-mentah oleh Kartono Mohammad, yaitu Wakil Ketua Tobacco Control Support Center (TCSC) yang melarang pihak industri rokok untuk campur tangan dalam pembuatan RPP tentang pengamanan produk tembakau tersebut.
Beliau menambahkan, petani tembakau tidak akan merugi, karena selama ini mereka malah menjadi korban. Loh, kok bisa?
Ternyata eh ternyata.., menurut data yang di dapat di Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun belakangan ini adalah peningkatan keuntungan yang sangat tajam pada industri rokok, dan penurunan drastis pada hasil panen pertanian tembakau di Indonesia. Di sisi lain, ditemukan data impor daun tembakau dari luar Indonesia dan juga dari Negara Singapura dengan jumlah yang lumayan.. Ya ampun!
Ini tentu saja menggugah rasa ingin tahu saya, mengapa impor tembakau ini bisa terjadi. Saya yakin kualitas tembakau kita sendiri sangat bagus untuk melahirkan rokok-rokok yang berkualitas tinggi seperti rokok-rokok yang diproduksi oleh PT.Djarum Black, seperti Djarum Black Menthol dan Djarum Black Slimz yang masih laris manis di pasaran. Sewaktu saya tinggal di luar negeri selama setahun, saya melihat bahwa produk ini juga diterima oleh masyarakat internasional, lho!
Pertanyaan saya lagi.. siapa kah industri rokok yang menyelipkan produk impor pada produk rokok mereka?? Celah ini tentu saja memberikan angin segar pada cukong-cukong impor maupun cukong-cukong dalam negeri yang membeli tembakau dengan harga murah pada petani tembakau kita – kemudian menjualnya dengan harga tinggi pada industri rokok, sungguh ironi!
Lalu, siapa yang akan menyelesaikan perselisihan ini? Pihak pemerintah atau industri rokok? Wah, saya pun tidak tahu jawabannya –saya hanya bisa berpendapat, seharusnya kita harus lebih mencintai produk dalam negeri sehingga masalah adu pendapat ini tidak akan terjadi.
Mari kita cintai produk dalam negeri, dari sekarang!
___
Sumber berita : Kompas.com 25 Februari 2010
-         Gek  -

5 comments:

SeNjA said...

pertamaxxxxx...........YESS

SeNjA said...

merokok,..gak,tapi perokok pasif ? iya...hiksss....

sering kali kita harus ada dalam kondisi menjadi perokok pasif :(

apa kabar gek ??

Kholil Aziz said...

semoga sesuai harapan kawan

mocca_chi said...

yg jelas yg nyeleseiannya bukan ak, bukan juga yg nulis berita. yg nyelesin waktu, atau malah ga slese slese

Elsa said...

oooooooooo...
gitu ya ceritanya.