Thursday, June 3, 2010

Bukan Kaktus!



Tanaman kaktus itu apa sih?
Waktu saya kecil dulu, yang saya tahu tanaman kaktus  itu tanaman khas padang pasir yang praktis dalam perawatannya karena ga perlu air. Ga perlu susah-susah nyiram di pagi hari dan mindahin tanaman itu ke tempat yang teduh sore hari biar ga layu kena matahari. Cocok banget dah.. buat si pemalas tetapi pengen tetep memanjakan mata dengan warna hijau.
Terbelalak juga mata saya waktu pertama kali ngeliat kaktus-kaktus mini di pameran tanaman hias. Dalam otak saya yang dongo sih saya mikir.. “heh.. kaktus  kecil-kecil gini apa ga ketuker ma bakso ye..?” Namun tetap tidak tertarik untuk membeli, karena terlalu praktis untuk dirawat, engga greget gitchu… (intinya sih.. tidak bisa dimakan, tidak bisa dibaui… tidak menimbulkan rasa bahagia di hati.. halah.. lebayyyy)
Kalau dibanding-bandingkan (maksudnya dicari-cari gitu perbandingannya.. a.ka. maksain) ada hubungan yang berkaitan erat antara kaktus dan hati manusia. Ralat. Hati saya, bukan manusia sih.. emangnya saya masih manusia ya? (sepertinya sih begitu.. kok semakin ngawur ajahh.. tidakkkkkkk!!!)
Itu sih celotehan suami saya pada ayah saya kemarin.. yang kalau diibaratkan peluru, wah.. udah nembus ampe di pintu. Pintu? Ho oh, pintu di mana ayah saya berdiri di depannya. Jadi habis jantung, terbitlah daun pintu. Bisa ngebayangin kan kerasnya gimana?
Hal ini berakar dari pernyataan semua orang yang terlanjur mengunderestimate saya kalau saya tidak bisa memasak. Cap LUNAS. Pokoknya dari Nusa Dua ampe Singaraja, dari ujung ketombe ampe ujung jempol di sandal jepit saya, dari tetangga selatan sampe tetangga antar benua tau.. kalo gek itu -à TIDAK BISA MEMASAK. Fiuh.. sedih juga di cap LUNAS begitu sama mereka, ga bisa nawar-nawar apalagi minta kredit, namanya cap LUNAS, apa yang mau dinego lagi cobaaaa???
Bukan tanpa alasan saya “ngambek” dan tidak pernah memasak selama saya tinggal dengan ayah saya. Dengan hidup berdua tanpa Ibu, saya sudah sangath berusaha kuerasss bereksperimen untuk memasak. Namun, beliau tidak pernah puas. Ada…. aja alasannya. Kurang garam, kurang pedas, tanpa terima kasih, tanpa pujian kalau enak, kebanyakan tidak pernah dimakan dan… keseringan bilang, “lumayan”. THAT’S IT !
“Hey.. I’m not a cactus!” teriak saya dalam hati. Dan saat itu juga saya memutuskan untuk tidak memasak! TIDAK MEMASAK! TITIK. CAP LUNAS!
Semenjak menikah, mau tidak mau, saya harus mulai bereksperimen lagi dengan latihan masak-memasak saya. Walaupun saya udah kasi ‘warning’ suami saya. “masakan saya ga enak!” Suami saya biasanya hanya menyambut dengan senyum dan nyeletuk.. “kalau ga mood masak, ya udah…” seraya meninggalkan saya dengan kelonteng-kelonteng di dapur, oseng-oseng disertai bau harum masakan suami saya yang maknyus.. hm…
Sesekali saya memasak, dan dihabiskan semuanya. Semuanya. Maunya masak untuk makan tiga kali, dihabiskan sekaligus, tidak lupa bilang terima kasih sayang.. dan mencium pipi saya mesra. Belum lagi dia selalu bilang masakan saya enak sekali. Walaupun saya protes dengan, “ah, kamu berlebihan, menghibur saja kerjanya.”
Dia tersenyum lagi dan berkata, ”hey.. pede donk! Masakanmu enak sayang, kalau ga enak, kenapa aku makan? Kenapa aku habiskan? Kenapa aku tambah gemuk?”  Saya hanya tersipu. Saya serasa jadi tunas bunga mawar putih kecil yang setiap waktu disirami dengan cinta. Hmmmm..
Sampai tadi pagi, ada kudeta perebutan makanan di dapur. Suami saya yang udah nambah dua piring, bersikeras untuk tambah lagi, dengan alasan masih lapar. Padahal ayah saya juga belum makan, tapi lauk sudah mau habis! Dengan entengnya, suami saya mengambil potongan lauk terakhir tanpa memberikan kesempatan pada ayah saya untuk mencicipi masakan saya.
“Eh.. saya habiskan Pak. Gek masaknya eksklusif. Hanya kepada yang menghargai.” Ujar suami saya enteng sambil kunyah-kunyah tak berdosa. Meninggalkan piring kosong dan bersih di depan ayah saya yang spontan urung makan dan hanya berlalu tanpa komentar.
Dan saya.. dengan teganya mengacungkan jempol pada suami saya yang telah membuat saya berubah menjadi sekuntum mawar putih cemerlang, bukan kaktus mini berduri yang tempting seperti bakso. : )

