Ringkasan cerita :
Imai ternyata bertemu kembali dengan Rio.. kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?
Mereka bertatapan lama sekali. Imai tak percaya bahwa di saat bahagianya bersama Leo, ia dipertemukan kembali dengan sang pujaan hati yang hilang. Rio terdiam. Ia serasa tak berani menatap mata Imai, mata yang ia coba hindari, mata yang ia coba pungkiri, mata yang diam-diam ia rindukan.
“Lama sekali, Rio..Apa kabar?” tanya Imai.
Rio hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Baik, Imai.”
Rasa canggung diantara mereka tak dapat disembunyikan, sampai Imai menunjuk lukisan yang berjudul “My lovely girl.”
Rio terlihat gugup.
“Is it about me, Rio?” tanya Imai.
Rio tak menjawab. “Is it about me?!” teriak Imai. Rio pun mengangguk lemah sambil menyembunyikan airmatanya.
“Plakkk!!”
Imai menampar pipi Rio dengan keras. Rio terhenyak kaget. “Kamu tega, Rio!” “Kamu menyembunyikan semua perasaanmu!” teriak Imai.
“You never know how much I love you!!” isaknya.
Rio membelalakkan matanya, ia tak menyangka bahwa ia mempunyai perasaan yang sama dengan Imai. Pria itu spontan merengkuh Imai dalam pelukannya. Imai membalas pelukannya, namun sedetik kemudian ia mendorong Rio keras-keras.
“It’s too late, Rio.” Isaknya sambil menepis tangan Rio.
“Imai, I’m really sorry..” tegas Rio. Imai bergerak menjauhi Rio. Ia berjalan mundur, ia ingin secepatnya berlari pulang dan menangis sepuasnya di apartemen pribadinya. Ia tak mau Rio mengejarnya. Rio adalah masa lalu yang tak pantas ia toleh lagi. Tanpa pikir panjang, Imai pun berlari menjauhi Rio. Ia tak mendengar apapun, ia tak melihat apapun. Lampu penyebrangan yang telah lama berubah merah pun tak ia sadari. Hanya dentuman benda tumpul disamping tubuhnya yang membuatnya limbung bersimbah darah di tengah aspal kota yang ramai.
Singapura, Rumah sakit St. Marry menjelang tahun baru 2005
Imai Isnaini. Gadis itu tergolek lemah. Dokter telah memvonisnya koma. Di samping ranjang putihnya dua orang pria yang mencintainya tak henti-hentinya menungguinya siang dan malam. Leo berulang kali mencoba menenangkan keluarga Imai di Jakarta yang terus menanyakan kabar gadis yang lemah tak berdaya itu.
“Kau begitu bodoh, Rio.”
Hanya kalimat itu yang berualang kali Leo lontarkan pada sahabatnya sendiri sambil menangis menahan amarah. Rio tak sanggup berkata apa-apa kecuali memegangi tangan Imai yang dipenuhi oleh jarum infus. Tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan gadis malang itu. Gadis yang tidak pernah diberi kesempatan untuk merasakan indahnya cinta yang dipilihnya. Undangan pertunangan Leo dan Imai terpasang di meja kecil di samping ranjang putihnya.
Leo memindahkan undangan itu ke tangan Imai. “Bangun Imai…, habiskan sisa hidupmu denganku..”
Airmata menetesi bantal putih alas kepala Imai. Layar denyut jantungnya hanya menunjukkan selintas garis lurus. Mereka berusaha memanggil dokter secepatnya. Dokter berusaha memberikan beberapa terapi, namun garis lurus yang terpampang di layar tak berubah. Leo dan Rio menangis. Di benak kedua pria itu hanya ada senyum, canda, dan tawa Imai yang takkan mereka lihat lagi.
Rio berusaha berkata pada dirinya sendiri.. bahawa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, tapi kuasa Tuhan tak ada yang bisa membendung. Mereka memeluk gadis yang telah menghangatkan hidup mereka dengan cinta tulusnya. Gadis yang tak mungkin hadir kembali dalam hidup mereka...
---- fin ----
In my accommodation room after 2 glasses of wine
Sinclairs Bondi
15 July / 10.59 pm
Showing posts with label Kisah yang tak bersuara... Show all posts
Showing posts with label Kisah yang tak bersuara... Show all posts
Wednesday, July 15, 2009
Tuesday, July 14, 2009
Yang Tak Mungkin Kembali (bagian 2)
Ringkasan cerita sebelumnya :
Ada tiga perang utama dalam cerita ini, Imai, Leo, dan Rio.. Pria manakah yang beruntung?
Jakarta, Kamar Kos Rio, Juli 2001
Ada dua lelaki tampan sedang berkutat dengan gitar bolong sambil menyanyikan lagu-lagu tema cinta.
“Rio, aku benar-benar mencintainya.” Ujar Leo secara tiba-tiba pada sahabat yang telah diajak bersamanya sedari kecil.
Rio hanya tersenyum. “Pada siapa? Donna? Rita? Isabel?” tanya Rio bertubi-tubi.
Leo hanya menatap dengan pandangan mata tak suka. “Sorry, friend.” Bantah Rio.
“Itu semua kan teman-teman kita yang cantik-cantik dan dekat denganmu. Kamu mau wanita yang seperti apa lagi, sih?” Leo menatap Rio dalam-dalam.
“Kamu tahu jawabannya Rio.” Rio menaikkan alisnya tanda tak mengerti.
“Aku mencintai.. teman dekat kita, Imai.” Ujar Leo perlahan.
Rio menatap mata sahabatnya yang tak pernah berbohong. Hatinya tertusuk, perih. Wajah, senyum, dan tawa Imai serta merta hadir dan menari di otaknya. Rio mendongak melihat langit-langit kos yg hanya terbuat dari bambu, dibiarkannya sinar temaram mengeringkan sekaligus mencoba menahan air mata yang akan jatuh. Ia tak pernah menyangka ia akan bersaing dengan sahabatnya sendiri, dan Ia tahu ia tak suka persaingan. Maka, jalan mundur perlahan pun dipilih untuk Rio, demi sahabat-sahabat yang sekaligus ia cintai.
Jakarta, November 2003, Kelulusan.
Hari kelulusan pun tiba. Ketiga sahabat itu lulus dengan nilai sangat memuaskan. Mereka berjalan bersama dan bergandengan tangan. Imai berada di tengah-tengah lelaki yang sangat mencintainya, ia menggengam tangan Rio jauh lebih erat dari tangan Leo. Mereka tahu, ini adalah saat perpisahan mereka. Imai akan beranjak ke Singapore bersama Leo, melanjutkan program master mereka, sedangkan Rio akan segera terbang ke Australia untuk mengikuti program beasiswa yang didapatnya pada semester terakhir kuliahnya.
Jauh di lubuk hati Imai, ia berharap Rio akan menyatakan cintanya hari itu. Namun, Imai tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Ia bahkan tidak akan mengira kalau sang pujaan hati akan menyerahkannya pada sahabatnya, Leo. Rio melepas gengaman tangan Imai siang itu. Gadis itu terkejut, lalu dengan luwesnya Rio berkata, “Imai, ini saat terakhir kita. Aku ingin mengakhirinya dengan indah tanpa menganggumu dengan Leo. I’ll never forget you, friend.”
Rio pun merengkuh Imai untuk kali pertama dalam pertemanan mereka. Imai terperangah. Ia tak berkata apapun. Gadis itu hanya menangis saat Rio melangkah menjauh dari pandangannya. Ia merasa hatinya telah terbang seiring jejak langkah Rio.
Yang tinggal hanyalah Leo dan Imai. Leo mengenggam tangan Imai lembut sekali. Pria tampan itu mencium punggung tangan Imai dengan perlahan. Imai tersenyum. Berjuta pertanyaan berkecamuk di otaknya. Berjuta perasaan berbaur dalam hatinya, merancu pada satu pertanyaan, "Mana yang lebih baik? Mencintai Rio atau Dicintai Leo?"
Singapore, Desember 2004
Setahun sudah kedekatan Leo dan Imai terjalin di negeri tetangga. Mau tak mau, Imai dipaksa melupakan Rio dengan segenap pesona Leo yang sejujurnya melebihi Rio. Namun, Imai tak bisa memungkiri bahwa mata teduh Rio lah yang ia rindukan selama ini. Rio yang menghilang bagai ditelan bumi. Entah di belahan bumi sebelah mana ia berada hari ini. Entah apa yang dilakukannya saat ini. Apa Rio pernah tahu kalau aku merindukannya? Apa Rio pernah tahu kalau aku terpaksa memilih untuk dicintai oleh Leo? Batin Imai dalam hati kecilnya setiap waktu.
“Sayang?” Teguran Leo membuat Imai bangun dari lamunannya, perlahan otaknya beranjak dari Rio ke Leo, calon tunangannya. Imai tersenyum dan menerima pelukan dan ciuman Leo. Hari itu, Leo membawakan setumpuk contoh kartu undangan untuk acara pertunangan mereka yang akan dilaksanakan bulan depan. Foto-foto Imai dan Leo yang sedang berpelukan dan tersenyum mesra pun sudah siap untuk dipajang. Mata coklat Imai berbinar melihat bermacam kartu yang menurutnya luar biasa indah. “Up to you, dear.” Senyum Imai pada calon tunangannya. Leo hanya menatapnya lembut dan merengkuhnya dalam pelukan. “You just perfect for me, Imai.” Mereka terlihat damai dalam senyuman kebahagiaan.
Sore harinya, Imai berjalan sendirian di Boulevard Orchad Road yang luar biasa ramai. Gadis itu baru saja selesai berbelanja segala perlengkapan yang diperlukan untuk pesta pertunangannya dua minggu mendatang di salah satu hypermarket yang terbesar di Singapura. Suasana menjelang Natal di jalanan padat itu pun sangat terasa. Seluruh toko menggelar diskon yang sangat miring, pohon-pohon natal menjulang tinggi dan lampu-lampu disekelilingnya membuatnya sangat indah.
Penyanyi-penyanyi jalanan memakai topi Santa Claus dan membunyikan lonceng mereka keras-keras sambil menyanyikan lagu natal. Di depan penyanyi-penyanyi jalanan itu disediakan pula sebuah kotak besi tempat memasukkan recehan atau sekedar sumbangan untuk mereka. Imai berhenti sejenak di depan para penyanyi itu. Ia memeriksa sakunya untuk mencari pecahan uang kecil, kemudian ia memasukkan 1 dolar Singapore ke dalam kotak besi itu. Para penyanyi jalanan itu memperkeras nyanyian mereka seraya mengucapkan terimakasih.
Gadis itu membawa 10 undangan pertunangannya dengan Leo dalam tas kecilnya. Ia harus mengirim sendiri kartu undangan tersebut pada relasinya. Namun, langkahnya terhenti pada pameran lukisan jalanan di pinggiran Orchad Road. Lukisan dengan tema Australia yang membawa ingatannya untuk teringat pada Rio. Imai memperlahan langkahnya untuk melihat pameran lukisan jalanan itu. Gadis itu akhirnya menghentikan langkahnya pada sebuah lukisan yang berjudul, “My lovely girl”. Imai terkejut. Ia seperti melihat cerminan dirinya pada lukisan itu. Entah berapa lama ia terpaku pada lukisan itu.
“Can I help you, Madam?”
Suara berat seseorang telah membangunkan keterpakuannya pada lukisan itu.
“No, thanks.. I just..”
Imai menghentikan kalimatnya saat ia melihat sang petugas yang baru saja menanyainya. Barang-barang belanjaannya berserakan di kaki gadis itu. Sang petugas pun tak kalah terkejutnya saat Imai memeluknya dengan erat, sambil berteriak,
“Rio!!!”
Ada tiga perang utama dalam cerita ini, Imai, Leo, dan Rio.. Pria manakah yang beruntung?
Jakarta, Kamar Kos Rio, Juli 2001
Ada dua lelaki tampan sedang berkutat dengan gitar bolong sambil menyanyikan lagu-lagu tema cinta.
“Rio, aku benar-benar mencintainya.” Ujar Leo secara tiba-tiba pada sahabat yang telah diajak bersamanya sedari kecil.
Rio hanya tersenyum. “Pada siapa? Donna? Rita? Isabel?” tanya Rio bertubi-tubi.
Leo hanya menatap dengan pandangan mata tak suka. “Sorry, friend.” Bantah Rio.
“Itu semua kan teman-teman kita yang cantik-cantik dan dekat denganmu. Kamu mau wanita yang seperti apa lagi, sih?” Leo menatap Rio dalam-dalam.
“Kamu tahu jawabannya Rio.” Rio menaikkan alisnya tanda tak mengerti.
“Aku mencintai.. teman dekat kita, Imai.” Ujar Leo perlahan.
Rio menatap mata sahabatnya yang tak pernah berbohong. Hatinya tertusuk, perih. Wajah, senyum, dan tawa Imai serta merta hadir dan menari di otaknya. Rio mendongak melihat langit-langit kos yg hanya terbuat dari bambu, dibiarkannya sinar temaram mengeringkan sekaligus mencoba menahan air mata yang akan jatuh. Ia tak pernah menyangka ia akan bersaing dengan sahabatnya sendiri, dan Ia tahu ia tak suka persaingan. Maka, jalan mundur perlahan pun dipilih untuk Rio, demi sahabat-sahabat yang sekaligus ia cintai.
Jakarta, November 2003, Kelulusan.
Hari kelulusan pun tiba. Ketiga sahabat itu lulus dengan nilai sangat memuaskan. Mereka berjalan bersama dan bergandengan tangan. Imai berada di tengah-tengah lelaki yang sangat mencintainya, ia menggengam tangan Rio jauh lebih erat dari tangan Leo. Mereka tahu, ini adalah saat perpisahan mereka. Imai akan beranjak ke Singapore bersama Leo, melanjutkan program master mereka, sedangkan Rio akan segera terbang ke Australia untuk mengikuti program beasiswa yang didapatnya pada semester terakhir kuliahnya.
