Saturday, February 13, 2010

Pencerahan


Beberapa waktu yang lalu saya sempat “down” tidak merasa bersemangat hidup dan merasa menjadi manusia aneh yang tidak punya cita-cita, tidak punya mimpi, dan merasa hidup saya ini tersia-siakan.
Entah apa yang terjadi, menurut guru saya sih, saya terkena “Reverse Culture Shock” yaitu terkejut akan budaya sendiri. Terkejut dengan hidup saya yang tiba-tiba berubah- dari nol ke seratus, dari bersantai jadi super duper sibuk, dari susah tidur jadi tidak bisa tidur karena menyelesaikan pekerjaan yang serasa sinetron.. kejar tayang, bo!
Hidup tanpa mimpi adalah kondisi terkritis saya. Saya tidak pernah hidup tanpa mimpi atau cita-cita yang ingin saya raih. Terasa tubuh saya ini kosong tanpa nyawa. Untungnya, Tuhan tidak membiarkan raga saya melayang terlalu lama.
Akhirnya.. saya diberi pencerahan dari Ibunda tercinta. Katanya… dalam hidup, hanya ada 4 cara, yaitu..
1.       BELAJAR
Apapun profesi kita, kita harus selalu belajar. Apalagi yang merasa pengangguran, musti tetap belajar.  Meng-update otak kita akan hal-hal baru, agar proses dalam tubuh juga tidak terhenti. (jadi bukan blog saja yang harus di up-date, sodara sodara!)
2.       RAJIN
Mungkin lebih terkesan pencerahan bisnis.. tapi engga juga ah. Karena ada pepatah yang mengatakan “Allah bisa karena biasa.” Apapun yang Anda lakukan asal rajin a.k.a tekun, pasti akan mendatangkan hasil. Pasti.
3.       JANGAN PERNAH MENYERAH
Uah.. D’massiv mode ON..  Tapi benar banget, kok. Kita tidak boleh berputus asa pada apapun yang ingin kita raih. Dalam hal percintaan, pekerjaan, keluarga.. apapun itu, jangan pernah menyerah – dan selalu percaya.. “when there is a will there is a way…!”
  1. SELALU BERSYUKUR DAN BERSUKA CITA
Hm.. kapan terakhir Anda bersyukur, simple bilang “thanks God.. udah bisa makan hari ini.” Mungkin beberapa sering lupa. (termasuk saya.. huks huks. Tersedu-sedu mode : ON)
Bersyukurlah setiap saat- bahkan pada hal-hal kecil yang tidak kita sadari, tanpa hal itu kita tidak bisa hidup. Bersyukurlah setiap waktu, agar Tuhan tidak lupa akan kita.
Setelah bersyukur, sisakan waktu untuk bersuka cita- bersenang-senang.. gitu loh.  Walau sesibuk apapun, kita harus menyempatkan diri untuk menyenangkan diri sendiri, kawan! (*serasa nyubit diri sendiri.. (T.T))  Jalan-jalan sama teman-teman, keluarga, pacar.. atau lakukan apa saja yang membuat kita tersenyum.. bahkan blogging? Why not?
Pencerahan yang buat saya melek dan langsung semangat lagi.. menyusun mimpi-mimpi yang saya percaya Tuhan pasti wujudkan..
My next destination?    Hmmmm… PARIS……………!!!!!
Have a nice weekend Angel’s lovers, hold on tight to you dream! Mwah!

