Showing posts with label CurHaT. Show all posts
Showing posts with label CurHaT. Show all posts

Monday, February 4, 2013

Lucky



She’s so lucky, she’s a star.. but why did she cry..?”

The lyrics of that song is echoing in my head recently. In my office, every staff considered that I am the luckiest person in the office. I was new, I was a favourite, I could tackle all difficulties and I have good-good friends. What did I do wrong? Did I hurt them?

I knew some staff who had been working in my office for 10 years, but her career was not as fast as me – then she kept saying, that I am lucky. “You Just lucky. 99 percent lucky and 1 percent hard work.”

I kept everything down to earth, but I can’t hide my skill and ability. I can’t pretend that I could not give all my best. 

Lucky is.. a ninety nine percent of sincere hard-working and one percent tears when people judge you from their point of view.

Thanks for all the good luck, God. : )

I know I am always lucky and I won’t cry anymore.

Thursday, December 13, 2012

Passion




Passion adalah gairah. Semangat. Apapun yang kau punya untuk hidup. Passion mungkin kedengarannya sepintas seperti patience. Karena mereka berhubungan. 

Gairah dan semangat ada hubungannya dengan kesabaran. Kalau anda tidak sabar, anda akan kehilangan semangat anda, gairah untuk melaju lebih cepat ke arah yang lebih baik. 

Passion saya diusik oleh segelintir orang yang mencoba merong-rong saya, meragukan kemampuan saya, menusuk saya dari belakang. 

Go ahead. Saya memilih melihat apa yang akan terjadi nanti, di kemudian hari. Saya terima semua masukan dan saran-saran yang sudah saya perjuangkan habis-habisan di depan pimpinan, dan tetap saja menemui jalan buntu. Ujung-ujungnya, saya merasa seperti such a horrible  waste. Saya mencoba mengemukakan pendapat saya dan teman-teman, tetapi tak ada gunanya. Dikalahkan oleh angkuhnya kehirarkian atasan. So pathetic!

Sorry, I can’t make everyone happy. 

Saya tidak menyukai konfrontasi, maka saya telan saja semua “saran-saran” tusukan pedang ke ulu hati dari teman-teman. Well, not all.. hanya beberapa orang saja.. 

Tetapi, saya sungguh sakit hati. 

Man, you’ve broken my heart. 

Typical Gek, avoid the confrontation - stay strong outside. Honestly, I cried all night. 

Saya ga tahan kalau sudah sakit hati. Tapi, saya juga ga bisa marah, karena semua sudah terlewati. Jadi airmata itu, sungguh-sungguh luapan emosi saja, biar ga stress.. hehehe. 

Okay, guys… saya cuma punya satu pesan buat kalian.. 

One day, you’ll see me and you’ll regret every little thing you’ve said and done to me.
God bless you all, and I love you all with all my heart. 

You can break my heart but not my passion.


Thursday, December 6, 2012

+ I'm POSITIVE.....+



Semenjak kecil, saya tahu, Tuhan mencintai saya. Beliau selalu memberikan apapun yang saya inginkan. Beliau juga selalu mengabulkan seluruh mimpi saya.. even at the one the laughed at.. 

Maka, jadilah kebiasaan untuk saya, bahwa “I must have what I want.” Seluruh keluarga saya, terutama Mama saya pasti tahu tentang ini. Atau mungkin.. karena saya anak tunggal, jadi saya otomatis, selalu mendapatkan apa yang saya inginkan. Semua terjadi seperti air. Mengalir. 

Stop. 
Jangan bilang saya manja. Saya dibesarkan dengan (sangat super) keras semenjak kecil. Kalaupun saya mendapat semua keinginan saya, itu karena doa saya yang tak pernah terputus kepada Tuhan. Orang tua saya memperlakukan saya seperti halnya, saya adalah anak tertua dari 10 bersaudara. Jadi saya harus mandiri dan bertanggung jawab atas diri saya sendiri, termasuk mimpi2.. sekecil apapun, sebesar apapun mimpi itu. Orang tua saya, “kasarnya” hanya tukang berdoa, dan orang yang saya mintai restu atas segala hal yang saya lakukan..and of course my number one fans.. *hugs* Kalimat sakti dan  “klise” selalu saya siapkan.. “We do the best, God do the rest…”
 
Setelah, sebagian besar mimpi saya terwujudkan dengan doa orang tua…. *Let me show you the list…*

·        * Kerja di tempat yang (sangat) saya inginkan (walaupun keluarga saya menertawakan karena saya dianggap tidak mampu…)

·        * Mendapat ijasah TESOL dari University Trinity London (walaupun tanpa IELTS test dan banyak guru yang belum mendapatnya – bahkan ada yang native speaker tidak lulus. Thank U God for loving meee….!)

