Sunday, February 28, 2010

Benang HITAM



Beberapa waktu yang lalu, kekasih saya bertugas di Pulau Nusa Penida untuk melakukan perjalanan spiritual ke salah satu pura yang terkenal disana. Sepulang dari pura tersebut dia membawakan saya tanda mata yaitu benang hitam, merah, dan putih. Benang ini cukup panjang, sehingga harus diikatkan dua kali pada pergelangan tangan saya, dan waktu saya mau memotong sisanya – agar terlihat lebih rapi, kekasih saya malah sedikit marah. Dia bilang “Gek, ini pendetanya sendiri yang menganjurkan agar sisa benang tidak dipotong.” Karena ternyata prosedur yang benar memang begitu. Saya sih cuma manggut-manggut aja, 
 
Benang Tridatu

Para Black Community yang berada di Bali dan yang memeluk agama Hindu tentunya tidak asing pada benang paduan warna hitam, merah, dan putih yang disebut Benang Tridatu. Mungkin kalian akan bertanya-tanya ya, Benang Tridatu, pentingnya apa?
Penting sekali bagi saya, dan para umat Hindu yang ada di Bali – pada khususnya. Benang yang terdiri dari tiga warna ini melambangkan tiga Dewa yang esensial dalam agama Hindu. Dewa pertama adalah Dewa Brahma. Beliau adalah Dewa pencipta yang dilambangkan dengan warna merah. Dewa kedua, adalah Dewa Wisnu. Dewa pemelihara ini selalu dilambangkan dengan warna hitam. Dewa ketiga adalah Dewa Siwa atau Iswara sebagai dewa pelebur yang dilambangkan dengan warna putih. Ketiga dewa ini juga disebut-sebut sebagai Dewa Tri Murti. 
 
Dewa Brahma - Dewa Wisnu - Dewa Siwa
(Trimurti)

Apabila kita perhatikan fungsinya, yaitu pencipta-pemelihara-dan pelebur, ketiga hal itu adalah siklus kehidupan yang tidak pernah terputus, lahir-hidup-dan mati. Lalu saya berpikir.. oh.. pantas saja benang itu tidak boleh saya potong – karena siklus hidup tidaklah terputus, akan terus bergulir dan berputar.
Maka dari itu, apabila seseorang telah mengenakan benang tridatu ini, dia bisa merasakan bahwa ia dilindungi oleh Ketiga Dewa Trimurti tersebut. Disamping itu, benang hitam-merah-putih ini juga berusaha mengingatkan umatnya agar selalu ingat untuk beribadah dan bersyukur.
Dan saya pun bertanya-tanya pada pemilihan warna yang digunakan Djarum Black, bukankah logonya juga menggunakan ketiga warna itu yaitu hitam-merah-dan putih?  
Well, who knows? : )
-         Gek  -

13 comments:

Anonymous said...

Gie - postingan sporadis, ngebut bener

kebookyut said...

keboo kemaren batal ke nusa... huhuhu...
padahal itu kan kampungnya keboo. eheh

Henny Y.Wijaya said...

gelangnya unik tuh mbak. coba bawa banyak, biar henny bisa minta sekalian :p

Ellious Grinsant said...

hihihi, bisa aja deh mbak gek nyambung2in ke Djarum Black, hahaha....

Sigit Purwanto said...

kreatif yang bikin gelang..hehe
semakin semarak..

Piet Puu said...

wew.. keren tuh teh gelangnya... piet ga nolah klo di kasih.. hehehe (NGarep Mode On)
heee tethku yang baik piet punya AWARD buad teteh, silahkan di cek di TKP ^^

http://laskar-anesachipiet.blogspot.com/2010/02/award-handshake-berbacklink.html

FaiS said...

mantab tu geLang...

Sang Cerpenis bercerita said...

tks Gek. saya jadi tahu deh ttg hal ini.

Clara said...

ohh~ ada ya benang yang melambangkan dewa trimurti itu...baru tau aku

Alrezamittariq said...

mantap...semoga menang gek,,

wah ketinggalan kereta nih...komennya...setelah long wikend yang emang long...hehehe...

Rubiyanto said...

keren nih, artikelnya, kayaknya bakalan seru kalo ikutan kompetisi blognya....

Elsa said...

gelang keren itu ternyata punya makna yang sangat dalam ya?
religius juga...
wah keren tuh
baru ngerti sekarang

Sang Cerpenis bercerita said...

saya sudah vote ya, gek. bagi saya tulisanmu keren kok walau lagi ngikutin lomba. moga menang ya