Wednesday, June 2, 2010

TOPENG



“Bukannya hubunganmu baik-baik saja?” komentar lelaki di depanku yang berhenti mengunyah makan malamnya setelah mendegar ungkapan isi hatiku. Matanya yang bening itu seolah menembus jantungku yang selama ini tidak pernah berkata yang sejujurnya padanya.
Aku hanya menggeleng lemah. Aku tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya, sambil mengaduk-aduk makanan di depanku yang sudah tak terkecap rasa apapun oleh indra pengecapku yang ikut kelu.
Bagaimana mungkin baik-baik saja? Telfon dari orang itu, yang biasanya sangat rutin, dua atau tiga kali seminggu, tidak pernah lagi menggangguku. Tidak ada komen-komen pada status atau coretan di dinding facebookku – walaupun aku tau, dengan HP Blackberry nya itu, dia biasanya online 24 jam. Sms pun tak pernah dikirimkannya lagi, padahal kami sering berceloteh tentang hal apapun melalui sms. Tentang suami orang itu, tentang anak lelakinya, atau tentang pria idaman lain yang mencoba membuka kembali hatinya yang sempat beku. Jangankan bertanya kabar, sms resmi seperti selamat hari raya pun, tak satupun ada dalam handphone ku.
Ah, entahlah. Semua berubah begitu mudahnya seperti membalikkan telapak tangan. Hubungan yang sangat erat menjadi sangat jauh. Bahan obrolan yang panjang dan lama, menjadi beku – hanya kesunyian yang kurasakan sekarang. Senyumnya pun, tak pernah ku lihat setulus yang dulu. Ada luka di matanya, ada perih di hatinya, dan itu semua disebabkan olehku. Iya, oleh perubahan statusku. Dari seorang gadis kecil menjadi istri orang – bahkan calon ibu, sebentar lagi…
Aku tak tahu bagaimana membuat hubungan kami menghangat kembali. Aku tak punya ide bagaimana lagi menyembunyikan rasa rindu mendalam padanya. Aku sadar, dia sering menyakitiku.. lagi dan lagi. Aku tahu, aku selalu mengalah dari dulu hingga sekarang. Aku tahu, aku selalu bermuka dua, mengatakan hal-hal yang tak kusuka pada dirinya kehadapan keluargaku, yang terang-terang membencinya.. Namun, itupun tak setiap waktu kulakukan. Aku mengerti.. ini semua murni kesalahanku.
“Tapi, kamu tidak pernah mengatakan galau itu selama ini, sayang..” ucapan pria itu, menghapuskan semua isi dalam pikiranku. Aku menghirup udara sedalam mungkin. Mencoba menahan bulir air yang sudah di ujung mata.
“Seumur hidupku, sayang.. aku selalu memakai topeng. Kamu tahu itu?” jawabku lugas. Tanpa meminta komentar dari lelaki itu, aku melanjutkan lagi pernyataanku. “Aku selalu tampak bahagia di mata semua orang, aku selalu memasang topeng tersenyum, walaupun hatiku tercabik, aku selalu menangis sendiri di tengah malam saat tersakiti olehnya.. Apa dia tahu, apa dia pernah rasa?“ Aku mencoba bernafas kembali, berusaha sekali menahan agar tidak menangis di depan orang yang sangat kucintai. Aku tidak mau dia terluka karena melihatku, cengeng. Iya, cengeng!
“Aku bisa merasakannya, sayang. Dia sudah membangun jarak yang begitu jauh dari hatinya – padahal jarak kami begitu dekat.” Lelaki itu hanya menghela nafas.
“Kamu tahu, aku tidak akan membiarkannya mencercamu lagi seperti binatang, layaknya kamu orang terhina di dunia. Kamu istriku, dan biarkanlah dia menjadi dewasa. “ Ujarnya sambil menggenggam tanganku erat.
“Tapi, apa yang harus aku lakukan??” Ujarku putus asa.
Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada. Satu saat percayalah, dia akan mencarimu. Dia akan sadar dan menjadi dewasa. Namun, kamu harus sabar. sabar, dan sabar, sayang.” Ucapnya lirih.
Aku terdiam. Ingin ku lepas topeng yang memfosil di wajahku ini. Ingin ku buang ia jauh-jauh. Tak ingin aku mengingkari isi hatiku. Aku hanya ingin semuanya berjalan normal kembali, aku hanya ingin hubungan kami :: aku – suamiku – dan dia menjadi baik kembali..
And actually, I JUST need a Mom. My ordinary Mom…
*tears.

My desk, 31 May 2010.