·       *  Dikirim ke Aussie selama satu tahun. (Walaupun, saya baru bekerja 1 tahun di tempat saya bekerja – kesempatan ini sebenarnya hanya datang bagi yang sudah bekerja selama 5 tahun – I was lucky, thanks a lot God…)

·        * Dan masih banyak mimpi lainnya…. Termasuk menikah dengan suami saya yang sekarang, dan mempunyai seorang anak laki-laki yang lucu dan pintar. (Praise the Lord….!)

Belakangan ini, saya punya mimpi untuk melanjutkan studi saya lagi ke Aussie. Yah, untuk belajar S2, mumpung umur masih kuat untuk travelling, dan absolutely the right time, sebelum berpikir untuk settle  down dan memproduksi anak lagi.. hehehe! 

Segala daya upaya sudah saya kerahkan, of course, saya memperjuangkan yang namanya beasiswa…! Kenapa jauh-jauh? Di Bali juga bisa ambil S2…! Memang bisa, tapi kesibukan saya, society matters, small business that I run, will make every effort to take the master in my own island.. is.. not what I would like to do. Saya lebih memilih, “mengungsi” ke negeri orang untuk menuntut ilmu, agar lebih focus dan maksimal. Mumpung keluarga sangat mensupport saya tentang ini.. 

I talk about this scholarship every single day, every second of my life, since I’ve sent the application. Bahkan saya merasakan hal yang sangat positif dan yakin, bahwa saya akan lolos seleksi. Bukan hanya saya, semua orang yang mengenal saya, juga sangat yakin. Malah lebih semangat daripada saya. Mereka bilang, mereka ingin melihat pembuktian mimpi dan harapan yang jelas-jelas menjadi kenyataan dalam hidup saya…
Namun, kembali ke kalimat klise saya.. “We do the best, God do the rest..” 

Pengumuman kandidat yang terpilih akan disampaikan melalui surat, uniknya baik kandidat yang lolos maupun yang belum lolos, akan diberikan surat. Sungguh, saya galauuuu menanti-nanti surat yang tiada berkabar. Bolak balik cek e-mail dan Om Google, well.. still no news

Sampai akhirnya, Tuhan berbaik hati juga untuk mengirimkan sebuah sms dari seorang kolega yang juga harap-harap cemas plus galau tingkat universe untuk menantikan kabar beasiswa ini. Maka ia menyarankan saya untuk menelfon office pusat di Jakarta. 

Karena tidak ingin mati penasaran, saya menelfon kantor pusat beasiswa itu di Jakarta. Setelah tiga kali baru berhasil – dan itupun, ada jeda “hold” karena line telfon masih sibuk.. 

Setelah diangkat.. *The Moment of Truth…*

“Selamat pagi mbak, saya ingin menanyakan tentang daftar kandidat yang lolos seleksi”
“Baik, bisa minta namanya, mbak?”
Saya menyebutkan dua nama pertama saya. Dan…………

*The Moment of Truth* (again – lebih deg-degan)

“Baik, dengan Mbak…. (dia menyebut nama lengkap saya + tanggal lahir saya)”
“Benar mbak…itu nama dan tanggal lahir saya.”
Belum lolos mbak.
“Oke terima kasih..” Jawab saya, dan menutup telepon. 

Did I cry? Not a drop.

Did I disappointed…? Maybe, a little bit. 

Do I want to try for another application?  
I’ll fight to the death. 

I believe God never says NO. I believe He has “far more” better plan for me. 

I’m staying positive, God.. and waiting patiently for a good news. 

Sorry to let you down, Mama.. I’ll fight for your happiness… 

*Maaf kepanjangan dan curhat dulu ya Angel Lovers.. trims untuk supportnya.. *

Kiss from Gek yang tetap semangat untuk berjuang..
Cayoooooooooooooooooooooooooooooo!

Monday, August 27, 2012

Swasti Wanti Warsa..


Hari ulang Tahun G.
This is for YOU. 
________________________________
Gambar sudah diganti sesuai permintaan G. 
“tepat sebulan lagi.. tanggal yang sama, aku akan punya istri..” 

Itu kalimat yang dia ucapkan padaku tepat sebulan sebelum ia mengikat janji dengan orang yang dia cintai. Melalui YM saja.. tidak sepertiku yang menelfonnya dan mengatakan aku akan menikah, mengundangnya, plus memohon agar dia mau jadi bagian dari panitia pernikahanku, tahun lalu. 

Nyatanya toh, dia bilang, dia tidak sanggup datang. Tanpa alasan – hanya berkata.. “Kamu tau alasannya apa. Aku tidak sanggup datang.” 

Aku mencoba mengerti. 

Selanjutnya, hubungan komunikasi dengannya, tidak berubah. Tetap sama, ber ym-ym an. Berbalas status di FB, ngobrol seperti biasa, nothing change. 

