Wednesday, June 2, 2010

TOPENG



“Bukannya hubunganmu baik-baik saja?” komentar lelaki di depanku yang berhenti mengunyah makan malamnya setelah mendegar ungkapan isi hatiku. Matanya yang bening itu seolah menembus jantungku yang selama ini tidak pernah berkata yang sejujurnya padanya.
Aku hanya menggeleng lemah. Aku tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya, sambil mengaduk-aduk makanan di depanku yang sudah tak terkecap rasa apapun oleh indra pengecapku yang ikut kelu.
Bagaimana mungkin baik-baik saja? Telfon dari orang itu, yang biasanya sangat rutin, dua atau tiga kali seminggu, tidak pernah lagi menggangguku. Tidak ada komen-komen pada status atau coretan di dinding facebookku – walaupun aku tau, dengan HP Blackberry nya itu, dia biasanya online 24 jam. Sms pun tak pernah dikirimkannya lagi, padahal kami sering berceloteh tentang hal apapun melalui sms. Tentang suami orang itu, tentang anak lelakinya, atau tentang pria idaman lain yang mencoba membuka kembali hatinya yang sempat beku. Jangankan bertanya kabar, sms resmi seperti selamat hari raya pun, tak satupun ada dalam handphone ku.
Ah, entahlah. Semua berubah begitu mudahnya seperti membalikkan telapak tangan. Hubungan yang sangat erat menjadi sangat jauh. Bahan obrolan yang panjang dan lama, menjadi beku – hanya kesunyian yang kurasakan sekarang. Senyumnya pun, tak pernah ku lihat setulus yang dulu. Ada luka di matanya, ada perih di hatinya, dan itu semua disebabkan olehku. Iya, oleh perubahan statusku. Dari seorang gadis kecil menjadi istri orang – bahkan calon ibu, sebentar lagi…
Aku tak tahu bagaimana membuat hubungan kami menghangat kembali. Aku tak punya ide bagaimana lagi menyembunyikan rasa rindu mendalam padanya. Aku sadar, dia sering menyakitiku.. lagi dan lagi. Aku tahu, aku selalu mengalah dari dulu hingga sekarang. Aku tahu, aku selalu bermuka dua, mengatakan hal-hal yang tak kusuka pada dirinya kehadapan keluargaku, yang terang-terang membencinya.. Namun, itupun tak setiap waktu kulakukan. Aku mengerti.. ini semua murni kesalahanku.
“Tapi, kamu tidak pernah mengatakan galau itu selama ini, sayang..” ucapan pria itu, menghapuskan semua isi dalam pikiranku. Aku menghirup udara sedalam mungkin. Mencoba menahan bulir air yang sudah di ujung mata.
“Seumur hidupku, sayang.. aku selalu memakai topeng. Kamu tahu itu?” jawabku lugas. Tanpa meminta komentar dari lelaki itu, aku melanjutkan lagi pernyataanku. “Aku selalu tampak bahagia di mata semua orang, aku selalu memasang topeng tersenyum, walaupun hatiku tercabik, aku selalu menangis sendiri di tengah malam saat tersakiti olehnya.. Apa dia tahu, apa dia pernah rasa?“ Aku mencoba bernafas kembali, berusaha sekali menahan agar tidak menangis di depan orang yang sangat kucintai. Aku tidak mau dia terluka karena melihatku, cengeng. Iya, cengeng!
“Aku bisa merasakannya, sayang. Dia sudah membangun jarak yang begitu jauh dari hatinya – padahal jarak kami begitu dekat.” Lelaki itu hanya menghela nafas.
“Kamu tahu, aku tidak akan membiarkannya mencercamu lagi seperti binatang, layaknya kamu orang terhina di dunia. Kamu istriku, dan biarkanlah dia menjadi dewasa. “ Ujarnya sambil menggenggam tanganku erat.
“Tapi, apa yang harus aku lakukan??” Ujarku putus asa.
Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada. Satu saat percayalah, dia akan mencarimu. Dia akan sadar dan menjadi dewasa. Namun, kamu harus sabar. sabar, dan sabar, sayang.” Ucapnya lirih.
Aku terdiam. Ingin ku lepas topeng yang memfosil di wajahku ini. Ingin ku buang ia jauh-jauh. Tak ingin aku mengingkari isi hatiku. Aku hanya ingin semuanya berjalan normal kembali, aku hanya ingin hubungan kami :: aku – suamiku – dan dia menjadi baik kembali..
And actually, I JUST need a Mom. My ordinary Mom…
*tears.

My desk, 31 May 2010.

15 comments:

fajar said...

welkambek gek...di dunia persilatan perbloggingan..

Sang Cerpenis bercerita said...

tulisanmu masih mantap, gek.

nietha said...

sabar memang jalan yang terbaik mbak

Ali Mas'adi said...

actually i need u..

minomino said...

wow,
pedih ya,
sampai terasa hingga kemari
semangat :)
'hanya perlu sabar, sabar, dan sabar...'

Isti said...

semoga mendapat yang terbaik...semoga...

mocca_chi said...

hmm.... speecless, :d

sibaho way said...

allizwell... all is well.

btw, sekian lama menghilang, abis melangsungkan pernikahan tho?

JHONI said...

sigh sepertinya kisah ini sedih..............semoga bukan curhat!!!! semangat ya bu!!!!

Lilah said...

Bukan hanya perasaanku tyt kl gek akhir-2 ini tak nampak. Sedang ada apa dgmu? i hope your everything it's okey ..

Munir Ardi said...

nulis jangan sampai terbawa perasaan ya bu bayinya ikut merasakan lo

aaSlamDunk said...

BUSETTT si gek langsung kebut posting nih hehehe
sippp

Anggi Zahriyan said...

Yang sabar aja mbak.. Dibalik ini semua pasti ada buah yg manis.

Itik Bali said...

Sabar ya mbok,
aku terharu bener bacanya
begini ya kehidupan pernikahan itu?

Elsa said...

setua apapun kita
sedewasa apapun kita

tetep saja
akan mencari IBU
kalo ada hal hal diluar kendali kita

kata kata IBU
apa yang dilakukan IBU
atau hanya dekat pada IBU
setidaknya bisa menenangkan kita
membuat kita jadi "jernih" kembali

iya kan Bu Guru Gek?