Jauh di lubuk hati Imai, ia berharap Rio akan menyatakan cintanya hari itu. Namun, Imai tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Ia bahkan tidak akan mengira kalau sang pujaan hati akan menyerahkannya pada sahabatnya, Leo. Rio melepas gengaman tangan Imai siang itu. Gadis itu terkejut, lalu dengan luwesnya Rio berkata, “Imai, ini saat terakhir kita. Aku ingin mengakhirinya dengan indah tanpa menganggumu dengan Leo. I’ll never forget you, friend.”
Rio pun merengkuh Imai untuk kali pertama dalam pertemanan mereka. Imai terperangah. Ia tak berkata apapun. Gadis itu hanya menangis saat Rio melangkah menjauh dari pandangannya. Ia merasa hatinya telah terbang seiring jejak langkah Rio.
Yang tinggal hanyalah Leo dan Imai. Leo mengenggam tangan Imai lembut sekali. Pria tampan itu mencium punggung tangan Imai dengan perlahan. Imai tersenyum. Berjuta pertanyaan berkecamuk di otaknya. Berjuta perasaan berbaur dalam hatinya, merancu pada satu pertanyaan, "Mana yang lebih baik? Mencintai Rio atau Dicintai Leo?"
Singapore, Desember 2004
Setahun sudah kedekatan Leo dan Imai terjalin di negeri tetangga. Mau tak mau, Imai dipaksa melupakan Rio dengan segenap pesona Leo yang sejujurnya melebihi Rio. Namun, Imai tak bisa memungkiri bahwa mata teduh Rio lah yang ia rindukan selama ini. Rio yang menghilang bagai ditelan bumi. Entah di belahan bumi sebelah mana ia berada hari ini. Entah apa yang dilakukannya saat ini. Apa Rio pernah tahu kalau aku merindukannya? Apa Rio pernah tahu kalau aku terpaksa memilih untuk dicintai oleh Leo? Batin Imai dalam hati kecilnya setiap waktu.
“Sayang?” Teguran Leo membuat Imai bangun dari lamunannya, perlahan otaknya beranjak dari Rio ke Leo, calon tunangannya. Imai tersenyum dan menerima pelukan dan ciuman Leo. Hari itu, Leo membawakan setumpuk contoh kartu undangan untuk acara pertunangan mereka yang akan dilaksanakan bulan depan. Foto-foto Imai dan Leo yang sedang berpelukan dan tersenyum mesra pun sudah siap untuk dipajang. Mata coklat Imai berbinar melihat bermacam kartu yang menurutnya luar biasa indah. “Up to you, dear.” Senyum Imai pada calon tunangannya. Leo hanya menatapnya lembut dan merengkuhnya dalam pelukan. “You just perfect for me, Imai.” Mereka terlihat damai dalam senyuman kebahagiaan.
Sore harinya, Imai berjalan sendirian di Boulevard Orchad Road yang luar biasa ramai. Gadis itu baru saja selesai berbelanja segala perlengkapan yang diperlukan untuk pesta pertunangannya dua minggu mendatang di salah satu hypermarket yang terbesar di Singapura. Suasana menjelang Natal di jalanan padat itu pun sangat terasa. Seluruh toko menggelar diskon yang sangat miring, pohon-pohon natal menjulang tinggi dan lampu-lampu disekelilingnya membuatnya sangat indah.
Penyanyi-penyanyi jalanan memakai topi Santa Claus dan membunyikan lonceng mereka keras-keras sambil menyanyikan lagu natal. Di depan penyanyi-penyanyi jalanan itu disediakan pula sebuah kotak besi tempat memasukkan recehan atau sekedar sumbangan untuk mereka. Imai berhenti sejenak di depan para penyanyi itu. Ia memeriksa sakunya untuk mencari pecahan uang kecil, kemudian ia memasukkan 1 dolar Singapore ke dalam kotak besi itu. Para penyanyi jalanan itu memperkeras nyanyian mereka seraya mengucapkan terimakasih.
Gadis itu membawa 10 undangan pertunangannya dengan Leo dalam tas kecilnya. Ia harus mengirim sendiri kartu undangan tersebut pada relasinya. Namun, langkahnya terhenti pada pameran lukisan jalanan di pinggiran Orchad Road. Lukisan dengan tema Australia yang membawa ingatannya untuk teringat pada Rio. Imai memperlahan langkahnya untuk melihat pameran lukisan jalanan itu. Gadis itu akhirnya menghentikan langkahnya pada sebuah lukisan yang berjudul, “My lovely girl”. Imai terkejut. Ia seperti melihat cerminan dirinya pada lukisan itu. Entah berapa lama ia terpaku pada lukisan itu.
“Can I help you, Madam?”
Suara berat seseorang telah membangunkan keterpakuannya pada lukisan itu.
“No, thanks.. I just..”
Imai menghentikan kalimatnya saat ia melihat sang petugas yang baru saja menanyainya. Barang-barang belanjaannya berserakan di kaki gadis itu. Sang petugas pun tak kalah terkejutnya saat Imai memeluknya dengan erat, sambil berteriak,
“Rio!!!”
Sunday, July 12, 2009
Yang Tak Mungkin Kembali - (Bagian 1)
Sebelum saya mulai bercerita.. ku kasih asal usul deh, kenapa semua cerita ini kulabeli dengan "Kisah tak bersuara".
Asal mulanya karena saya suka menulis cerita, tapi selalu kepanjangan kalo jadi cerpen, dan terlalu pendek untuk jadi cerber, alhasil tiap kirim, gagal lagi dan gagal lagi.. hehehe!! Sepertinya harus banyak berguru ma "Sang Cerpenis Bercerita" biar banyak belajar tips and trick buat cerpen bisa dimuat...!! Hehe.. Semangat!
Cerita yang ini, idenya dari seorang murid blasteran (bukan plesteran yaa..) Indo - Jerman yang ga bisa bahasa inggris sama sekalii!! Hari pertama masuk sekolah selalu nangis karena dia ga tau gurunya ngomong apa, dan ga tau temen2nya ngomong apa.. Nempelnya sama saya melulu.. lagi!
Namanya pun saya pakai dalam cerita ini, dia sempat mengajari saya beberapa bahasa Jerman. Di mana ya dia sekarang.. kangen..
Yang udah baca blog saya, danke syun ! (English : Thanks a lot!) ;)
Yang Tak Mungkin Kembali
Jakarta, 21 Januari 2005
Leo memandangi gundukan tanah yang masih basah di depan matanya. Pria baya itu tak kuasa menahan harunya, kalau saja ia hanya sendiri di tempat itu, mungkin ia akan membongkar makam baru itu, dan ikut ke alam sorga bersama kekasih tercintanya. Dengan lembut pria itu membelai nisan yang terukir nama kekasihnya.
Rasa-rasanya ia takkan beranjak dari pemakaman umum itu, namun seorang pria lain berdiri di sisinya dengan tatapan mata hampa.
“Apa yang kau cari disini, pengecut?!” Hardik Rio pada pria itu.
“Leo, gadis ini adalah gadis yang paling kucintai di seluruh dunia…”
“Cinta?” Tanya Leo dengan nada sinis. “Cinta? Cinta apa, What kind of love that you can give her, Rio?”
“Endless love, Leo.” Jawab Rio dingin, sedingin tatapan matanya yang menyiratkan keputusasaan.
“It’s too late, then!” teriak Leo. Rio terpaku mendengar teriakan Leo. Ucapan yang sama saat ia mencoba mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
“Imai!!!” “Jangan tinggalkan aku……!!!” Isak Leo siang itu.
Rio memalingkan wajahnya dan mengenakan kacamata hitamnya untuk menutupi dua bulir airmata yang tak mampu ia tahan lagi. Ia berdoa, andainya Ia mampu memutar waktu.. Ia akan memperbaiki semuanya.
Semuanya…
5 tahun sebelumnya……..
Mereka bertiga masih berkumpul dengan ceria, di kampus kesayangan mereka. Imai Isnaini. Gadis Indo-Jerman yang sangat ramah, pintar, dan sangat mudah bergaul. Hampir tidak ada orang yang tidak menyukainya. Hidungnya yang bangir, mata coklat besarnya yang selalu bersinar, rambut coklat ikal panjangnya yang selalu diikat rapi, senyumnya yang tulus selalu dirindukan oleh semua orang, khususnya para kaum Adam. Namun, para pria tersebut boleh iri kepada dua orang keturunan adam yang bernama Leo dan Rio. Karena kedua sohib ini sangat dekat dengan Imai. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka berdua menaruh hati pada Imai. Tapi mungkin orang-orang sekampus akan bingung, karena Imai tidak menunjukkan tanda-tanda berat sebelah pada dua karib itu. Apakah Imai akan membuat sensasi poligami, dengan menerima cinta kedua lelaki itu? Wah, tak seorang pun tau jawabnya, yang jelas, seantero kampus sudah mengetahui bahwa mereka bertiga berteman baik. Dimana ada Imai, disitu pasti ada Rio dan Leo.
Leo merupakan lelaki biasa yang menarik. Ia mempunyai rambut keren seperti iklan shampo terkenal di TV, perawakannya tinggi, berhidung mancung, berbadan tegap, dan suara khas lelaki yang menggetarkan setiap hati setiap wanita, berkulit bersih pula. Kriteria yang sangat sempurna, bukan? Leo sangat tertarik pada bahasa Jerman, ia terus-menerus memaksa Imai agar berbahasa Jerman dengannya.
Sampai kadang-kadang Imai nyerocos dengan lancarnya, dan Leo hanya bisa manggut-manggut tanda tak mengerti. “Guten Morgen, Leo!” Sapaan khas Imai di pagi hari itu yang biasa ditunggu-tunggu Leo setiap harinya. Setelah Imai mengucapkan kalimat sapaan itu, biasanya gadis itu akan memberikan bonus cipika cipiki di kedua pipi Leo yang mulus. Lelaki yang sungguh beruntung.
Lain halnya Rio. Pria ini mempunyai wajah sangat Indonesia. Dengan kulit sawo matangnya yang semakin menghitam karena hobi bermain bola yang dilakoninya setiap siang di lapangan berdebu di belakang kampus. Namun yang perlu dibanggakan dari Rio adalah kemampuan akademiknya. Sudah berkali-kali ia mewakili kampus dalam kontes-kontes yang mengadu kemampuan akademik. Ia bahkan sering dikirim ke luar Indonesia untuk berpatisipasi menjadi pahlawan kampus. Dan Imai dapat memanfaatkan kemampuan Rio dengan baik. Gadis itu selalu mengunjungi Rio ke kosnya apabila ada tugas kuliah yang harus didiskusikan. Untuk hal ini, memang Rio jagonya. Biasanya setelah Rio membantunya, Imai akan membuatkan makanan kesukaan Rio, atau mentraktirnya nonton di bioskop terdekat. Namun, tidak pergi berdua saja, Leo pun turut serta. Sungguh tiga serangkai yang memuat orang berdecak kagum, senang, sekaligus iri.
Sepertinya Imai menikmati persahabatan dengan dua pria tersebut. Namun, perlu diingat bahwa sedalam-dalam lautan, tentu masih bisa terukur oleh alat buatan canggih manusia. Lain halnya, hati seorang manusia, khususnya seorang gadis, siapa yang bisa mengetahui? Seperti isi kata hati Imai, yang hanya bisa terungkap pada sebuah buku coklat lusuh yang rutin ia tulisi setiap malam menjelang tidur.
Dear Diary,
Tadi sore, aku bertandang lagi ke kos Rio. Aku membawa diktat-diktat kuliahku yang tebal, berharap ia akan membaca dan mempelajari diktat-diktat itu di depanku, menatap mataku, dan mungkin ia nantinya akan menciumku. Oh.. tidak mungkin..! Dia tidak mungkin mencintaiku. Namun aku beruntung, sore tadi tidak ada Leo. Terkadang aku senang berkumpul bersama dua pria tampan itu. Tapi aku tak mau kehilangan waktu emasku bersama Rio. Memandangi kulit coklatnya yang seksi, senyumnya, atau pandangan matanya yang teduh. Du bis syun…!(English : He's cute!) Apa aku harus menyatakan cinta terlebih dahulu….
Imai menghentikan tulisannya. Ia memutar mata coklatnya dan menghela nafas berat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan lagi. Ia merasa sudah cukup memberikan sinyal-sinyal cinta pada Rio. Apa Rio sudah tahu? Atau pura-pura tidak tahu..? Gadis cantik itu menutup buku coklat lusuhnya itu. Ia menelungkupkan wajah cantiknya di atas meja kayu kamarnya. Ia takut penolakan sekaligus takut akan kehilangan teman seperti Rio..
Asal mulanya karena saya suka menulis cerita, tapi selalu kepanjangan kalo jadi cerpen, dan terlalu pendek untuk jadi cerber, alhasil tiap kirim, gagal lagi dan gagal lagi.. hehehe!! Sepertinya harus banyak berguru ma "Sang Cerpenis Bercerita" biar banyak belajar tips and trick buat cerpen bisa dimuat...!! Hehe.. Semangat!
Cerita yang ini, idenya dari seorang murid blasteran (bukan plesteran yaa..) Indo - Jerman yang ga bisa bahasa inggris sama sekalii!! Hari pertama masuk sekolah selalu nangis karena dia ga tau gurunya ngomong apa, dan ga tau temen2nya ngomong apa.. Nempelnya sama saya melulu.. lagi!