Friday, February 12, 2010

Malam HITAM


Sebagai guru Bahasa Indonesia yang mengajar orang asing, saya selalu berperang dengan siswa-siswa saya di kelas. “Perang” di sini dalam artian kata positif, atau mungkin saya aja kali yang berlebihan.. : )
Saya sebut “perang” karena murid-murid saya itu selalu memborbardir saya dengan beratus-ratus misil pertanyaan tanpa ampun! Tingkat analisa mereka terlalu tinggi dan terlalu kritis. Kalau latar belakang mereka “English Speaker” saya masih bisa bernafas, karena lebih mudah bagi saya untuk membuat perbandingan, mencari contoh-contoh serupa, istilah-istilah serupa. Namun, apabila latar belakang mereka bahasa lainnya seperti Perancis, Korea, Rusia, dan lain sebagainya… Saya otomatis mati di tempat, karena mereka protes.. “Ga ada gunanya menjelaskan dan membandingkan dalam bahasa Inggris, kami tidak mengerti!!!”
Contohnya dengan kata “Malam”. Waktu belajar Malam Minggu saja mereka kelimpungan, “kok bisa Saturday Night bisa diganti Malam Minggu di Indonesia?” Bagaimana donk saya menjelaskannya? Saya sendiri tidak “belajar” Bahasa Indonesia, tetapi hanya sebatas pengguna, dan ‘kebetulan’ bahasa Ibu saya.. Ditambah lagi sinonim-sinonim Bahasa kita yang.. nauzubillah… tidak bisa diprediksi. : )
Berbicara tentang “Malam” saya pun jadi teringat perjalanan saya beberapa waktu yang lalu mengunjungi sebuah pabrik kecil di Bali. Hubungan “Malam” dengan perjalanan saya..? Banyak! Karena “Malam” yang saya maksud disini adalah si “Malam Hitam” bahan tinta penggores kain Batik kebanggaan kita, lo!
Para Black Community di Bali, mungkin tidak terlalu tahu mengenai pabrik Batik ini yang berada di kawasan Gianyar. Pabrik ini dibuat di sebuah rumah, seperti usaha rumah tangga, namun, bahan-bahan pembuat Batik, seperti ‘malam’ dan peralatannya seperti canking, kompor minyak kecil, bahan pewarna batik, sudah sering dikirim ke manca Negara. Saya berpikir, seharusnya tidak dikirim ya.. agar Budaya Batik ini, tidak diakui oleh Negara lain sebagai budaya mereka!
 Si Malam Hitam nich...
Ternyata-eh- ternyata.. proses pembuatan Batik itu merupakan proses kesabaran tingkat tinggi! Waktu saya datang saja, bingkai dan kain untuk menggambar sudah digambari motif oleh para pembatik professional. Saya hanya tinggal mengikuti pola tersebut dengan malam yang sudah dipanaskan di kompor minyak tanah kecil. Itu pun, mengambilnya tidak boleh berlebihan dan harus berhati-hati.
Goresan pertama saya setelah meniup cairan malam yang cukup panas, malah meninggalkan luberan malam yang lumayan besar pada kain gambar saya.. Malam yang digunakan berwarna hitam, namun warnanya berubah menjadi coklat muda di atas kain pola. Setelah itu selesai, para pembatik menyarankan kita untuk meremas-remas kain pola agar corak batik terbentuk.. Jadi, sebenarnya corak batik itu, bisa kita ciptakan lo! Hebat ya?

Aksi saya sedang melukis - dan kain batik yang diremas-remas. 
Proses pewarnaan kemudian dimulai. Karena saya dan teman-teman saya hanya membuat sapu tangan, tentunya proses ini terbilang singkat. Kebayang ga sih.. kalau membuat kain, kemeja, atau rok batik??? Kain yang sudah saya remas-remas itu pun di celupkan ke air yang sudah diwarnai. Ada warna merah, ungu, dan biru – kalau semua warna dicampur tentu saja semua menjadi hitam, betul ga?
Proses pewarnaan kain Batik
Setelah itu, kain batik direbus pada air panas, agar malam yang tersisa bisa dibersihkan. Prosesnya seperti merebus sayur, diaduk-aduk pula! Tetapi engga dimakan ye..
 Proses perebusan kain Batik.
Kemudian, kain batik dijemur di bawah matahari. Tidak kami tunggu sampai kering, hanya setengah kering saja, lalu kami pun meninggalkan pabrik batik di kawasan Gianyar tersebut dengan membawa batik kami masing-masing yang berbentuk sapu tangan lengkap dengan nama kami! Super duper eksklusif banget deh.. 
 
 Sapu tangan Batik yang di jemur

  
Para siswa yang sumringah dan berkata "We love Batik!"

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya sempat melambung pada pemberitaan budaya Indonesia yang sempat diakui Negara lain. Belum lagi memikirkan tari sakral daerah Bali – Tari Pendet yang beberapa waktu yang lalu diakui sebagai budaya Negara lain, lah kok bisa… budaya dicuri.. aneh sekali!
Sesampainya di rumah, untungnya saya menghidupkan TV dan mencoba meng-update Black in News dari berita-berita nasional atau internasional. Saya merasa lega, karena saya kebetulan menyaksikan berita tentang UNESCO yang telah mengsyahkan Batik sebagai budaya dan produk nasional Indonesia! Bangga sekali rasanya.
Hal ini membuktikan bahwa produk Indonesia, tidak melulu meniru produk luar negeri. Kita sendiri masih mampu kok, membuat produk yang berkualitas tinggi dan diakui secara internasional. Tidak usah jauh-jauh, contohnya PT Djarum Black yang sudah memproduksi rokok berkualitas tinggi sejak jaman tahun engga enak sampai sekarang. Produk-produk yang sudah diluncurkan di pasaran seperti Djarum Black Slimz dan Djarum Black Menthol masih digemari masyarakat. Bahkan Djarum Black sendiri juga mendorong generasi muda agar berinovasi pada kreatifitas mereka dengan menggelar ajang-ajang menarik seperti Black Innovation Awards dan Djarum Black Blog Competition Vol.2 yang sedang saya garap ini, readers! Hehe.
Oh ya, mau numpang cerita sedikit lagi. Sekarang ada aturan baru di kantor saya yang mengharuskan para pegawai termasuk guru-guru untuk mengenakan Batik setiap hari Jumat!
 
Gek yang mana ya....?? : )

 Senangnya bisa ikut melestarikan dan bangga akan budaya bangsa, serta memakai produk dalam negeri sendiri - karena kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi donk??
 - Gek -