Sunday, January 31, 2010

Setelan Jas Hitam


Sebelum memulai postingan ini, saya ingin bertanya bagi para readers, apa pendapat kalian apabila kalian melihat orang menggunakan setelan jas hitam?
Kalau menurut saya sih, pasti terlihat elegan, mewah, dan terkesan sangat berpendidikan. Setelan jas hitam ini sekarang sedang populer digunakan oleh profesi yang juga “selalu” naik daun di Indonesia, yaitu, pengacara!

Coba, saya ingin tahu, seberapa banyak Black Community di Bali atau di Indonesia yang memilih jurusan hukum waktu belajar di universitas?  (sepertinya banyak yang angkat tangan neh… : ) )
Waktu saya SMA dulu, hampir 80 persen dari teman saya memilih jurusan hukum! Itu ‘sih, hak mereka sepenuhnya, tetapi tidak adil juga kalau teman-teman saya malah tertawa terbahak-bahak ketika saya mengatakan, saya memilih jurusan untuk menjadi guru. Mereka mengatakan saya kampungan dan menyia-nyiakan bakat saya. Lah, saya yang bingung. Teman-teman saya memilih jurusan MIPA waktu SMA, lalu setelah lulus SMA ramai-ramai memilih jurusan  hukum, hanya karena ikut-ikutan saja? Masa depan ‘kok ikut-ikutan teman, memangnya teman yang menjamin masa depan kita?
Saya jadi ingat bertemu dengan teman pria- teman SMA saya dulu, pada pembukaan cabang toko roti terkenal di Denpasar Junction malam minggu lalu. Nama panggilannya Komang, Penampilannya jelas mencolok, bersetelan jas hitam dengan rambut licin, terlihat mencuat bungkus rokok Djarum Black di saku jas nya. Di saku kemeja putihnya, tersembul Blackberry keluaran terbaru. Wuih.. saya sampai pangling!
Kami duduk bersebelahan dan menikmati kopi latte kesukaan saya. Saya menanyakan profesinya sekarang, dan dengan gamblang dia mengatakan dia sudah menjadi seorang pengacara. Saya pun jadi iseng bertanya, “Wah, kalau jadi pengacara musti pakai setelan jas hitam, meskipun malam minggu yak?”
“Yah, kan sudah seharusnya aku berpenampilan professional, kalau tidak begitu sepi order!” Loh… saya jadi terkejut mendengar kalimatnya itu. Secara tidak langsung Komang juga bercerita tentang gaya hidup mewahnya sekarang. Musti naik mobil mewah, facial wajah, ke salon kecantikan.. aih.. secara dia cowok gitu loh! Belum lagi semua kegiatan itu harus merogoh kocek yang sangat-sangat-sangat dalam bagi dia, pake acara pinjam duit ke Bank segala!!!
Mirisnya, hanya untuk memenuhi tuntutan publik, belum tentu ia mendapat klien yang sesuai- maksud sesuai, adalah klien yang mampu membayarnya mahal! Saya malah jadi punya perasaan tidak enak, apabila dia sampai jadi “mafia hukum”, yaitu orang-orang yang bergerak di bidang hukum, membela yang salah apabila bayaran mencukupi- dan mencekik kebenaran yang sejati hanya karena kebutuhan hidup yang tidak riil dan nafsu duniawi yang mengalahkan nurani.
“Seharusnya, kamu belajar prihatin sedikit, Mang..” ujar saya sambil menyantap donat gula kesukaan saya.
“Prihatin?” ujar Komang heran sambil mengerutkan alisnya.
“Tidak usahlah memaksakan kehidupan bergaya mewah, toleh kenyataan. Lihat keadaan di bawah Mang, jangan melihat ke atas terus.. kamu tidak akan pernah puas.” Ujar saya sambil mengaduk kopi saya yang sebenarnya sudah tanpa gula.
Pria baya itu menghisap rokok Djarum Black Menthol nya dalam-dalam sebelum menanggapi kalimat saya – sampai rokok pun, dia pilih yang benar-benar memiliki kualitas dan nama yang berkelas di masyarakat. Padahal seingat saya, dulu saya sering pergoki dia melinting sendiri rokoknya dari tembakau yang ia beli di pasar. Sungguh berubah.  
“Kehidupan mewah itu hanya untuk eksistansi sekaligus popularitas saya, Gek. Saya mau publik melihat, bahwa saya benar-benar pengacara bonafide yang serius membela klien-klien saya.” Ujarnya tenang.
“Tapi Mang, kalau kamu adalah pengacara handal dan berkualitas, aku percaya, para klien akan datang dengan sendirinya, untuk memakai jasamu, bukan kemewahanmu.” Protes saya.
Komang hanya tersenyum simpul mendengar protes saya, sambil memegang bahu saya, dia hanya berkata, “Sudahlah Gek, sudah terlanjur.” Mungkin tak tahan dengan perkataan saya, beberapa menit kemudian, diapun melenggang dengan alasan ada kasus yang harus ia selesaikan malam itu juga.
Saya masih duduk dan menyeruput sisa-sisa kopi latte saya, berharap keberadaan Komang dan para pengacara lainnya di seluruh Indonesia mampu memperbaiki keadaan hukum yang sedang karut-marut di Negara kita ini ya…
Semoga!
 - Gek -

34 comments:

Zahra Lathifa said...

yups! nasehat kamu buat Komang mengena gek..untuk apa kita harus memaksakan diri, just be your self..
daku baik2 saja cantiikk...hanya sedikit sibuk :-)

Ivan Kavalera said...