Namanya pun saya pakai dalam cerita ini, dia sempat mengajari saya beberapa bahasa Jerman. Di mana ya dia sekarang.. kangen..
Yang udah baca blog saya, danke syun ! (English : Thanks a lot!) ;)
Yang Tak Mungkin Kembali
Jakarta, 21 Januari 2005
Leo memandangi gundukan tanah yang masih basah di depan matanya. Pria baya itu tak kuasa menahan harunya, kalau saja ia hanya sendiri di tempat itu, mungkin ia akan membongkar makam baru itu, dan ikut ke alam sorga bersama kekasih tercintanya. Dengan lembut pria itu membelai nisan yang terukir nama kekasihnya.
Rasa-rasanya ia takkan beranjak dari pemakaman umum itu, namun seorang pria lain berdiri di sisinya dengan tatapan mata hampa.
“Apa yang kau cari disini, pengecut?!” Hardik Rio pada pria itu.
“Leo, gadis ini adalah gadis yang paling kucintai di seluruh dunia…”
“Cinta?” Tanya Leo dengan nada sinis. “Cinta? Cinta apa, What kind of love that you can give her, Rio?”
“Endless love, Leo.” Jawab Rio dingin, sedingin tatapan matanya yang menyiratkan keputusasaan.
“It’s too late, then!” teriak Leo. Rio terpaku mendengar teriakan Leo. Ucapan yang sama saat ia mencoba mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
“Imai!!!” “Jangan tinggalkan aku……!!!” Isak Leo siang itu.
Rio memalingkan wajahnya dan mengenakan kacamata hitamnya untuk menutupi dua bulir airmata yang tak mampu ia tahan lagi. Ia berdoa, andainya Ia mampu memutar waktu.. Ia akan memperbaiki semuanya.
Semuanya…
5 tahun sebelumnya……..
Mereka bertiga masih berkumpul dengan ceria, di kampus kesayangan mereka. Imai Isnaini. Gadis Indo-Jerman yang sangat ramah, pintar, dan sangat mudah bergaul. Hampir tidak ada orang yang tidak menyukainya. Hidungnya yang bangir, mata coklat besarnya yang selalu bersinar, rambut coklat ikal panjangnya yang selalu diikat rapi, senyumnya yang tulus selalu dirindukan oleh semua orang, khususnya para kaum Adam. Namun, para pria tersebut boleh iri kepada dua orang keturunan adam yang bernama Leo dan Rio. Karena kedua sohib ini sangat dekat dengan Imai. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka berdua menaruh hati pada Imai. Tapi mungkin orang-orang sekampus akan bingung, karena Imai tidak menunjukkan tanda-tanda berat sebelah pada dua karib itu. Apakah Imai akan membuat sensasi poligami, dengan menerima cinta kedua lelaki itu? Wah, tak seorang pun tau jawabnya, yang jelas, seantero kampus sudah mengetahui bahwa mereka bertiga berteman baik. Dimana ada Imai, disitu pasti ada Rio dan Leo.
Leo merupakan lelaki biasa yang menarik. Ia mempunyai rambut keren seperti iklan shampo terkenal di TV, perawakannya tinggi, berhidung mancung, berbadan tegap, dan suara khas lelaki yang menggetarkan setiap hati setiap wanita, berkulit bersih pula. Kriteria yang sangat sempurna, bukan? Leo sangat tertarik pada bahasa Jerman, ia terus-menerus memaksa Imai agar berbahasa Jerman dengannya.
Sampai kadang-kadang Imai nyerocos dengan lancarnya, dan Leo hanya bisa manggut-manggut tanda tak mengerti. “Guten Morgen, Leo!” Sapaan khas Imai di pagi hari itu yang biasa ditunggu-tunggu Leo setiap harinya. Setelah Imai mengucapkan kalimat sapaan itu, biasanya gadis itu akan memberikan bonus cipika cipiki di kedua pipi Leo yang mulus. Lelaki yang sungguh beruntung.
Lain halnya Rio. Pria ini mempunyai wajah sangat Indonesia. Dengan kulit sawo matangnya yang semakin menghitam karena hobi bermain bola yang dilakoninya setiap siang di lapangan berdebu di belakang kampus. Namun yang perlu dibanggakan dari Rio adalah kemampuan akademiknya. Sudah berkali-kali ia mewakili kampus dalam kontes-kontes yang mengadu kemampuan akademik. Ia bahkan sering dikirim ke luar Indonesia untuk berpatisipasi menjadi pahlawan kampus. Dan Imai dapat memanfaatkan kemampuan Rio dengan baik. Gadis itu selalu mengunjungi Rio ke kosnya apabila ada tugas kuliah yang harus didiskusikan. Untuk hal ini, memang Rio jagonya. Biasanya setelah Rio membantunya, Imai akan membuatkan makanan kesukaan Rio, atau mentraktirnya nonton di bioskop terdekat. Namun, tidak pergi berdua saja, Leo pun turut serta. Sungguh tiga serangkai yang memuat orang berdecak kagum, senang, sekaligus iri.
Sepertinya Imai menikmati persahabatan dengan dua pria tersebut. Namun, perlu diingat bahwa sedalam-dalam lautan, tentu masih bisa terukur oleh alat buatan canggih manusia. Lain halnya, hati seorang manusia, khususnya seorang gadis, siapa yang bisa mengetahui? Seperti isi kata hati Imai, yang hanya bisa terungkap pada sebuah buku coklat lusuh yang rutin ia tulisi setiap malam menjelang tidur.
Dear Diary,
Tadi sore, aku bertandang lagi ke kos Rio. Aku membawa diktat-diktat kuliahku yang tebal, berharap ia akan membaca dan mempelajari diktat-diktat itu di depanku, menatap mataku, dan mungkin ia nantinya akan menciumku. Oh.. tidak mungkin..! Dia tidak mungkin mencintaiku. Namun aku beruntung, sore tadi tidak ada Leo. Terkadang aku senang berkumpul bersama dua pria tampan itu. Tapi aku tak mau kehilangan waktu emasku bersama Rio. Memandangi kulit coklatnya yang seksi, senyumnya, atau pandangan matanya yang teduh. Du bis syun…!(English : He's cute!) Apa aku harus menyatakan cinta terlebih dahulu….
Imai menghentikan tulisannya. Ia memutar mata coklatnya dan menghela nafas berat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan lagi. Ia merasa sudah cukup memberikan sinyal-sinyal cinta pada Rio. Apa Rio sudah tahu? Atau pura-pura tidak tahu..? Gadis cantik itu menutup buku coklat lusuhnya itu. Ia menelungkupkan wajah cantiknya di atas meja kayu kamarnya. Ia takut penolakan sekaligus takut akan kehilangan teman seperti Rio..
Saturday, July 11, 2009
Tas Kuning (Bagian 4 - habis)
Ringkasan cerita sebelumnya :
Diandra VS Virga..
atau, Hendra VS Virga.. ?? (Kalo ga jelas, saran saya tetep... baca dulu bagian 1, 2, dan 3, yak! ) hehehe!
Keesokan paginya, Hendra pun berangkat ke sekolah dengan tas berwarna Biru, hadiah dari Ibunya.
“Wah, tumben Hen, pake tas yang itu. Ibu seneng dech..” Hendra hanya tersenyum.
“Bu, Hendra berangkat dulu.”
“Hati-hati ya, Nak.”
Sesampainya di sekolah, Hendra melihat parkiran timur. Ia mencoba mencari mobil Virga. Waduh, udah dateng dia, ga pa pa lah.. Bisik Hendra dalam hati, waktu ia melihat mobil Starlet putih milik Virga. Tiba-tiba Hendra terkejut, karena ada seseorang yang menepuk pundaknya.
“Hen, jadi bener… elo bener-bener cinta ya ma si Diandra buruk rupa itu..?” Hendra terkejut, karena di depannya sudah ada Virga, belum lagi Ia coba menjawab, Virga sudah menyemprotnya bertubi-tubi.
“Tas kuning lo mana, Hen…? elo ga lupa kan pesen gue waktu itu..?”
“Virga…” Sela Hendra.
“Berarti, lo bener-bener dah ga cinta- ga sayang lagi ma gue Hen…!” Jerit Virga. Hendra mencoba menenangkan Virga dengan memegang lengan Virga dengan lembut.
“Vir.. denger gue dulu…” Virga sama sekali tidak mau menatap mata Hendra pagi itu, gadis itu malah menepis sentuhan Hendra, dan berlari setelah ia berteriak..,
“Lo, jahat Hen..!!” Hendra terhenyak. Ia mengepalkan tangannya, kesal. Sementara itu, Dian ternyata memandangi peristiwa itu dengan sedih dari kejauhan parkir SMA Smanela.
Sepulang sekolah tampak seorang gadis cantik berkaca mata telah menunggu sosok Hendra di samping mobil Starlet putihnya.
Mungkin ini saat yang tepat kalo gue putus sama Hendra, hari ini dia bener-bener keterlaluan…
Suara hati Virga sudah sangat mantap ketika nunggu Hendra di pelataran parkir timur. Eh, cepet banget dia nongol.. Virga memperbaiki kacamatanya.
“Hai, Vir, kamu nunggu aku pulang?” Sapa Hendra sambil tersenyum.
“Hen.. kamu ga usah sok ramah dech.” Jawab Virga ketus.
Senyum Hendra menghilang “Lo.. Vir? Kenapa?” Tanya Hendra heran.
“Hen, hari ini aku udah tau, kalo kamu bener-bener udah ga sayang lagi ma aku.” Hendra menkerutkan alisnya.
“Vir…”
“Hen, aku minta putus!”
“Apa?” pekik Hendra siang itu.
“Iya, Hen. PUTUS!” Tegas Virga.
“Vir, ini akibat kecemburuan kamu dengan Diandra, kan?”
Virga melakukan gerakan bibir seperti mencemooh. “Cemburu, buat apa? Udah jelas dia buruk rupa seperti itu, kok. Lagian benernya gue kasian sama elo, Hen. Kok bisa-bisanya lo jatuh cinta sama gadis seperti Diandra….”
“Gue ga nyangka Vir kamu sejahat itu.” Bales Hendra.
“Maksud kamu?!” Tanya Virga ketus.
“Okey, Virga, Diandra Saraswati itu, sepupu jauh gua. Lo seharusnya tau itu.”
“Apa? Saras? Sepupu lo dari Kendari itu?” Tanya Virga, wajahnya memucat.
“Lo tau kan sejarah gue sama dia? Lo tau kan, dia yang menentang perjodohan gue ma dia? Lo tau kan dia ngasi gue kesempatan untuk pacaran ma elo?” Cerca Hendra bertubi-tubi. Virga menutup mulutnya tak percaya.
“Ken..kenapa elo ga ngasi tau gue Hen…” tanya Virga terbata-bata.
Hendra tersenyum sinis, “Karena elo ga pernah menyimak apa yang gue bilang, dan elo ga berubah.” “Elo tetep ngenilai orang dari luarnya aja, elo ga pernah tau gimana baiknya sepupu gue itu!” bentak Hendra.
“A..aku..” Virga menunduk memandangi tanah becek di bawahnya.
“Gue cinta ma elo, Vir. Karena gue kira hati elo secantik wajah elo. Ternyata..ga sebanding.” Hendra menghela nafas berat. Saat itu, Virga rasanya ingin berlari dan menyesali keputusan yang ia buat. Namun sepertinya, Hendra sudah tidak bisa mentoleransi kesalahan Virga kali ini.
“Putus, keputusan yang bijaksana, Vir. Sungguh.”
Mata Virga terasa panas siang itu.
“Oya, satu hal lagi. Tas kuning elo, Dian yang nyuci. Karena tas itu sudah setahun ga pernah aku cuci, maaf aku baru kasih tau kamu.” Kata Hendra pelan.
“Hen…. Aku minta maaf.” Hendra tersenyum dan menggeleng pelan.
“Kamu harus memperbaiki diri Vir. Don’t judge book from its cover..” Virga mengusap air di pelupuk matanya.
“Gimana hubungan kita, Hen?” tanya Virga takut-takut.
“Seperti yang kamu minta, Vir.”
Virga membuka mulutnya, terkejut.
“Tapi makasih untuk semuanya ya Vir, mungkin tahun depan aku akan mengajukan perjodohan yang sempat ditolak oleh Diandra…” Jawab Hendra pelan.
Dengan lembut dia mengusap kepala Virga dan tersenyum. Lalu ia berbalik arah menuju parkiran barat dengan langkah ringan meninggalkan Virga yang larut dalam tangis dan penyesalan yang selalu datang terlambat…
Hendra maafin gue…!!
--- fin ---
Melaleuca Road
(di sela-sela packing)
11 Juli 09 / 9:49 am
Diandra VS Virga..
atau, Hendra VS Virga.. ?? (Kalo ga jelas, saran saya tetep... baca dulu bagian 1, 2, dan 3, yak! ) hehehe!
Keesokan paginya, Hendra pun berangkat ke sekolah dengan tas berwarna Biru, hadiah dari Ibunya.
“Wah, tumben Hen, pake tas yang itu. Ibu seneng dech..” Hendra hanya tersenyum.
“Bu, Hendra berangkat dulu.”
“Hati-hati ya, Nak.”
Sesampainya di sekolah, Hendra melihat parkiran timur. Ia mencoba mencari mobil Virga. Waduh, udah dateng dia, ga pa pa lah.. Bisik Hendra dalam hati, waktu ia melihat mobil Starlet putih milik Virga. Tiba-tiba Hendra terkejut, karena ada seseorang yang menepuk pundaknya.
“Hen, jadi bener… elo bener-bener cinta ya ma si Diandra buruk rupa itu..?” Hendra terkejut, karena di depannya sudah ada Virga, belum lagi Ia coba menjawab, Virga sudah menyemprotnya bertubi-tubi.
