Wednesday, February 23, 2011

sapi, anjing, dan monyet!

Dapet artikel copas dari temen nih... sudah lama sih, tapi cukup oke juga untuk dibaca.. 
check this out....

Alkisah Tuhan menciptakan manusia dengan jatah umur 20 tahun. Tapi
binatang-binatang rata-rata 40 tahun. Itu karena Tuhan ingin manusia
bahagia saja sepenuhnya dan tidak usah merasakan pahitnya dunia terlalu
lama. Manusia ini pun diletakkan Tuhan didekatNya.

Ternyata, beberapa binatang merasa iri dan ingin seperti manusia.
Datanglah Sapi,

"Tuhan terlalu lama 40 tahun bagiku, kukembalikan 20 tahun". Mendengar
itu ... manusia yang merasakan kebahagiaan ... ingin lebih panjang
kebahagiannya .... dimintanya yang 20 tahun dari sapi untuk dirinya.
Tuhan mengabulkan.

Lalu datanglah Anjing. Dia juga mengembalikan yang 20 tahun ... maka
sekali lagi manusia memintanya.

Terakhir monyet datang. Dia juga mengembalikan 20 tahun umurnya ....
dan sekali lagi manusia memintanya.

Maka jadilah yang diminta manusia itu :

20 tahun pertama....

hidup sebagai manusia, berbahagia, gak banyakmasalahnya

20 tahun kedua...

hiduplah manusia itu seperti sapi ... bangun pagi
pulang malam, kerja keras, banting tulang .... hasil ... hmmm terbatas!
Atauuu…..
(7 p) PERGI PAGI PULANG PETANG PENGHASILAN PAS-PASAN

20 tahun ketiga...

jadilah dia seperti anjing. Anak mulai gede ...
kerjanya jaga anak, jaga kekayaan, jaga properti .... persis kayaanjing

20 tahun keempat...

jadilah dia seperti monyet. Tua renta, hanya jadi
bahan lelucon yang lebih muda ...


Maka kalau Anda ingin terus jadi manusia sampai akhir hayat ingatlah
kata-kata ini :

"BUKAN MASALAH PANJANGNYA UMUR, TETAPI MASALAH MEMBERI MAKNA DALAM TIAP HARI KEHIDUPAN"




Monday, February 21, 2011

Sabtu yang jujur



“Bitwin!” jeritku. Disampingku ada suami beserta anakku yang ditutupi jaket setengah terbuka, karena siang itu memang panas menyengat. Kami sendiri ada di pinggir trotoar jalanan yang ramai, penuh debu dan polusi.

Yang kupanggil hanya terdiam membisu sambil memandangiku. Mungkin aku terlihat aneh? Terlihat berbeda? Atau beruban? Ah belumm.. aku baru “tujuh belas tahun” kok.. hihihi. 

“Gek.” “Kamu Gek kan?” ujarnya tergopoh menyalami tanganku. “ini suamimu?” 

Aku hanya mengangguk dan menunjuk bayi menggemaskan yang digendong suamiku, “itu anakku.” 

Dia bisu lagi, tanpa banyak basa-basi aku bertanya nomor teleponnya dan dengan cepat dia berlalu tanpa menolehku lagi. 

“Siapa?” tanya suamiku. 

“Itu, Bitwin, teman SMA ku.” Jawabku pendek sambil berjalan cepat mengikuti langkah suamiku. 

“teman atau TTM”. Tanya suamiku lagi. 

Aku tersenyum, “Ya, gitu deh.. “

Kami pun tertawa bersama sambil menyebrang zebra cross menuju mobil hitam kesayangan kami. 

***  


Mobil mungil meluncur lagi, kali ini tempat tujuan kami adalah toko perlengkapan bayi yang namanya memang sudah terkenal “Murah”. Sebenarnya tidak begitu murah, hanya saja gampang mencari segala keperluan si adek, ga perlu keluar masuk toko berkali-kali. 

Sesampainya di pelataran parkir, mata saya tidak sengaja melihat sosok yang sudah saya kenal seperti saya mengenali tubuh saya sendiri. Saya hanya membisiki suami saya, “Kamu mau ketemu mantanku gak?” 

Suami saya hanya memandangi saya dengan pandangan sangat tidak mengerti. Saya hanya menunjuk kea rah angka Sembilan, dan voila! Suami saya tersenyum dan berjalan cepat lagi seperti biasanya. 

“Hai” aku melambaikan tangan ke arah orang yang ku sebut mantanku.. aih, aih, lihatlah, dia berjalan bersama karibku – kakak kelasku dulu yang sekarang merupakan istrinya. Jalannya sudah seperti anak sekolahan gitu, seragam.. haha.. kaos putih dan jins, paduan yang serasi. 

Sepintas aku ingin berhenti- menunggu mereka dan basa-basi dikit lah.. secara selama ini aku menghindari mereka dengan alasan : sakit hatilah.. malas.. berjuta alasan.. 

Tetapi tampaknya suamiku cuek sambil lalu menggendong anakku masuk ke toko pertokoan bayi itu.. and guess what? Mereka juga masuk toko yang sama. 

Dadaku berdegup kencang. Entah karena senang, karena lama tidak bertemu, entah karena takut suamiku sedikit cemburu. 

Tapi toh, mereka pergi berlalu dari toko itu, jauh sebelum aku ketahui. 

Suamiku mengolokku.. “Ahem.. yang ketemu mantan…” 

“Hahhaah” hanya kutanggapi dengan tertawa. 

“Kok dia gendut gitu ya sekarang si mantan?” tanya suamiku. 

“Lah kok nanya aku?” jawabku. “Yang penting kan istrinya ramping, seksi, cantik pula..” lanjutku. 

“Halah.. masih cantikkan kamu kok!” protes suamiku. 

“Eyahhhh.. ga usah ngotot deh, kamu juga jauh lebih baik dari dia kan?” godaku sambil menowel perut gendut suamiku.. (wkkwkwkkwkwk)

***  


DI ujung jalan, kami pun tak sengaja berpapasan lagi, suamiku menekan bell mobil dan aku menurunkan sedikit kaca jendela mobilku. Ingin hati melambaikan tangan, tetapi si istri sudah menarik tangan si mantan untuk menyebrang jalan, mereka pun memalingkan wajah dari mobil kami, tanpa senyum. 

“Aih……. Dibukain kaca pulaaa..” goda suamiku. 

“Iyee… dirimu duluan yang nekan bel mobil, kannn…??” 

“Lagian kenapa kamu ga mau berhenti sih, nyapa mereka, basa-basi, pamer si Arjun gitu loh!” celetukku. 

“ Halah, ga usah. Anak kok dipamerin. Biarin dehhh…. Eh, tuh istrinya udah hamil?” tanya suamiku. 

“Belum.” Jawabku pendek. 

“Nah lo!” “Pasti kamu sumpahin deh….” Ujar suamiku. 

“Enak aja! Ga gitu juga kaleeeeeeeeeee..” jawabku sambil tertawa. 

Iya, permusuhan yang ada dalam hatiku, luber saat itu juga. Aku senang bisa jujur pada hatiku, kalau aku tidak mencintainya lagi, kalau aku tidak berharap kata maafnya lagi, dan kalau aku bisa hidup tanpa rasa dendam.. 

Indahnya kejujuran kurasakan Sabtu itu.. seandainya semua hari akan jujur seperti itu… hidupku pasti akan selalu lebih indah.. 

-          -  Fin   -