Berjalan apa adanya..

Seti@wan Dirgant@Ra said...

Dulu waktu kuliah, banyak pilih jurusan yang beragam. Tapi setelah tamat rata2 lanjut untuk mendapat akta mengajar.
Saya bangga sudah memilih profesi Guru.

7 taman langit said...

salam sejahtera
saya juga berharap
semoga pengacara di Indonesia dapat memperbaiki hukum

blogger bumi lasinrang said...

salam sejahtera
jadi pengacara memang hebat

lingkar cincin said...

salam hangat
salam kenal

minomino said...

jadi inget...
bahkan GURU saya sendiri pernah bilang,"ga usahlah jadi guru,gajinya kecil"...
kalau cuma uang yg dicari memang tidak seberapa. tapi semua orang toh berhak memilih, tanpa harus didoktrin seperti itu...

dan saya justru penasaran,
pilihan studi pun jatuh ke jurusan pendidikan :)

semangat mbak!hidup guru! (loh?)

Henny Y.Wijaya said...

ternyata yang memilih jurusan hukum juga banyak ya? henny pikir yang paling banyak pilih ekonomi :p

BrenciA KerenS said...

Setau ak sih emang dimana2 kalo make jasa pengacara itu pasti mahal...

Ok banget nih nembak kiwotnya.

BrenciA KerenS said...

Setau ak sih emang dimana2 kalo make jasa pengacara itu pasti mahal...

Ok banget nih nembak kiwotnya.

Syifa Ahira said...

segitu amat yak si komeng eh si komang buat narik klien.. sampe pinjam bank segala.. hihi..
pengacara2 kondang juga ga ganteng2 amat..
kalo penampilan ala pengacara kelas atas, tapi kerja ga becus sama aja boong..

Alrezamittariq said...

kalo liat jas hitam???mmmm inget Men In Black aja...hahahaha

munir ardi said...

aku lihat stelan jas hitam malah ingat film mandarin para mafia yang sukanya berperang, kenapa ya

simple world said...

black sure elegant and looks handsome

Sang Cerpenis bercerita said...

wah, kalo aku masuk hukum krn dorongan papa dan krn gak suka math. tapi memang kehidupan pengacara tuh kdg glamour. krn mereka harus berhadapan dg orang2 jetset. tapi lihat2 juga sih. spt apa kliennya. ada juga yg biasa2 aja. kalo soal jas hitam, gak selalu deh. sekarang byk yg cuma pake kemeja dilengkapi dasi.

Gusti said...

wah gek hebat..!!!
bisa menggurui pengacara hihihi...
gek emang guru yang hebat... :)

Fais cWaKep said...

kaLau aku sich dari dLu pngen mengenakan jas hitam biar keren...
Aku jadi inget w'tu itu kLas 1 SMP ikut festivaL musik yg tiap peserta dpat 7 bungkus rokok Djarum Black Capuccino,..
wLw pun ga' juara tp rasa rokok'y nenengin pikiran asyk dech...
(jgn ngadu ya ma ortuku kLo aku meroko)
heheheee

Ayas Tasli Wiguna said...

aku suka jas hitam meski bukan anak hukum,, aku ngga' mau di hukum.. sumpah!

Kang Sugeng said...

Kang Sugeng udah nyerah Gek sama konter djarum ini, malees...

sibaho way said...

jas hitam? ingat MIB: man in black :D

Ellious Grinsant said...

baru tahu, emang gitu ya kalo pengacara kemana-mana harus pake jas. Nggak heran juga sih, di tipi-tipi banyak juga pengacara artis yang necis, hehehe...

SeNjA said...

jas hitam,..pasti elegan dan keren ^^
tapi kalo memaksakan diri dan jadi mafia hukum ??? hemm,..gak deh

Noor's blog (inside of me ) said...

Ya...semoga saja Komang dan kawan2 dapat memperbaiki hukum di Indonesia agar lebih adil....

Piet Puu said...

knapa harus HUKUM teh...???
napa ga DOKTER SPESIALIS JIWA...???
pit pengen banged jadi Dokter Spesialis Jiwa...

semakin hari Tanah Air dan Tanah Blogger di gemparkan dengan nuansa yang kelam... bagai BLACK CLOUD...
klo kita bisa WHITE CLOUD...
itu lebih baik...
setidaknya mengurangi asap pekat...
layaknya BLACK HOLE...


hahahaha :))
pit jadi posting di komentar teteh...
hhehee :D

Ali Mas'adi said...

bagi mereka yg merasa tersinggung.. smoga lekas sadar..

JHONI said...

saya memaki jas hanya saat saya wisuda dan menikah, itupun bukan yang berwarna hitam........kata orang terlihat ganteng!!! hehehehehehe

memaksakan diri untuk mendapat hasil yang maksimal mungkin adalah hal yang baik untuk melatih diri asalkan proses dilakukan dengan baik pula!!!

Elsa said...

MEN IN BLACK!!!

pasti MEN IN BLACK!!!!


:P

richo said...

ayooo mampir........

mocca_chi said...

menurutku, cara terbaik ut mencair pelanggan itu ut tiap profesi berbeda gek, klo menurut si komang begitu, mungkin cara dia emmang begitu...

Clara said...

temenku masuk jurusan hukum tapi keluar gara" ga kuat di sana

attayaya said...

ayo menangkan Black

sewa mobil said...

iklan rokok yah

tour ke china said...

i love black
black komunitas

aaSlamDunk said...

pernah liat acara take him out kan gek?
tu si choki elegan banget pake jas item