“Tas kuning lo mana, Hen…? elo ga lupa kan pesen gue waktu itu..?”
“Virga…” Sela Hendra.
“Berarti, lo bener-bener dah ga cinta- ga sayang lagi ma gue Hen…!” Jerit Virga. Hendra mencoba menenangkan Virga dengan memegang lengan Virga dengan lembut.
“Vir.. denger gue dulu…” Virga sama sekali tidak mau menatap mata Hendra pagi itu, gadis itu malah menepis sentuhan Hendra, dan berlari setelah ia berteriak..,
“Lo, jahat Hen..!!” Hendra terhenyak. Ia mengepalkan tangannya, kesal. Sementara itu, Dian ternyata memandangi peristiwa itu dengan sedih dari kejauhan parkir SMA Smanela.
Sepulang sekolah tampak seorang gadis cantik berkaca mata telah menunggu sosok Hendra di samping mobil Starlet putihnya.
Mungkin ini saat yang tepat kalo gue putus sama Hendra, hari ini dia bener-bener keterlaluan…
Suara hati Virga sudah sangat mantap ketika nunggu Hendra di pelataran parkir timur. Eh, cepet banget dia nongol.. Virga memperbaiki kacamatanya.
“Hai, Vir, kamu nunggu aku pulang?” Sapa Hendra sambil tersenyum.
“Hen.. kamu ga usah sok ramah dech.” Jawab Virga ketus.
Senyum Hendra menghilang “Lo.. Vir? Kenapa?” Tanya Hendra heran.
“Hen, hari ini aku udah tau, kalo kamu bener-bener udah ga sayang lagi ma aku.” Hendra menkerutkan alisnya.
“Vir…”
“Hen, aku minta putus!”
“Apa?” pekik Hendra siang itu.
“Iya, Hen. PUTUS!” Tegas Virga.
“Vir, ini akibat kecemburuan kamu dengan Diandra, kan?”
Virga melakukan gerakan bibir seperti mencemooh. “Cemburu, buat apa? Udah jelas dia buruk rupa seperti itu, kok. Lagian benernya gue kasian sama elo, Hen. Kok bisa-bisanya lo jatuh cinta sama gadis seperti Diandra….”
“Gue ga nyangka Vir kamu sejahat itu.” Bales Hendra.
“Maksud kamu?!” Tanya Virga ketus.
“Okey, Virga, Diandra Saraswati itu, sepupu jauh gua. Lo seharusnya tau itu.”
“Apa? Saras? Sepupu lo dari Kendari itu?” Tanya Virga, wajahnya memucat.
“Lo tau kan sejarah gue sama dia? Lo tau kan, dia yang menentang perjodohan gue ma dia? Lo tau kan dia ngasi gue kesempatan untuk pacaran ma elo?” Cerca Hendra bertubi-tubi. Virga menutup mulutnya tak percaya.
“Ken..kenapa elo ga ngasi tau gue Hen…” tanya Virga terbata-bata.
Hendra tersenyum sinis, “Karena elo ga pernah menyimak apa yang gue bilang, dan elo ga berubah.” “Elo tetep ngenilai orang dari luarnya aja, elo ga pernah tau gimana baiknya sepupu gue itu!” bentak Hendra.
“A..aku..” Virga menunduk memandangi tanah becek di bawahnya.
“Gue cinta ma elo, Vir. Karena gue kira hati elo secantik wajah elo. Ternyata..ga sebanding.” Hendra menghela nafas berat. Saat itu, Virga rasanya ingin berlari dan menyesali keputusan yang ia buat. Namun sepertinya, Hendra sudah tidak bisa mentoleransi kesalahan Virga kali ini.
“Putus, keputusan yang bijaksana, Vir. Sungguh.”
Mata Virga terasa panas siang itu.
“Oya, satu hal lagi. Tas kuning elo, Dian yang nyuci. Karena tas itu sudah setahun ga pernah aku cuci, maaf aku baru kasih tau kamu.” Kata Hendra pelan.
“Hen…. Aku minta maaf.” Hendra tersenyum dan menggeleng pelan.
“Kamu harus memperbaiki diri Vir. Don’t judge book from its cover..” Virga mengusap air di pelupuk matanya.
“Gimana hubungan kita, Hen?” tanya Virga takut-takut.
“Seperti yang kamu minta, Vir.”
Virga membuka mulutnya, terkejut.
“Tapi makasih untuk semuanya ya Vir, mungkin tahun depan aku akan mengajukan perjodohan yang sempat ditolak oleh Diandra…” Jawab Hendra pelan.
Dengan lembut dia mengusap kepala Virga dan tersenyum. Lalu ia berbalik arah menuju parkiran barat dengan langkah ringan meninggalkan Virga yang larut dalam tangis dan penyesalan yang selalu datang terlambat…
Hendra maafin gue…!!
--- fin ---
Melaleuca Road
(di sela-sela packing)
11 Juli 09 / 9:49 am
Friday, July 10, 2009
Tas Kuning (Bagian 3)
Cerita sebelumnya :
Baca Bagian 1 dan 2 ya.... (hehehehe)
Untungnya, Dian ga perlu mematung di depan kelas selamanya. Karena tepat saat Ia hampir menyerah, bel sekolah tanda pulang berbunyi keras…sekali. Untuk kali pertama, Dian merasa bahwa itu bunyi bel dari surga. Save by the bell, thanks God serunya dalam hati.
“Diandra, kamu boleh duduk. Biar hari Kamis kita bahas jawaban kamu.” Ujar Pak Raka. Dian tersenyum manis sekali saat itu, menutupi rasa malunya pada teman-teman yang lainnya. Dian segera menduduki kursi di sebelah Tia.
“Nyaris gue, Ti..” Tia menepuk-nepuk bahunya.
“Tenang aja, kan ada Tia si Dewi Fortuna.” Cengirnya.
“Ah, elu..”
“Eh!” Dian seperti teringat sesuatu.
“Napa, Di?” Tanya Tia heran.
“Gue harus ngejar si Cok.” Ujar Dian sambil membereskan buku-bukunya dengan cepat.
“Buat apa?” kejar Tia.
“Mau ngasi kunci motor si Hendra” tambahnya.
Saat itu, kebetulan HP Dian berbunyi. Lo, Tante Heni? Pikir Dian saat melihat layar handphonenya. Dian segera menekan tombol yes.
“Siang Tante.”
“Siang Saras, ini tadi si Hendra lupa, tasnya malah ditinggalin di kelas. Saras tolong ambil ya…” Ujar Tante Heni.
“M.. tapi Tante, Saras ga tau rumah tante Heni yang sekarang…”
Suara di sebrang telfon pun mengisyaratkan nada setuju.
“Oh iya, ya. Ya udah, Saras bawa aja dulu. Nanti kalo Hendra sudah sehat, dia kan bisa nelfon Saras, ok?”
Dian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ok, tante. Sekarang saya ambil dech.”
“Makasi ya nak Saras.”
Clik.
“Saras?” ujar Tia terkejut.
“Iya, kenapa Ti?”
“Aneh Di, masa keluarga lo manggil nama belakang lo?”
Dian menaikkan bahunya. “Mungkin karena nama belakangku begitu cantik. Saraswati”
“Huu..” Ejek Tia. Dian hanya bisa berlari menghindari gelitikan Tia.
Dian berlari menuju kelas II B, kelasnya Hendra. Untungnya Cok juga ada disitu. “Diandra!” Pekik Cok.
Dian terkejut. “Apaan, Cok?” tanyanya bingung.
“Gue nunggu lo sampe kering.” Tubuh gembul Cok mendekati Dian dan dia langsung mengulurkan tangannya.
“Mana kuncinya, Di?”
“Nih.” Ujar Dian seraya memberikan kunci motor Hendra.
“Mana tasnya Hendra?” Cok menunjuk ke bangku depan no 2,
“Tuh, yang warna kuning.” Dian berjalan ke arah bangku Hendra dan mengambil tas kuning Hendra.
Mereknya sih Ok, tapi kok sampe bulukan gini sih? Kagak pernah dicuci apa? Pikir Dian.
“Tasnya dah tua banget ya Di?” Ujar Cok seperti bisa membaca pikiran Dian. Dian menanggukkan kepalanya dengan semangat.
“O ya, Cok, kalo misalnya besok si Hendra masuk, dan gue ga sempet ngembaliin tasnya, bilang aja gue yang minjem ya..?” Pesan Dian. Ganti Cok yang bingung.
Tas jelek gitu ngapaen lo pinjem, Di? Kayak ga ada kerjaan aja?!” Sambung Cok.
“Ye.. mau gue laundry dulu.” Cok hanya menjawab “O..”
“Habis masa orangnya cakep, tasnya buruk rupa?” Jelas Dian pada Cok. Cok hanya tersenyum.
“Iya, Diandra yang baek, nanti gue sampein ma Hendra Yana Utomo, yah?” Dian hanya mengacungkan jempolnya pada Cok.
“Gue duluan Cok!” Cok melambaikan tangannya pada Dian.
Di parkiran SMA Smanela yang super duper luas, Virga lagi nunggu-nunggu Hendra untuk meminta klarifikasi kejadian jam istirahat tadi. Virga resah sekali, ia ga nyangka hubungan mereka yang hampir dua tahun itu kini terusik oleh datangnya seorang Diandra yang buruk rupa!
Mati kesal kalo Virga mengingat gimana Dian memeluk pinggang Hendra dengan mesra. Bolak balik ia melihat jam tangannya. Berdiri, duduk, melihat jam. Perbuatan itu diulang berkali-kali.
“Duh.. lama banget sih si Hendra, apa dia lagi ngobrol sama Diandra ya..?” Gadis manis itu menghela nafas beratnya. Dia tiba-tiba tersenyum melihat sekelebatan tas kuning Hendra.
Eh, tuh Hendra bukan ya? Gadis itu berusaha memanjang-manjangkan lehernya untuk mencari wajah Hendra dan tas kuningnya di tengah-tengah segerombolan siswa SMA Smanela yang riuh ramai.
“Lo?!” Air muka Virga langsung berubah saat Ia mengetahui bahwa tas kuning Hendra sedang bertengger dengan manisnya di bahu Dian. Siang yang panas itu menambah panasnya hati Virga. Ia bahkan tak tahu apa yang harus diucapkan pada makhluk buruk rupa seperti Diandra. Dian yang tak menyadari dirinya dipandangi, bersikap sangat wajar. Walaupun instinctnya mengatakan bahwa ada yang memperhatikannya. Akhirnya tak sengaja mata mereka bertautan dari jarak jauh. Dian mendadak gugup, namun ia berusaha tenang menatap Virga, bahkan Dian memberanikan diri untuk tersenyum dan melambaikan tangan pada Virga. Senyum Dian malah dibalas oleh pandangan penuh amarah. Virga kesal sekali siang itu, gadis itu menghentakkan kaki dengan kesal, lalu dengan setengah berlari ia menuju mobilnya dan hanya meninggalkan debu-debu mobilnya untuk (yang tidak sengaja) mengotori wajah Dian.
Dian memandangi tas kuning Hendra yang menyelempang di pundaknya.
“Gara-gara kamu ya si Virga marah?” Dian menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dasar, tas kuning bulukan” gerutunya sambil menghidupkan motornya dan memacu gasnya dengan sedikit kencang. Di perjalanan menuju rumah, Dian menyempatkan diri untuk mampir ke Laundry. Gadis itu menitipkan tas Hendra disitu, sambil berpesan manis dengan penjaga laundry.
“Mbak.., musti bersih dan wangi.. ya?” Si penjaga malah menjawabnya dengan jutek, “Ga usah kaya iklan gitu lage.. Mbak.? Dijamin super duper bersih en wangi!” Dian manyun, dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan senyum lega.
“Saras.., tas ku udah kamu selametin kan?” Ujar Hendra dari ujung sebrang telfon Dian sore itu.
“Udah!” jawab Dian manyun.
“Kenapa kamu ga suruh Virga aja sih?”
“Lo? Emang dia liat kamu bawa tas aku, Saras?” Jawab Hendra, ada nada panik dalam pernah suaranya
“Ya..iyalah, Hen….!” Balas Dian.
“Aduh…Di, mati deh aku…”
“Emang kenapa Hen..?” Dian bener-bener completely, totally, kagak ngarti dengan maksud Hendra.
“Mm… Gini Di, tas itu hadiah ultah dari Virga untuk aku. Dan aku musti tiap hari pake tas itu, kalo aku ga make, berarti aku udah ga sayang lagi ma dia….” Kata Hendra dengan lemah dan pasrah.
“Oh.., pantes tas itu bulukan banget, ga pernah diganti dan ga pernah dicuci! Ck…Ck..” Di sebrang sana Hendra benar-benar manyun medengar komentar Dian.
“Hen.. Hen, coba kamu lihat, tatapan matanya Virga, serem banget tau waktu mandang tas kuning bulukanmu itu…” lanjut Dian.
“Di…, please, kembaliin donk sekarang tas itu, biar besok aku bisa pake ke sekolah.” Balas Hendra. Dian terkejut.
Aduh, gemana ya.. Tas kuning itu kan masih di Laundry. Dua hari lagi baru kelar, musim hujan-hujan lagi…Waduh!
“Hen… kayaknya aku ga bisa bawa tas kamu besok..” Ujar Dian takut-takut.
“Kenapa, Di?”
“Yah… masih aku cuci. Mungkin tiga hari lagi?” Hendra tiba-tiba tertawa ngakak.
“Ha..ha..ha, kamu cuci, Di? Gila kamu!”
Dian mengkerutkan keningnya, “Heh! Udah dibantuin nyuci, kamu bilang aku gila! Kebangetan kamu Hen…!” hardiknya- pura-pura marah sih, ceritanya.
