Wednesday, October 13, 2010

Pertiwi..


Prihatin, prihatin.
Saya sangat prihatin dengan bencana-bencana alam yang terjadi belakangan ini di hampir seluruh bagian Negara di dunia. Jangankan Indonesia, Negara lainnya seperti Bangladesh, China, Australia, tak kuasa juga menahan amukan alam yang marah.
Entah, marah, sedih, atau berduka. Yang jelas semua yang terlihat hanya penderitaan. Belum lagi bencana yang terjadi di Wasior, Papua Barat. Saya tidak pernah menyangka daerah yang sepertinya bebas bencana tersebut malah mendapat banjir bandang, yang saya saksikan di TV seperti tsunami kecil yang meluluhlantakkan sebuah wilayah tanpa ampun.
Selama ini kita selalu tidak perduli pada alam. Kita sebagai manusia selalu serakah, ingin mengeksploitasi alam sebesar-sebesarnya, demi mengeruk keuntungan yang tidak sebanding dengan pengorbanan yang alam lakukan untuk menjaga kita selama ini. Sudah dieksploitasi, dikeruk, dikotori.. sungguh air susu dibalas air tuba!
Apakah ini yang kita mau? Apakah kita belum puas melihat alam marah dan terluka karena ketidakpedulian kita?
Masih terpatri kalimat-kalimat yang sering dielu-elukan di televisi dalam benak saya.
Alam bukanlah sebuah warisan, namun sesuatu yang patut kita jaga untuk kelangsungan hidup kita sendiri.
Semoga tulisan singkat ini mampu menggugah hati kita masing-masing untuk lebih mencintai alam, lebih menghargai alam, dan menjaga alam agar mau tersenyum.. lagi. 

kulihat Ibu pertiwi.. sedang bersusah hati....

20 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

jangankan terhadap alam. lha, kereta api aja ditimpukin..duuh..bener2 moralnya perlu dibenahi.

BABY DIJA said...

Ibu Pertiwinya nangis ya Tante?

Rubiyanto said...

Semoga ibu pertiwi kembali tersenyum ....

isti said...

semoga yang merusak lingkungan membaca ini mba..

kesehaRian Ra-Kun said...

iya, bu guru. saya juga prihatin.

albertus goentoer tjahjadi said...

benar mbak... segala yang terjadi seharusnya bisa mengingatkan kita untuk lebih mencintai alam... alam yang diciptakan bukan hanya untuk kita tetapi yang lebih penting untuk para anak cucu kita kelak...

Gusti said...

butuh sebuah bencana untuk bisa menyadarkan 'manusia'

Bekti said...

Alam memang perlu dipelihara. Kalau cuma dieksploitasi hasilnya lingkungan bisa rusak. Salah satu yang baru digerakkan di solo adalah gerakkan pagar hijau. Jadi sebisanya pagar2 ditanami tanaman merambat, tujuannya supaya mengurangi pemanasan global..

Sang Cerpenis bercerita said...

SORE..MAMPIR...tadi inet lelet bangeet

NDA said...

PPKN kurang mengena kayaknya

pelangi anak said...

ya, betul banget mbak. Alam yang tercipta selama ini, telah memberikan apa yang kita butuhkan. Yang kurang disadari adalah apa yang kita ambil atau kita manfaatkan dari alam tidak sesuai kebutuhan, malah melebihinya. Sudah sepatutnya kita merawat dan menjaga alam ini dari kerusakan, sebagai wujud terimakasih kita.

Agung Pushandaka said...

Ikhlas saja Gek..

Ellious Grinsant said...

Indonesia negeri yang indah, sayangnya kebanyakan pejabatanya tolol semua, ya gini deh jadi ancur.

Sang Cerpenis bercerita said...

updatee..hehehe...apa kabar bumil?

Cominfo said...

greeting from us :)

Cermin Community said...

sayang sekali ya, kawan

Senja said...

miris ya gek kalau melihat wajah negri ini,....duh apa yg akan kita berikan pada anak cucu kita kelak ya,jika alam saja sdh enggan berdamai....

* apa kabar ibu hamil ?

Sang Cerpenis bercerita said...

met malam aja deh..

bliyanbayem said...

yah.. salah kita juga. mengeksplorasi alam secara berlebihan...

anak nelayan said...

menjaga alam agar mau tersenyum..nice post