Terakhir kali menjabat tangannya di hari jadinya 27 Agustus 2011.. Aku selalu selipkan pesan agar sudi kiranya dia mengabariku surat undangan. Dia pun menyanggupi, walaupun tidak janji… 

 “Engga janji ya, harus konsultasi istri dulu. Apakah boleh ngundang kamu atau tidak.”  Begitu message yang muncul di YM ku, setelah ku buzz! Buzz!  berulang kali.

 Ada rasa tercekat di tenggorokanku. Karena jauhhh di dalam hati, aku hanya ingin, mendatangi orang yang selama ini sering bertukar pikiran.. Memberikan selamat, menyampaikan doa tulus dari seorang sahabat.
Dia adalah seseorang yang cukup lama menghiasi otakku dan bertengger di dalam hati. Walaupun status kami berubah, apakah salah apabila kami berteman?

Aku mulai gelisah, karena tidak ada satu pun undangan yang datang ke rumah atau ke kantor. Sampai suatu hari, ku tulislah status lebay di FB, eh… ndilalah, muncul smsnya yang mengatakan, “Undangan mau di kirim kemana?” Jujur. I was EXCITED! dan berharap menerima undangan yang dia bilang, istimewa, kreatif, lain daripada yg lain.. 

Jam demi jam, sampai berganti hari, tidak ada satu lembar pun yang mendarat di rumah atau di kantor. Sampai gila bertanya kepada security.. “Bapak yakin, tidak ada satu orang pun menitipkan apapun untuk saya…??” Security yang awal-awal saya bertanya, masih menjawab panjang lebar, setelah berkali-kali akhirnya hanya menggelengkan kepala. Bosan menjawab. Malas mendengar pertanyaan yang sama. 

Dalam hati masih berbisik, “Ga mungkin lah.. dia engga ngundang, masa tega?” Kado pernikahan untuknya pun sudah terbungkus rapi, siap diberikan ke tangannya. Sayang, si kado pun harus kecewa manyun, dan malu karena.. 

Nyata-nyatanya, sampai lewat hari H, aku hanya bisa puas memandangi foto-fotonya yang dipublish besar2an di FB, ku tekan saja tombol like. Tombol itu kan tidak perlu jujur. Tidak perlu takut hidungnya panjang karena berbohong.
_____
And you know what, my heart was broken into pieces.
Denpasar, 13 December 2011

Saturday, June 4, 2011

Another story in June..


*Buat Upi..
-----------------

Pokoknya, aku ga mau kamu pacaran sama dia.” 

Gadis manis bertahi lalat di pipi itu mengangguk mantap. Aku menatap matanya dalam-dalam, terlalu kawatir teman terbaikku sedunia akan jatuh cinta pada orang yang salah – akan berbuat sesuatu yang ia sesali di sepanjang hayatnya. 

Kenapa aku peduli?

Karena dia adalah teman pertamaku yang bisa mengerti keegoisanku, kenaivanku, dan kesendirianku. 

Atau – karena semua detik kehidupanku saat itu, terlahir berbarengan dengan dia. Kelas yang sama, ekstra kurikuler yang sama – terlalu banyak.. hal yang menjalin kebersamaan itu semakin kuat. 

Namun, aku juga masih ingat – saat terakhir aku menghubungimu, hanya untuk bertanya tugas sekolah minggu depan, aku mendapat berita yang tak kalah mengejutkan – dari orang yang kita percaya – Ibumu… 

Tolong jangan hubungi Upi lagi Gek, dia sudah gila. Dia sudah kawin lari dengan orang itu, dia sudah..  ah, tolong jangan hubungi dia lagi… tolong jangan…..

Aku menutup telfon itu dengan amarah yang tak terucapkan.
Dengan dendam yang tak terlukiskan. 

“Somebody stabbed me behind my back…” 

Beberapa waktu setelah kejadia itu.. berulang kali Upi menelfon, sms, bahkan sampai mendatangi rumah setiap acara penting – bahkan ulang tahunku, dengan bahasan yang sama… 

“maafkan aku – maafkan aku Gek.. “ 

Dan, aku bergeming. Mungkin aku memafkannya, tapi – aku juga sudah melupakannya. Menghapusnya jauh-jauh – meleburnya ke lautan samudra yang terdalam. 

-----

Aku sahabatmu. Aku sudah bercerai dengan suamiku, dan aku merindukanmu.” 

Pesan singkat itu ku terima pagi ini di HP ku. Terima kasih yang sudah memberikan nomer HP ku, whoever you are…  Entah bahagia atau pura-pura bahagia, aku tak tahu. Namun aku senang, akhirnya kau pulang – untuk menjadi dirimu sendiri. 

Mungkin aku ingin bertemu denganmu, atau hanya sebatas formalitas demi mengingat apa yang pernah terjadi diantara kita. 

Namun, semua tidak akan bisa kembali seperti dulu.

I try remembering hardly that I’ve had a best friend like you, but it’s just too far
You’ve hurt me too deep.
And the first cut always is the deepest.