“Makasi ya Di, ga pa pa dech. Biar aku yang ngomong ma Virga. Kalo mau, kamu boleh pinjem kok, untuk seminggu aja.” Ujar Hendra ramah.
“Oya? Kenapa? Ga takut disemprot ma cewek kamu, Hen?” Tanya Dian.
“Biarin deh. Kapan dia mau belajar dewasa, dah gede gitu, sifat masih balita…” Dian Cuma bengong denger statement Hendra waktu itu.
“Lagian.. aku juga pengen nyoba tas baru yang dibeliin Ibu buat aku.”
Dian mengangguk-angguk kecil. (Bodoh, ya? Lagian Hendra juga ga liat)
“Ya udah, seneng denger kamu udah bisa nelfon aku, Hen..” Kata Dian.
“Yup, makasi juga udah susah-susah nyuci tasku.” Dian hanya tersenyum. “See you besok yaa..” akhirnya terucap juga kalimat yang mampu menghentikan percakapan mereka sore itu.
Di seberang telfon, Hendra tersenyum-senyum sendiri memikirkan Dian. Kenapa rasanya sangat nyaman berbicara dengan Dian.. ga seperti Virga.
Seandainya Dian bukan…
”Hen..! Ayo sini, jangan nelfon kelamaan!” Lamunan Hendra pun tak sempat diselesaikan, karena Ibunya sudah mulai cerewet lagi memanggilnya untuk minum obat.
Baca Bagian 1 dan 2 ya.... (hehehehe)
Untungnya, Dian ga perlu mematung di depan kelas selamanya. Karena tepat saat Ia hampir menyerah, bel sekolah tanda pulang berbunyi keras…sekali. Untuk kali pertama, Dian merasa bahwa itu bunyi bel dari surga. Save by the bell, thanks God serunya dalam hati.
“Diandra, kamu boleh duduk. Biar hari Kamis kita bahas jawaban kamu.” Ujar Pak Raka. Dian tersenyum manis sekali saat itu, menutupi rasa malunya pada teman-teman yang lainnya. Dian segera menduduki kursi di sebelah Tia.
“Nyaris gue, Ti..” Tia menepuk-nepuk bahunya.
“Tenang aja, kan ada Tia si Dewi Fortuna.” Cengirnya.
“Ah, elu..”
“Eh!” Dian seperti teringat sesuatu.
“Napa, Di?” Tanya Tia heran.
“Gue harus ngejar si Cok.” Ujar Dian sambil membereskan buku-bukunya dengan cepat.
“Buat apa?” kejar Tia.
“Mau ngasi kunci motor si Hendra” tambahnya.
Saat itu, kebetulan HP Dian berbunyi. Lo, Tante Heni? Pikir Dian saat melihat layar handphonenya. Dian segera menekan tombol yes.
“Siang Tante.”
“Siang Saras, ini tadi si Hendra lupa, tasnya malah ditinggalin di kelas. Saras tolong ambil ya…” Ujar Tante Heni.
“M.. tapi Tante, Saras ga tau rumah tante Heni yang sekarang…”
Suara di sebrang telfon pun mengisyaratkan nada setuju.
“Oh iya, ya. Ya udah, Saras bawa aja dulu. Nanti kalo Hendra sudah sehat, dia kan bisa nelfon Saras, ok?”
Dian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ok, tante. Sekarang saya ambil dech.”
“Makasi ya nak Saras.”
Clik.
“Saras?” ujar Tia terkejut.
“Iya, kenapa Ti?”
“Aneh Di, masa keluarga lo manggil nama belakang lo?”
Dian menaikkan bahunya. “Mungkin karena nama belakangku begitu cantik. Saraswati”
“Huu..” Ejek Tia. Dian hanya bisa berlari menghindari gelitikan Tia.
Dian berlari menuju kelas II B, kelasnya Hendra. Untungnya Cok juga ada disitu. “Diandra!” Pekik Cok.
Dian terkejut. “Apaan, Cok?” tanyanya bingung.
“Gue nunggu lo sampe kering.” Tubuh gembul Cok mendekati Dian dan dia langsung mengulurkan tangannya.
“Mana kuncinya, Di?”
“Nih.” Ujar Dian seraya memberikan kunci motor Hendra.
“Mana tasnya Hendra?” Cok menunjuk ke bangku depan no 2,
“Tuh, yang warna kuning.” Dian berjalan ke arah bangku Hendra dan mengambil tas kuning Hendra.
Mereknya sih Ok, tapi kok sampe bulukan gini sih? Kagak pernah dicuci apa? Pikir Dian.
“Tasnya dah tua banget ya Di?” Ujar Cok seperti bisa membaca pikiran Dian. Dian menanggukkan kepalanya dengan semangat.
“O ya, Cok, kalo misalnya besok si Hendra masuk, dan gue ga sempet ngembaliin tasnya, bilang aja gue yang minjem ya..?” Pesan Dian. Ganti Cok yang bingung.
Tas jelek gitu ngapaen lo pinjem, Di? Kayak ga ada kerjaan aja?!” Sambung Cok.
“Ye.. mau gue laundry dulu.” Cok hanya menjawab “O..”
“Habis masa orangnya cakep, tasnya buruk rupa?” Jelas Dian pada Cok. Cok hanya tersenyum.
“Iya, Diandra yang baek, nanti gue sampein ma Hendra Yana Utomo, yah?” Dian hanya mengacungkan jempolnya pada Cok.
“Gue duluan Cok!” Cok melambaikan tangannya pada Dian.
Di parkiran SMA Smanela yang super duper luas, Virga lagi nunggu-nunggu Hendra untuk meminta klarifikasi kejadian jam istirahat tadi. Virga resah sekali, ia ga nyangka hubungan mereka yang hampir dua tahun itu kini terusik oleh datangnya seorang Diandra yang buruk rupa!
Mati kesal kalo Virga mengingat gimana Dian memeluk pinggang Hendra dengan mesra. Bolak balik ia melihat jam tangannya. Berdiri, duduk, melihat jam. Perbuatan itu diulang berkali-kali.
“Duh.. lama banget sih si Hendra, apa dia lagi ngobrol sama Diandra ya..?” Gadis manis itu menghela nafas beratnya. Dia tiba-tiba tersenyum melihat sekelebatan tas kuning Hendra.
Eh, tuh Hendra bukan ya? Gadis itu berusaha memanjang-manjangkan lehernya untuk mencari wajah Hendra dan tas kuningnya di tengah-tengah segerombolan siswa SMA Smanela yang riuh ramai.
“Lo?!” Air muka Virga langsung berubah saat Ia mengetahui bahwa tas kuning Hendra sedang bertengger dengan manisnya di bahu Dian. Siang yang panas itu menambah panasnya hati Virga. Ia bahkan tak tahu apa yang harus diucapkan pada makhluk buruk rupa seperti Diandra. Dian yang tak menyadari dirinya dipandangi, bersikap sangat wajar. Walaupun instinctnya mengatakan bahwa ada yang memperhatikannya. Akhirnya tak sengaja mata mereka bertautan dari jarak jauh. Dian mendadak gugup, namun ia berusaha tenang menatap Virga, bahkan Dian memberanikan diri untuk tersenyum dan melambaikan tangan pada Virga. Senyum Dian malah dibalas oleh pandangan penuh amarah. Virga kesal sekali siang itu, gadis itu menghentakkan kaki dengan kesal, lalu dengan setengah berlari ia menuju mobilnya dan hanya meninggalkan debu-debu mobilnya untuk (yang tidak sengaja) mengotori wajah Dian.
Dian memandangi tas kuning Hendra yang menyelempang di pundaknya.
“Gara-gara kamu ya si Virga marah?” Dian menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dasar, tas kuning bulukan” gerutunya sambil menghidupkan motornya dan memacu gasnya dengan sedikit kencang. Di perjalanan menuju rumah, Dian menyempatkan diri untuk mampir ke Laundry. Gadis itu menitipkan tas Hendra disitu, sambil berpesan manis dengan penjaga laundry.
“Mbak.., musti bersih dan wangi.. ya?” Si penjaga malah menjawabnya dengan jutek, “Ga usah kaya iklan gitu lage.. Mbak.? Dijamin super duper bersih en wangi!” Dian manyun, dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan senyum lega.
“Saras.., tas ku udah kamu selametin kan?” Ujar Hendra dari ujung sebrang telfon Dian sore itu.
“Udah!” jawab Dian manyun.
“Kenapa kamu ga suruh Virga aja sih?”
“Lo? Emang dia liat kamu bawa tas aku, Saras?” Jawab Hendra, ada nada panik dalam pernah suaranya
“Ya..iyalah, Hen….!” Balas Dian.
“Aduh…Di, mati deh aku…”
“Emang kenapa Hen..?” Dian bener-bener completely, totally, kagak ngarti dengan maksud Hendra.
“Mm… Gini Di, tas itu hadiah ultah dari Virga untuk aku. Dan aku musti tiap hari pake tas itu, kalo aku ga make, berarti aku udah ga sayang lagi ma dia….” Kata Hendra dengan lemah dan pasrah.
“Oh.., pantes tas itu bulukan banget, ga pernah diganti dan ga pernah dicuci! Ck…Ck..” Di sebrang sana Hendra benar-benar manyun medengar komentar Dian.
“Hen.. Hen, coba kamu lihat, tatapan matanya Virga, serem banget tau waktu mandang tas kuning bulukanmu itu…” lanjut Dian.
“Di…, please, kembaliin donk sekarang tas itu, biar besok aku bisa pake ke sekolah.” Balas Hendra. Dian terkejut.
Aduh, gemana ya.. Tas kuning itu kan masih di Laundry. Dua hari lagi baru kelar, musim hujan-hujan lagi…Waduh!
“Hen… kayaknya aku ga bisa bawa tas kamu besok..” Ujar Dian takut-takut.
“Kenapa, Di?”
“Yah… masih aku cuci. Mungkin tiga hari lagi?” Hendra tiba-tiba tertawa ngakak.
“Ha..ha..ha, kamu cuci, Di? Gila kamu!”
Dian mengkerutkan keningnya, “Heh! Udah dibantuin nyuci, kamu bilang aku gila! Kebangetan kamu Hen…!” hardiknya- pura-pura marah sih, ceritanya.
“Makasi ya Di, ga pa pa dech. Biar aku yang ngomong ma Virga. Kalo mau, kamu boleh pinjem kok, untuk seminggu aja.” Ujar Hendra ramah.
“Oya? Kenapa? Ga takut disemprot ma cewek kamu, Hen?” Tanya Dian.
“Biarin deh. Kapan dia mau belajar dewasa, dah gede gitu, sifat masih balita…” Dian Cuma bengong denger statement Hendra waktu itu.
“Lagian.. aku juga pengen nyoba tas baru yang dibeliin Ibu buat aku.”
Dian mengangguk-angguk kecil. (Bodoh, ya? Lagian Hendra juga ga liat)
“Ya udah, seneng denger kamu udah bisa nelfon aku, Hen..” Kata Dian.
“Yup, makasi juga udah susah-susah nyuci tasku.” Dian hanya tersenyum. “See you besok yaa..” akhirnya terucap juga kalimat yang mampu menghentikan percakapan mereka sore itu.
Di seberang telfon, Hendra tersenyum-senyum sendiri memikirkan Dian. Kenapa rasanya sangat nyaman berbicara dengan Dian.. ga seperti Virga.
Seandainya Dian bukan…
”Hen..! Ayo sini, jangan nelfon kelamaan!” Lamunan Hendra pun tak sempat diselesaikan, karena Ibunya sudah mulai cerewet lagi memanggilnya untuk minum obat.
Tas Kuning (Bagian 2)
-- jangan tanya saya ya.. baca dulu bagian 1 nya.. baru baca bagian ini -- (ketauan banget males buat ringkasan....) ;)
“Diandra!”
Dian menoleh ke sumber suara itu. Hah, kenapa cewek secantik dan sepiter Virga manggil gue dengan penuh nafsu gitu sih? Apa dia mau nanyain PR? Ah.. ga mungkin..
“Dian..”
“Eh, tumben Vir. Ada perlu apa?” tanya Dian lembut.
“Beneran kamu ga ada hubungan apa-apa dengan Hendra?” Semprot Virga tanpa permisi. Astaga.. pertanyaan basi. Kemana aja lo, girl..?!
Dian menaikkan satu alisnya.
“Vir… kamu ngerasa ga sih jadi ceweknya Hendra..?” Tanya Dian.
“Ssst….!” Seru Virga sambil menutup mulut Dian dengan spontan.
“Apaan sih, Vir?!” Bisik Dian dengan sewot.
“Duh, jangan sampe orang lain tau, kalo gue ceweknya Hendra, Di..” Bisik Virga. “Emangnya kenapa?” Cecar Dian.
“Pokoknya, engga. Sodara gue kan sekolah disini. Kalo dia tahu, dia bakal cerita sama mama gue, Di.”
Dian hanya menjawabnya dengan gerakan bibir membentuk huruf “O”.
“Please ya Dian, jangan bilang siapa-siapa.” Mohon Virga pada gadis mungil itu.
Dian hanya tersenyum. “Iya, gue bukan nenek sihir yang bisa nyebarin wabah gosip.” Ga kaya elu yang ngegosipin gue ma si Hendra. Lanjutnya dalam hati.
“Memangnya kalian backstreet?” Tanya Dian. Virga hanya mengangguk pasrah.
“Kenapa musti backstreet?” “Kita ini udah SMA, wajar donk kalo punya pacar, Vir?” Virga hanya terdiam dan membenahi kacamatanya. Hatinya juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dian.
“Iya sih.., tapi Mama gue belum ngijinin gue pacaran sampai gue kuliah nanti.” Kata Virga sambil memandang Dian dengan lembut.
