Minggu lalu – tak banyak yang bisa kulakukan. Aku harus segera pulang kampung, karena sepupuku mengadakan upacara ulang tahun secara Bali. Di Bali, setiap orang yang beragama Hindu mempunyai Ulang Tahun Bali dua kali dalam setahun, yaitu untuk memperingati hari kelahiran mereka. Itu pun diluar hari ulang tahun yang tertera di KTP, lo!
Secara tradisional, budaya Bali dan Jawa hampir mirip, itu pun dikarenakan Pulau Jawa dan Bali dulunya terdiri dari satu pulau, bukan terpisah seperti sekarang. Maka dari itu, nama-nama wuku (hari kelahiran) atau lebih ngetop di sebut “Primbon” masih berlaku sampai sekarang. Kalau mau, boleh tengok blog Aa Slam Duz yang memajang kolom kecocokan pasangan ala Primbon. : )
Ulang tahun sepupuku, jatuh pada Wuku Wayang yang dirayakan umat Bali sebagai hari “Tumpek Wayang”. Hari “Tumpek Wayang” ini merupakan hari kesenian karena hari itu secara ritual diupacarai kelahiran berbagai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gamelan. Aktivitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu yang sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena kesenian tersebut dianggap mengandung berbagai unsur seni atau teater total.
Balik ke Wuku Wayang! Wuku ini termasuk wuku yang paling istimewa dalam adat Bali. Orang yang lahir di wuku ini, harus diupacarai pembersihan atau tolak bala. Orang tua pun harus mampu menggelar Wayang Sapuh Leger semalam suntuk untuk menjaga amanat leluhur pada hari tersebut dan juga menjaga si anak agar terhindar dari mala petaka.
Syukurnya aku tidak terlambat untuk menyaksikan pergelaran Wayang Sapuh Leger yang sudah dipesan jauh-jauh hari oleh pamanku. Sepupuku pun sudah di rumah, duduk paling depan dengan segala perlengkapan upacara. Setiap ulang tahun Balinya, sepupuku ini tidak boleh keluar rumah, jadilah dia nelangsa tidak bermalam minggu – ditambah lagi harus menahan diri untuk tidak menyentuh teman setianya, sekotak rokok Djarum Black yang menggeletak pasrah disamping komputernya –dengan status facebook yang masih “online”.
Wayang-wayang kulit dengan segala penokohannya itu hanya mampu kusaksikan dalam bayangan-bayangan hitam yang menari-nari. Aku pernah lo, mencoba membuat wayang kulit itu, mengukir setiap sudut kulit kerbau dengan peralatan khusus, sungguh proses yang tidak mudah! Masih saja kusimak bayangan hitam itu dengan luwesnya menceritakan tentang kisah-kisah pewayangan dalam bahasa Jawa kuno dan Bahasa Bali, menyelipkan nilai-nilai moral disela humor, menggugah hati dengan hal-hal yang harus dicermati pada jaman ini.
Walaupun aku tak mengerti keseluruhan bahasa sang dalang, aku tetap terpaku dalam diam, disaksikan bayangan hitam yang seolah tersenyum mencermati alur jalan pikiranku yang mencari ide untuk Black Innovation Awards yang telah dibuka di awal bulan ini. Ideku sering buntu, padahal sudah sering membuka website Blackoholiczone . Apa mungkin Tuhan belum menurunkan wahyu? Ah, Black Innovation Awards kan ajang kreatifitas?
Aku tersenyum sambil menghirup mencicipi seteguk kopi Bali yang dibuatkan oleh Bibiku, sambil menyaksikan wayang kulit yang begitu hidup dalam kegelapan. Aku mampu mencium aroma budaya Indonesia yang tak lekang oleh zaman. Menggugah kagumku karena tak seorang pun mampu mengubah bayangan-bayangan hitam itu menjadi lebih modern atau terjamah teknologi.
Semakin jengah lagi saat aku menyaksikan Bapak Thalib Prasodjo atau yang akrab dipanggil Eyang Thalib, asal Sidoarjo – seorang pria berumur 78 tahun yang menciptakan Wayang Lontar. Di usia yang tidak muda lagi, beliau masih mampu menciptakan inovasi baru tentang wayang untuk mempertahankan budaya bangsa, sungguh kerja keras yang pantas diacungi jempol! Lalu, bagaimana dengan Para Black Community di seluruh Indonesia dan para generasi muda masa kini? Jangan mau kalah dengan Eyang Thalib donk, semangat terus ya! : )
____
Berita lebih lengkap tentang Eyang Thalib dan Wayang Lontarnya, bisa dibaca disini. Enjoy!
- Gek -
