Friday, October 12, 2012

(4) Tears...



I do everything to make you mine.
But you don’t choose to be mine.
*** 

Hubungan saya dengan Mr. Girrafe merenggang setelah kejadian Miss Indah. Akhirnya saya menyadari, dia bukan milik saya seorang, dia bukan hanya memperhatikan saya, tapi … hati saya sudah jadi miliknya.
Lalu bagaimana? Kalau dia tidak jadi milikku, siapkah aku patah hati?

Saya berusaha mencuri perhatiannya. Menelfonnya.. (sudah mulai memberanikan diri)

Tapi ada yang berubah dengan suaranya. 

Biasanya kami tidak pernah kehabisan bahan bercerita saat dia menelfonku hingga 45 menit lamanya, bahkan kadang satu jam terasa kurang. 

Dunia berbalik saat dia mendengar suara saya. Ceria itu hilang, dan saya  tau, dia tidak mengharapkan telefon saya. 

Saat itu, dia sedang keranjingan latihan bola basket – dan juga keranjingan adik kelas… hell yeah, new comers.. pasti dia banyak cuci mata, selama ospek. Dan saya yakin pula, banyak adik kelas menaruh hati kepadanya.. 

Sampai suatu ketika, teman saya berbaik hati menyampaikan kabar.. 

Mr. Giraffe got a girl friend…!!

“No…! You’ve got to be kidding me!” jerit saya pada teman saya. 

Teman saya menggelengkan kepalanya keras-keras. “Percaya aku, Gek – sebelum kamu patah hati!”

Patah hati? Ah. Saya tidak percaya itu. Saya harus dengar sendiri dari mulutnya! 
 (Lagi-lagi) itu tekad saya. 

Saking nekadnya, saya mencuri-curi kunci sepeda motor ayah saya dan pergi ngeloyor ke GOR Ngurah Rai – demi Mr. Giraffe. Saya tidak punya SIM C saat itu, and.. 

I was only 13 years old! Adrenaline cinta memang luar biasa. : )

Saya duduk di salah satu kursi panjang dan melihatnya yang bersimbah keringat, bermain basket di ruangan tertutup.
 He looks so hot. I want him so bad.

 Hari itu,saya bertekad.. (tekad terus nieh!)
 I’ll shoot him. I’ll tell him my feeling – and he will be mine. Was it that easy? 

SMP kami menang seperti biasa. Mr. Giraffe and the team was the strongest – at that moment. 
Saya hanya duduk dan memandangnya. 
Saya juga memandang sekeliling-
 kalau-kalau gadis yang sedang digosipkan berpacaran dengannya di situ...

Kiri – Kanan – Bawah- Atas… CLEAR. 

Saya bisa bernafas dengan lega. Tanpa sadar saya tersenyum ke arahnya, dan dia membalas senyum saya. Dia pun menaiki tangga, keluar dari lapangan dan duduk di sebelah saya. 
Dekat. 
Tanpa batas. 
Saya bisa rasakan lututnya yang masih basah oleh keringat yang  menempel di bagian samping kaki saya. 

“Nih” saya menyodorinya minuman dingin kesukaannya. Dia tersenyum, menatap mata saya dengan jarak pandang 3 cm. I was hoping he didn’t see that I was blushing.
 
“Makasiii Gek, kamu baikkkk sekali.” Ujarnya sambil mengacak-acak rambut saya. 

“Hei, aku mau Tanya sesuatu…” (My heart was beating… )

“Go ahead, honey..” senyumnya lagi…  (My heart was beating faster… and faster…)

“Benar kamu pacaran sama adik kelas?” tanyaku sambil tersenyum. Saya berharap  jawabannya… 

1.       Ahhh, itu bohong!
2.       Gosip dari mana? Murahan amat.
3.       Buat apa cari pacar? You are here.. (jawaban menghayal)

Dia hanya memandangku lekat dan menjawab, “Iya, benar. Kok tau, Gek?”

Deg! 

Spontan saya menggeser tempat duduk. Shocked. Speechless.
*** 

I went home in tears.
I was having a broken heart… 

-to be continued-

4 comments:

Fajar said...

wuiih.. streaming..nih.ya..gek..he.he.. sip..sip.. kalau kata Guns N'Roses nih.. Patience..

IrmaSenja said...

Dan,...Gek slalu bisa membuat tulisan atau cerita nyata ini menjadi begitu tampak nyata bagi pembacanya.

Akhh, jd inget masa2 culun ituh ^^

Trima ksh suportnya di blog ku gek, aku tahu,...doa akan mengalahkan segalanya, rasa sakit dan takut. *hug*

Sang Cerpenis bercerita said...

hah. 13 tahun. astaga...bener2 cinta momon deh. hehee

vie_three said...

huuu..... jadi kayak ngeliat sinetron cookies. xixixixi