“Gile.. lama amat si Hendra harus nunggu, kasian yah..?” sambung Dian.
Tet……Tet………!!! Suara bel masuk yang amat sangat nyaring, mengganggu pembicaraan mereka.
“Makasi, Dian.” Ucap Virga kala itu.
Dian hanya menaikkan bahu dan tersenyum pada Virga. Kedua gadis itu kembali ke kelas dengan pikiran mereka masing-masing.
Jam istirahat kedua, Hendra mendadak mendatangi kelas Dian. Saat itu, Dian sedang seru menyalin jawaban PR Kimia yang bakal dikumpul jam terakhir. Tia menyikut sikunya, “Di, sephia lo tuh dateng..” Bisiknya.
Dian mengkerutkan alisnya sambil memelototkan matanya,
“Tsk! Dia temen gue, lo macem-macem aja sih, Ti?” Protesnya.
“Di.., sibuk?” potong Hendra.
Dian hanya melihat sekilas senyuman Hendra, membalas senyuman si pangeran berkuda putih itu, dan dengan cueknya Dian tetep menyalin PR Kimianya.
“Kenapa Hen, aku musti nyalin PR nya Pak Raka nich…Kalo ga buat bisa ga dikasi nilai tau..” Hendra hanya berdiam di sebelah Dian dan memberikan isyarat pada Tia untuk minggir sejenak. Tia dengan manyunnya keluar kelas, tapi stand by di depan pintu kelas. Mau ngintip ceritanya. Dian agak sedikit terkejut mendapati Hendra sudah duduk di sampingnya. Hendra menelungkupkan tangannya di meja Tia. Dian hanya memandanginya dengan heran. Ia memberanikan diri untuk menyentuh lengan Hendra.
“Hen… ada apa?”
“Kepala gue pening, Di..” Sahut Hendra lemah.
“Loh, kamu ga baiknya pulang aja?” sahut Dian sambil memegang kening Hendra.
“Aw…” jeritnya sambil mengipas-ngipas jemarinya.
“Gila kamu, Hen.. Ini namanya demam!” Hardik Dian.
“O gitu ya?” Balas Hendra.
“Aduh.., kamu begonya ga ilang-ilang.” Hendra tidak menjawab sedikit pun omongan Dian. Ia hanya terdiam.
“Aku anter ke UKS ya..?” Hendra menggelengkan kepalanya keras-keras. Dian menghela nafas.
“Untuk sementara, nanti biar aku telfon Ibu kamu ya? Biar dijemput.”
Hendra tersenyum tipis. “Itu yang aku tunggu-tunggu Di. Pulsaku kan habis, Jadi..”
“Oh.. jadi maksud kamu ke kelas aku Cuma untuk minta pulsa?”
“He.eh” sahut Hendra.
Dian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ayo Hen, kita ke UKS.” Ajak Dian.
“Loh.. papah aku donk, nanti aku bisa pingsan..” rajuk Hendra.
Dian mengulurkan tangannya, dan mencoba memeluk Hendra untuk membantunya berjalan. Hendra menoleh pada tangan Dian yang melingkar di pinggangnya.
“Terimakasih ya, sayang…” candanya. Mata Dian lagi-lagi melotot padanya sembari mencubit pinggangnya.
Tak sengaja pemandangan itu dilihat oleh Virga. Gadis itu berdiri mematung di pintu kelas tepat disamping Tia. Tia terkejut melihat Virga di sampingnya, namun baru saja Tia akan memberikan penjelasan, Virga telah berlari ke kelasnya.
“Makasih, Di.. Kamu selalu baik sama aku.” Kata Hendra di tempat tidur UKS. Dian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Bentar ya, aku telfon Ibu kamu.” Hendra mengangguk lemah. Beberapa menit kemudian, Dian kembali ke UKS.
“Hen, bentar lagi Ibu kamu jemput. Dia kawatir banget tau.” Bisik Dian. Eh, Hendra sudah tidur. Cakep banget sih dia. Seandainya dia bukan…”
Di…” Sontak Dian terkejut mendengar suara Hendra.
“Aku lupa.., nanti tolong kasi kunci motor aku ma si Cok ya..”
“Eh, iya Hen. Mana kuncinya?” Hendra merogoh kantongnya dan memberikan kunci berisi gantungan kuda putih kecil yang terbuat dari kristal. Dian terkejut menerima kunci itu.
“Hen.. ini kan gantungan kunci yang aku kasih sebelum aku pergi ke Kendari dulu kan?”
Hendra hanya tersenyum dan tampak terlihat matanya yang berat, dan Ia tertidur dengan tenang di UKS. Dian tersenyum, Ia benar-benar tak menyangka Hendra masih menyimpan apa yang Ia berikan. Pangeran berkuda putihku yang manis…Bisik Dian dalam hati. Dian menatap sejenak Hendra yang sedang tertidur manis, sebelum Ia kembali ke kelasnya.
“Di, elo tau ga? Si Virga tadi tau lho… si Hendra nyariin elo ke kelas.” Bisik Tia saat Dian kembali ke kelas.
“Ah, masa iya?” Balas Dian tak percaya.
“Serius gueh.” Kata Tia sambil mengacungkan kedua jarinya.
“Aneh ya, kalo dia mau ke kantin kan ga perlu lewat kelas kita, lagian tadi waktu aku nganter Hendra ke UKS kan ga lewat kelasnya…” kata Dian. “Tapi…” “O, ya. Apalagi pas gue nganter Hendra, bel masuk udah bunyi, Ti.” Sela Dian.
“Tapi Di, Virga tu berdiri di samping gue dan melongo ngeliatin adegan mesra lo ma si Hendra, tau…” bales Tia sewot.
“Kok aneh ya si Vir…”
Takkkk!
Sebuah kapur sukses mendarat di atas meja Dian dan Tia. “Diandra, Astia, sudah selesai rapatnya?” ujar Pak Raka guru kimia ter-killer di SMA Smanela. Dengan takut-takut kedua gadis itu memandangi guru kimia mereka. “Su..sudah Pak.” Jawab Dian dengan suara yang menyiratkan ketakutannya pada Pak Raka.
“Oh, bagus kalo sudah selesai.” Balas Pak Raka sambil memelintir kumisnya yang menambah ke-killerannya.
“Kalo begitu, Diandra silahkan maju ke depan, kerjakan soal no 3.” Ujar Pak Raka dengan nada yang super tegas. Dian terpaku tak bergeming di bangkunya. Dengan pasrahnya Ia berjalan ke depan kelas. Mati aku…
“Diandra!”
Dian menoleh ke sumber suara itu. Hah, kenapa cewek secantik dan sepiter Virga manggil gue dengan penuh nafsu gitu sih? Apa dia mau nanyain PR? Ah.. ga mungkin..
“Dian..”
“Eh, tumben Vir. Ada perlu apa?” tanya Dian lembut.
“Beneran kamu ga ada hubungan apa-apa dengan Hendra?” Semprot Virga tanpa permisi. Astaga.. pertanyaan basi. Kemana aja lo, girl..?!
Dian menaikkan satu alisnya.
“Vir… kamu ngerasa ga sih jadi ceweknya Hendra..?” Tanya Dian.
“Ssst….!” Seru Virga sambil menutup mulut Dian dengan spontan.
“Apaan sih, Vir?!” Bisik Dian dengan sewot.
“Duh, jangan sampe orang lain tau, kalo gue ceweknya Hendra, Di..” Bisik Virga. “Emangnya kenapa?” Cecar Dian.
“Pokoknya, engga. Sodara gue kan sekolah disini. Kalo dia tahu, dia bakal cerita sama mama gue, Di.”
Dian hanya menjawabnya dengan gerakan bibir membentuk huruf “O”.
“Please ya Dian, jangan bilang siapa-siapa.” Mohon Virga pada gadis mungil itu.
Dian hanya tersenyum. “Iya, gue bukan nenek sihir yang bisa nyebarin wabah gosip.” Ga kaya elu yang ngegosipin gue ma si Hendra. Lanjutnya dalam hati.
“Memangnya kalian backstreet?” Tanya Dian. Virga hanya mengangguk pasrah.
“Kenapa musti backstreet?” “Kita ini udah SMA, wajar donk kalo punya pacar, Vir?” Virga hanya terdiam dan membenahi kacamatanya. Hatinya juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dian.
“Iya sih.., tapi Mama gue belum ngijinin gue pacaran sampai gue kuliah nanti.” Kata Virga sambil memandang Dian dengan lembut.
“Gile.. lama amat si Hendra harus nunggu, kasian yah..?” sambung Dian.
Tet……Tet………!!! Suara bel masuk yang amat sangat nyaring, mengganggu pembicaraan mereka.
“Makasi, Dian.” Ucap Virga kala itu.
Dian hanya menaikkan bahu dan tersenyum pada Virga. Kedua gadis itu kembali ke kelas dengan pikiran mereka masing-masing.
Jam istirahat kedua, Hendra mendadak mendatangi kelas Dian. Saat itu, Dian sedang seru menyalin jawaban PR Kimia yang bakal dikumpul jam terakhir. Tia menyikut sikunya, “Di, sephia lo tuh dateng..” Bisiknya.
Dian mengkerutkan alisnya sambil memelototkan matanya,
“Tsk! Dia temen gue, lo macem-macem aja sih, Ti?” Protesnya.
“Di.., sibuk?” potong Hendra.
Dian hanya melihat sekilas senyuman Hendra, membalas senyuman si pangeran berkuda putih itu, dan dengan cueknya Dian tetep menyalin PR Kimianya.
“Kenapa Hen, aku musti nyalin PR nya Pak Raka nich…Kalo ga buat bisa ga dikasi nilai tau..” Hendra hanya berdiam di sebelah Dian dan memberikan isyarat pada Tia untuk minggir sejenak. Tia dengan manyunnya keluar kelas, tapi stand by di depan pintu kelas. Mau ngintip ceritanya. Dian agak sedikit terkejut mendapati Hendra sudah duduk di sampingnya. Hendra menelungkupkan tangannya di meja Tia. Dian hanya memandanginya dengan heran. Ia memberanikan diri untuk menyentuh lengan Hendra.
“Hen… ada apa?”
“Kepala gue pening, Di..” Sahut Hendra lemah.
“Loh, kamu ga baiknya pulang aja?” sahut Dian sambil memegang kening Hendra.
“Aw…” jeritnya sambil mengipas-ngipas jemarinya.
“Gila kamu, Hen.. Ini namanya demam!” Hardik Dian.
“O gitu ya?” Balas Hendra.
“Aduh.., kamu begonya ga ilang-ilang.” Hendra tidak menjawab sedikit pun omongan Dian. Ia hanya terdiam.
“Aku anter ke UKS ya..?” Hendra menggelengkan kepalanya keras-keras. Dian menghela nafas.
“Untuk sementara, nanti biar aku telfon Ibu kamu ya? Biar dijemput.”
Hendra tersenyum tipis. “Itu yang aku tunggu-tunggu Di. Pulsaku kan habis, Jadi..”
“Oh.. jadi maksud kamu ke kelas aku Cuma untuk minta pulsa?”
“He.eh” sahut Hendra.
Dian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ayo Hen, kita ke UKS.” Ajak Dian.
“Loh.. papah aku donk, nanti aku bisa pingsan..” rajuk Hendra.
Dian mengulurkan tangannya, dan mencoba memeluk Hendra untuk membantunya berjalan. Hendra menoleh pada tangan Dian yang melingkar di pinggangnya.
“Terimakasih ya, sayang…” candanya. Mata Dian lagi-lagi melotot padanya sembari mencubit pinggangnya.
Tak sengaja pemandangan itu dilihat oleh Virga. Gadis itu berdiri mematung di pintu kelas tepat disamping Tia. Tia terkejut melihat Virga di sampingnya, namun baru saja Tia akan memberikan penjelasan, Virga telah berlari ke kelasnya.
“Makasih, Di.. Kamu selalu baik sama aku.” Kata Hendra di tempat tidur UKS. Dian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Bentar ya, aku telfon Ibu kamu.” Hendra mengangguk lemah. Beberapa menit kemudian, Dian kembali ke UKS.
“Hen, bentar lagi Ibu kamu jemput. Dia kawatir banget tau.” Bisik Dian. Eh, Hendra sudah tidur. Cakep banget sih dia. Seandainya dia bukan…”
Di…” Sontak Dian terkejut mendengar suara Hendra.
“Aku lupa.., nanti tolong kasi kunci motor aku ma si Cok ya..”
“Eh, iya Hen. Mana kuncinya?” Hendra merogoh kantongnya dan memberikan kunci berisi gantungan kuda putih kecil yang terbuat dari kristal. Dian terkejut menerima kunci itu.
“Hen.. ini kan gantungan kunci yang aku kasih sebelum aku pergi ke Kendari dulu kan?”
Hendra hanya tersenyum dan tampak terlihat matanya yang berat, dan Ia tertidur dengan tenang di UKS. Dian tersenyum, Ia benar-benar tak menyangka Hendra masih menyimpan apa yang Ia berikan. Pangeran berkuda putihku yang manis…Bisik Dian dalam hati. Dian menatap sejenak Hendra yang sedang tertidur manis, sebelum Ia kembali ke kelasnya.
“Di, elo tau ga? Si Virga tadi tau lho… si Hendra nyariin elo ke kelas.” Bisik Tia saat Dian kembali ke kelas.
“Ah, masa iya?” Balas Dian tak percaya.
“Serius gueh.” Kata Tia sambil mengacungkan kedua jarinya.
“Aneh ya, kalo dia mau ke kantin kan ga perlu lewat kelas kita, lagian tadi waktu aku nganter Hendra ke UKS kan ga lewat kelasnya…” kata Dian. “Tapi…” “O, ya. Apalagi pas gue nganter Hendra, bel masuk udah bunyi, Ti.” Sela Dian.
“Tapi Di, Virga tu berdiri di samping gue dan melongo ngeliatin adegan mesra lo ma si Hendra, tau…” bales Tia sewot.
“Kok aneh ya si Vir…”
Takkkk!
Sebuah kapur sukses mendarat di atas meja Dian dan Tia. “Diandra, Astia, sudah selesai rapatnya?” ujar Pak Raka guru kimia ter-killer di SMA Smanela. Dengan takut-takut kedua gadis itu memandangi guru kimia mereka. “Su..sudah Pak.” Jawab Dian dengan suara yang menyiratkan ketakutannya pada Pak Raka.
“Oh, bagus kalo sudah selesai.” Balas Pak Raka sambil memelintir kumisnya yang menambah ke-killerannya.
“Kalo begitu, Diandra silahkan maju ke depan, kerjakan soal no 3.” Ujar Pak Raka dengan nada yang super tegas. Dian terpaku tak bergeming di bangkunya. Dengan pasrahnya Ia berjalan ke depan kelas. Mati aku…
Thursday, July 9, 2009
Tas Kuning (Bagian 1)
Cerpen ini ternyata kepanjangan untuk dimuat di salah satu harian kota. Jadinya, ditolak. Sedihnya.. (T.T)
Cerita ini diambil dari kisah nyata saat SMU, asem manis cinta, semua ada di sana. hehehe!
Dian menghela nafas berkali-kali, sambil terus-menerus melihat jam tangan biru yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.
“Duh…, reseh juga nie si Tia! Kenapa lama banget sih di kelasnya, dia pikir gue punya waktu banyak apa!”
Gadis itu terus menerus memandangi koridor kelas I yang saat ini masih penuh juga siswa-siswi berlalu-lalang, sambil mencari-cari wajah yang ia tunggu-tunggu. Gadis mungil itu mengusap keningnya yang mulai berkeringat. Ia memangku dagunya dengan tangan yang satunya. “hah…” Helanya, mulai tak sabaran menunggu.
“Cewek, boleh aku duduk disini..?”
Tiba-tiba ada suara cowok kece yang berbisik di kupingnya.
“Eh, Hendra. Duduk aja, pake nanya kamu, gaya sekalee…” jawab Dian dengan manis.
“Kamu nunggu siapa, Hen?” tanya Dian.
“Gue nunggu si Cok, gile lama amat di kelas.”
Ujar Hendra sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangannya.
“Kapan ya SMA Smanela ini turun salju, Di?” sela Hendra tiba-tiba.
Yang ditanya malah memelototkan matanya ke arah cowok kece itu, tersenyum, dan tiba-tiba ketawa ngakak keras dengan tanpa dosa.
“Aduh, Hen…Hen… Kamu cakep-cakep bego dech, swear!” jerit Dian di sela-sela tertawanya.
“Ye… aku serius nih Di..” kata Hendra dengan tampang manyun.
Dian masih saja belum selesai tertawa, sekarang malah gadis mungil itu memegang perutnya yang mulai sakit.
“Sstt…. diem Di, malu tuh, semua orang ngeliatin kita bego!” Bisik Hendra sambil menutup mulut Dian dengan sebelah tangannya.
“Ah, Hendra! Tangan kamu penuh kuman tau…!” Ujar Dian seraya melepaskan tangan Hendra yang bertengger di bibirnya.
Tak sengaja, tangan mereka pun saling menggengam tangan masing-masing. Mata Dian dan Hendra bertautan seperti menyimpan rindu yang dalam. Mereka tersenyum dan membiarkan tangan mereka saling berpegangan. Bahkan ketika Tia dan Cok datang mereka berdua malah tersenyum malu-malu, saling bertatapan, dan melepas genggaman tangan mereka dengan rasa tidak rela.
Pemandangan mesra oleh dua orang sohib itu pun mengundang decak kagum, gemes, dan iri dari hampir 80% siswi SMA Smanela. Siapa sich yang ga ingin deket dengan Hendra? Murid cowok baru yang keren, dengan sinar mata hangat, bibir sensual, dan raut wajah yang bersahabat. Di sisi lain, siapa yang ga kenal dengan gadis mungil kelas bontot, rambut kriwel-kriwel dengan muka penuh jerawat-jerawat abg disana-sini bernama lengkap Diandra? Malah hari ini, berhembus gosip dengan santer bahwa Dian si buruk rupa jadian dengan Hendra si pangeran berkuda putih!
Setiap hari semua anak kelas I, seru membahas hubungan Dian dan Hendra. Ada yang bertanya dengan nada heboh, nada kurang ajar, bahkan dengan nada yang rada mistis… ”Dian, lo pake susuk apa buat bikin Hendra nempel sama lo..?” Yang ditanya malah mengerutkan alis dan menjawab dengan jahilnya,
“Pake susuk konde donk.. rambutku kan ga direbonding..?”
Namun ada juga yang super duper sewot sama hubungan mereka, contohnya si Virga. Sore itu, gadis berkulit bersih bermata empat itu menyambangi rumah Hendra.
“Hen, aku mau ngomong..” rajuk gadis itu mencoba menarik perhatian Hendra.
“Kenapa sih Ga, kita ada masalah apa? Tumben kamu sampe nyamperin aku ke rumah..” Tanya Hendra dengan santai sambil mengelap sepeda motornya.
“Ga ada masalah, Hen. Hanya saja aku ingin bertanya tentang hubungan kamu dengan….”
“Diandra?” sela Hendra.
Virga mengatupkan bibirnya dan menjawabnya dengan anggukan kepala. Hendra tersenyum. Hati Virga berubah menjadi tak karuan melihat senyuman si pangeran berkuda putih.
“Jadi kamu percaya dengan omongan teman-temanmu yang centil itu, Ga?”
“Bu..bukannya aku percaya sama mereka, tapi mereka liat sendiri kamu pegangan tangan dengan si buruk ru…eh! Dengan Dian maksudku..” Jawab Virga terbata-bata.
Aduh.. gue keceplosan lagi, hampir bilang si Dian buruk rupa! Bisiknya dalam hati.
Hendra mengernyitkan alisnya. “Kamu bilang apa si Dian? Buruk Rupa?” Kata Hendra sambil menatap tepat kearah mata Virga.
Virga memalingkan wajahnya dan mulai menggigit bibirnya.
“Eh.. aku kan ga bilang gitu, Hen..” katanya pelan mencoba membuat pembelaan.
“Vir, kamu ga boleh nilai siapa pun dari luarnya!” Kata Hendra dengan volume suara yang dikeraskan.
“Diandra itu…. seseorang yang dekat denganku, dia ga pantes untuk kamu curigai…!” Hendra mengatur nafasnya sejenak.
“Dan dia sama sekali ga buruk rupa.. dan aku…”
“dan kamu mencintainya?” sambung Virga tanpa permisi.
“Virga! Ga ada seorang pun yang bisa ngubah hubungan kita, ngerti kamu?!” Bentak Hendra sambil melempar lap motornya dengan gemas.
Virga berdiri mematung. Seumur-umur, Hendra tidak pernah membentaknya sepeti ini.. Hendra menghela nafas, mencoba menenangkan emosinya. “Sudahlah, Vir, kamu pulang saja. Pikirkan lagi tentang aku, kamu, dan Diandra.” Virga hanya menatapnya tanpa berkata sepatah katapun.
“Kenapa?”
“Kamu perlu waktu untuk belajar tidak mempercayai omongan orang, Vir.” Kata Hendra sambil memeluk pundak Virga.
Setengah memaksa, akhirnya Hendra berhasil menyeret Virga ke pintu gerbang rumahnya. “Sampai ketemu, Vir.” Ujar Hendra sopan.
Virga menekuk wajahnya, Hendra bahkan tidak mencium keningnya seperti biasa. Dengan hati yang panas, Virga memasuki pintu mobilnya, dan membanting pintu dengan kasarnya. Dengan terburu-buru gadis itu memutar kunci kontak mobilnya dan cepat-cepat menginjak pedal gas. Hendra hanya geleng-geleng kepala saja melihat ulah kekasihnya yang Ia anggap sangat kekanak-kanakan itu. Speechless…
Cerita ini diambil dari kisah nyata saat SMU, asem manis cinta, semua ada di sana. hehehe!
Dian menghela nafas berkali-kali, sambil terus-menerus melihat jam tangan biru yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.
“Duh…, reseh juga nie si Tia! Kenapa lama banget sih di kelasnya, dia pikir gue punya waktu banyak apa!”
Gadis itu terus menerus memandangi koridor kelas I yang saat ini masih penuh juga siswa-siswi berlalu-lalang, sambil mencari-cari wajah yang ia tunggu-tunggu. Gadis mungil itu mengusap keningnya yang mulai berkeringat. Ia memangku dagunya dengan tangan yang satunya. “hah…” Helanya, mulai tak sabaran menunggu.
“Cewek, boleh aku duduk disini..?”
Tiba-tiba ada suara cowok kece yang berbisik di kupingnya.
“Eh, Hendra. Duduk aja, pake nanya kamu, gaya sekalee…” jawab Dian dengan manis.
“Kamu nunggu siapa, Hen?” tanya Dian.
“Gue nunggu si Cok, gile lama amat di kelas.”
Ujar Hendra sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangannya.
“Kapan ya SMA Smanela ini turun salju, Di?” sela Hendra tiba-tiba.
Yang ditanya malah memelototkan matanya ke arah cowok kece itu, tersenyum, dan tiba-tiba ketawa ngakak keras dengan tanpa dosa.
“Aduh, Hen…Hen… Kamu cakep-cakep bego dech, swear!” jerit Dian di sela-sela tertawanya.
“Ye… aku serius nih Di..” kata Hendra dengan tampang manyun.
Dian masih saja belum selesai tertawa, sekarang malah gadis mungil itu memegang perutnya yang mulai sakit.
“Sstt…. diem Di, malu tuh, semua orang ngeliatin kita bego!” Bisik Hendra sambil menutup mulut Dian dengan sebelah tangannya.
“Ah, Hendra! Tangan kamu penuh kuman tau…!” Ujar Dian seraya melepaskan tangan Hendra yang bertengger di bibirnya.
Tak sengaja, tangan mereka pun saling menggengam tangan masing-masing. Mata Dian dan Hendra bertautan seperti menyimpan rindu yang dalam. Mereka tersenyum dan membiarkan tangan mereka saling berpegangan. Bahkan ketika Tia dan Cok datang mereka berdua malah tersenyum malu-malu, saling bertatapan, dan melepas genggaman tangan mereka dengan rasa tidak rela.
Pemandangan mesra oleh dua orang sohib itu pun mengundang decak kagum, gemes, dan iri dari hampir 80% siswi SMA Smanela. Siapa sich yang ga ingin deket dengan Hendra? Murid cowok baru yang keren, dengan sinar mata hangat, bibir sensual, dan raut wajah yang bersahabat. Di sisi lain, siapa yang ga kenal dengan gadis mungil kelas bontot, rambut kriwel-kriwel dengan muka penuh jerawat-jerawat abg disana-sini bernama lengkap Diandra? Malah hari ini, berhembus gosip dengan santer bahwa Dian si buruk rupa jadian dengan Hendra si pangeran berkuda putih!
Setiap hari semua anak kelas I, seru membahas hubungan Dian dan Hendra. Ada yang bertanya dengan nada heboh, nada kurang ajar, bahkan dengan nada yang rada mistis… ”Dian, lo pake susuk apa buat bikin Hendra nempel sama lo..?” Yang ditanya malah mengerutkan alis dan menjawab dengan jahilnya,
“Pake susuk konde donk.. rambutku kan ga direbonding..?”
Namun ada juga yang super duper sewot sama hubungan mereka, contohnya si Virga. Sore itu, gadis berkulit bersih bermata empat itu menyambangi rumah Hendra.
“Hen, aku mau ngomong..” rajuk gadis itu mencoba menarik perhatian Hendra.
“Kenapa sih Ga, kita ada masalah apa? Tumben kamu sampe nyamperin aku ke rumah..” Tanya Hendra dengan santai sambil mengelap sepeda motornya.
“Ga ada masalah, Hen. Hanya saja aku ingin bertanya tentang hubungan kamu dengan….”
“Diandra?” sela Hendra.
Virga mengatupkan bibirnya dan menjawabnya dengan anggukan kepala. Hendra tersenyum. Hati Virga berubah menjadi tak karuan melihat senyuman si pangeran berkuda putih.
“Jadi kamu percaya dengan omongan teman-temanmu yang centil itu, Ga?”
“Bu..bukannya aku percaya sama mereka, tapi mereka liat sendiri kamu pegangan tangan dengan si buruk ru…eh! Dengan Dian maksudku..” Jawab Virga terbata-bata.
Aduh.. gue keceplosan lagi, hampir bilang si Dian buruk rupa! Bisiknya dalam hati.
Hendra mengernyitkan alisnya. “Kamu bilang apa si Dian? Buruk Rupa?” Kata Hendra sambil menatap tepat kearah mata Virga.
Virga memalingkan wajahnya dan mulai menggigit bibirnya.
“Eh.. aku kan ga bilang gitu, Hen..” katanya pelan mencoba membuat pembelaan.
“Vir, kamu ga boleh nilai siapa pun dari luarnya!” Kata Hendra dengan volume suara yang dikeraskan.
“Diandra itu…. seseorang yang dekat denganku, dia ga pantes untuk kamu curigai…!” Hendra mengatur nafasnya sejenak.
“Dan dia sama sekali ga buruk rupa.. dan aku…”
“dan kamu mencintainya?” sambung Virga tanpa permisi.
“Virga! Ga ada seorang pun yang bisa ngubah hubungan kita, ngerti kamu?!” Bentak Hendra sambil melempar lap motornya dengan gemas.
Virga berdiri mematung. Seumur-umur, Hendra tidak pernah membentaknya sepeti ini.. Hendra menghela nafas, mencoba menenangkan emosinya. “Sudahlah, Vir, kamu pulang saja. Pikirkan lagi tentang aku, kamu, dan Diandra.” Virga hanya menatapnya tanpa berkata sepatah katapun.
“Kenapa?”
“Kamu perlu waktu untuk belajar tidak mempercayai omongan orang, Vir.” Kata Hendra sambil memeluk pundak Virga.
Setengah memaksa, akhirnya Hendra berhasil menyeret Virga ke pintu gerbang rumahnya. “Sampai ketemu, Vir.” Ujar Hendra sopan.
Virga menekuk wajahnya, Hendra bahkan tidak mencium keningnya seperti biasa. Dengan hati yang panas, Virga memasuki pintu mobilnya, dan membanting pintu dengan kasarnya. Dengan terburu-buru gadis itu memutar kunci kontak mobilnya dan cepat-cepat menginjak pedal gas. Hendra hanya geleng-geleng kepala saja melihat ulah kekasihnya yang Ia anggap sangat kekanak-kanakan itu. Speechless…
Tuesday, May 26, 2009
Triple "H"
3H = Hentikan Hujat Hujan!!!
Tetes-tetes hujan tampak sedang giat-giatnya membasahi rerumputan liar di kebun kecilku yang tak terawat. Meskipun kadang hujan turun tanpa henti, membawa luberan air got dan sungai, becek, kotor..... aku tak peduli. Sepanjang Ia bisa menyejukkan dan mengusir udara dan hawa panas yang ditimbulkan UNFCCC beberapa bulan lalu di Pulau tercintaku ini. Dan Ia pun tak mengurangi keindahan Bali setitik debu pun. Kupuaskan indera penglihatanku sekaligus penciumanku yang serasa sejuk menciumi wangi tanah liat genteng dan tanah kering yang terbasahi oleh rintikan hujan yang cantik. Ah, sungguh hujan yang menawan...
Namun, keasyikkanku menikmati hari hujan terganggu oleh seorang pria tua yang tak henti-henti menggerutu...,
“HUJAN.....! HUJAN LAGI...!”
Aku memandangi pria tua itu, dengan sorot mata protesku. Apa untungnya Ia berteriak pekak yang tak mampu mendepak hujan?
Rambut-rambut jarang di kepalanya yang sedikit botak berdiri beberapa karena teriakannya. Kantung-kantung mata yang mengukir tajam di bawah matanya pun tampak naik turun, mengikuti arah nafasnya yang terengah-engah. Kelelahan mungkin.
Namun kelelahan apa yang mungkin dialami seorang pria tua yang sudah pensiun?
Kelelahan menanti hujan usai?
Kelelahan menapaki hidupnya yang tak pasti?
Atau kelelahan mencaci? Mencaci maki hujan yang turun tanpa henti?
Entahlah.
Usai teriakan, datanglah seorang wanita paruh baya, rival pria tua itu yang akan membabat habis teriakannya dengan omelan yang panjang tak terhingga.
“CUKUP..!”
Ini baru permulaannya...
Pria tua itu pun mulai bersikap seolah-olah bukan dia pelakunya. Bukan ia yang menyembunyikan permen, bukan dia yang melempar batu, bukan ia kambing hitamnya. Gaya khas pun telah diperagakannya seperti senjata pamungkas. Pria tua itu berdiri, melongok keluar, menyandarkan bahunya di pintu kayu, menghela nafas, dan duduk menempati kursi malas kebesarannya. Dinaikkannya kaca mata plus yang terus melorot di hidung berminyak. Tangannya dengan sigap mengambil salah satu buku tebal yang bertumpuk-tumpuk setia berada disampingnya. Pemandangan selanjutnya, akan seperti video yang berulang bagiku setiap hujan tiba.
Wanita itu akan mengambil - lebih tepatnya, merampas buku yang dibaca si pria. Serta merta berkacak pinggang dan berkata nyaring, “Hentikan hujat hujan!”
Dengan alis berkerut, si pria tua pun akan berkata, “Aku tidak menghujat hujan! Kau menuduhku saja..”
“Hah..!” Wanita baya itu menghela nafas berat, sungguh tampak tidak sopan bagiku. Namun, kedua orang yang sedang kuamati ini, memang perangainya seperti itu. Seperti kucing dan tikus di film Tom and Jerry. Mereka saling mencintai, namun saling menyakiti, saling menyerang..., tapi saling membutuhkan. Ah, sungguh ungkapan hati yang bodoh.
“Mau kemana hari ini?” Hardik si wanita baya itu setelah menilik pakaian necis yang digunakan oleh si pria tua. Saat itu, si pria menggunakan baju batik merah menyala dan celana katun coklat muda. Sungguh paduan warna yang pas yang membuat pria itu seolah berada 20 tahun lebih muda dari umur angka kepala tujuhnya. Rambutnya juga sengaja disemir hitam tadi pagi. Aku masih bisa membayangkan wajah tampan yang membayang di sela-sela keriput wajah pria itu. Belum lagi si wanita mendengus tajam karena membaui aroma parfum murahan yang menyerbak.
“Ke rumah sakit.” Ujarnya singkat. Pria itu memang telah bekerja lebih dari 35 tahun di sebuah rumah sakit berstandard Internasional di Denpasar. Beberapa kali Ia menerima penghargaan, namun... itu dulu. Hari ini, Ia tak perlu lagi pergi pagi- pulang pagi. Berlari-lari menerima panggilan pasien gawat darurat. Meninggalkan istri, menelantarkan anak. Bekerja dengan 36 jam shift namun upah seadanya, membuka praktek sana-sini yang membuahkan ketenaran dan kepenatan. Ia sudah tak perlu melakukan itu. Pria itu sudah pensiun lebih dari 10 tahun yang lalu. Masa-masa gemilang dan kesibukannya telah berlalu. Jadi, untuk apa?
Itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita baya itu berulang kali, namun si pria tidak bergeming. Membisu seperti orang tuli juga, atau pura-pura tuli? Ah, tak jelas bagiku.
“Untuk apa?” Hening tak ada jawaban.
“Untuk apa ke rumah sakit?” ulangnya lagi. Pandangan mata si pria mulai tampak gelisah, bosan, merasa ditelanjangi, dan muak melihat hujan yang semakin deras saja.
“Untuk apa? Untuk menemui kekasihmu itu kah?!” Hardik wanita baya itu to the point. Pria tua itu akhirnya berdiri menantang wanita baya di hadapannya.
“Kau selalu tau jawabannya- namun kau tak pernah berhenti menanyakannya!” balasnya telak.
Wanita itu seperti api yang tersiram bensin, “Dan..., hanya gara-gara kekasih tak bermutu-mu itu, kau menghujat hujan?” Lelaki tua itu menaikkan bahunya, dengan sisa-sisa ingatan bahasa inggrisnya yang pasif, ia seperti biasa akan mengucap, “So..?”
“Tega!”
“Sungguh tega!” bentak wanita itu berkali-kali.
“Ya..! Tentu saja harus tega!” Balas pria itu tak mau kalah. “Kau tidak pernah tahu, bagaimana hujan membuat kencanku menjadi terganggu, aku tak bisa melihat betis mulus perawat-perawat cantik baru itu, dan... apa kau mau menanggung resiko apabila kekasih cantikku itu memutuskan hubungan cinta denganku?”
Aku melongok lebih dalam pada keributan kecil rutin itu. Terkadang bosan sekali mendengarnya, namun kedua orang itu terlihat sangat menikmati adu urat leher mereka.
“Puih...!“ Maki wanita itu, mungkin tak tahu lagi ekspresi apa yang pantas diberikannya. “Bukan berarti kau bisa menghujat hujan seenaknya! Hujan tak pantas kau caci!” Balas si wanita makin emosi.
“Dan kau pasti belum tahu nasib adeniumku yang tak kunjung berbunga karena hujan tanpa pesan itu! Datang, pergi, deras, rintik-rintik,....Tak mendung- hujan! Langit gelap, Ia tambah deras.”
“Seenaknya saja..!” Hah! Seru balasan pria itu.
“HUJAN LAGI....HUJAN LAGI...!!” Teriaknya kesal.
Wanita baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Serasa ia sudah lelah bertengkar, namun ia tak mau kalah. Ia makin tak terima hujan dihujat sedemikian rupa.
“Apa kau yakin kekasihmu itu menunggu mu di Rumah Sakit?” gelak tawa sinisnya yang terasa dipaksakan menggelegak.
“Tentu!” Seru pria itu yang mendadak tampak over confident. Lalu ia mulai merangkai puisi yang agak romantis. “Kekasihku itu mampu menyejukkan hatiku. Ia adalah hujan dalam hidupku... Ia menyirami tubuhku- hatiku yang sedang kemarau.. Jadi aku tak perlu- tak butuh hujan di luaran sana...” ucapnya menerawang. Atau mungkin ia juga sedang membayangkan terawang gaun tembus pandang kekasihnya yang ia rindukan.
Mendengar puisi picisan itu, wanita itu seperti mendapat angin.
Aha!
“Lalu mengapa kau menghujat hujan? Artinya engkau menghujat kekasihmu itu, bukan?” Senyum wanita itu mengembang bagai bunga padma di pagi hari. “Satu-kosong!” ujarnya seolah mengejek.
“BUKAN..!!” Teriak pria itu kali ini lebih menggelegar, kantung matanya seolah berlari lebih cepat mengikuti nafasnya yang mulai satu-satu.
“Bedanya, kekasihku hanya menghujani aku, tubuhku-jiwaku-hidupku, bukan pulau ini! Ia juga tak mungkin menimbulkan bencana banjir yang makin menggila. Karena itulah aku mencintai dia! Aku harus menemui kekasihku itu, dia pasti sudah menungguku..., tidakkah kau mengerti?” Lanjutnya lebih lembut. Merajuk. Layaknya anak kecil yang ingin dibelikan gulali, atau membujuk untuk melali ke Bali Safari Park yang baru dibuka di kawasan Gianyar.
Kali ini, wanita itu hanya memandangi pria tua yang berkali-kali memegangi dadanya, seolah memerintahkan jantungnya agar kuat bertahan sampai hujan usai.
Kali ini, ritme mereka berubah perlahan.
“Baiklah, aku mengerti.” Sahut si wanita dengan lembut sekaligus tegas.
“Aku mengerti, kekasihmu itu adalah segalanya...” Lanjutnya. Pria itu tersenyum, akhirnya mereka akan mencapai kata sepakat, begitu pikirnya.
“Aku pun takkan melarangmu lagi, toh wanita itu sudah berubah menjadi hujan...” ujarnya cuek, sambil lalu meninggalkan pria tua itu di depan pintu teras dengan gaya khasnya yang tidak berubah.
Lelaki tua terhenyak sekejap dan alisnya bertautan seolah berpikir keras. Lalu ia berjalan kearahku dan tersenyum. Ia menyadari bahwa aku dengan lancang sedang mengamati tingkah laku anehnya. Takut-takut aku menghadapinya, namun Ia hanya membelai anak rambutku sejenak sebelum ia berlari merambah pasrah dalam derasnya hujan sore itu.
Ia pun menari-nari dalam derasnya hujan, dibiarkannya batik merah menyalanya itu terbasahi derasnya hujan. Ia pun mulai membayangkan bercinta dengan kekasih yang dirindukannya. Ia bergumul berjam-jam dengan rumput-rumput liar kebun kecilku sambil membayangkan menindih tubuh kekasihnya. Ia meminum air hujan serakus-rakusnya, sambil membayangkan bibir basah kekasihnya yang biasa dilumat dan dikulumnya... Bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari....
Aku berharap wanita baya itu akan menyeret pria tua itu masuk, mengomelinya, bertengkar, dan berbaikan lagi, seperti yang biasa mereka lakukan. Namun, dugaanku tidak tepat, malah cenderung melenceng. Yang tepat hanyalah ingatanku pada percakapan, pertengkaran, dan perhelatan terakhir antara dua orang manusia yang notabene adalah ibu dan kakekku sendiri.
Aku hanya bisa tersenyum miris saat Ibu mencuci baju batik merah menyala itu dan diseterikanya pula hingga licin. Merahnya mengingatkanku akan api yang menyala-nyala waktu proses ngaben pria tua ayah kandung ibuku. Geliat-geliat api yang menari dengan eloknya mengingatkanku pada tarian hujan terakhir kakek- si pria tua yang terbuai puber keduanya. Kali ini, tarian api bertugas menjilati jasad kakekku inchi demi inchi sampai nanti menjadikannya abu tak berarti.
Tak seorang pun meratapi kepergian pria tua itu. Hanya Ibu mungkin yang masih merasa bersalah. Pertengkaran yang berujung kebodohan perilaku dan membunuh badan kasar renta kakekku pada akhirnya. Demam tinggi setelah tarian hujan erotisnya tak mampu diturunkan, sehingga kami mengalah merelakan pria itu terbebas dari alam duniawinya.
Tapi kupikir, pria tua itu akan bahagia disana. Ia tak perlu lagi berdebat kusir dengan Ibuku. Tak perlu memikirkan harga tahu – makanan favoritnya yang harganya melonjak-lonjak karena harga BBM yang melonjak tanpa ampun. Tak perlu bingung memilih gubernur siapa pada PILKADA Bali yang akan datang atau memikirkan banjir, angin, maupun perubahan iklim yang semakin mengganas...
Hanya aku dan ibuku yang sedang tenang memandangi rintikkan hujan cantik yang membasahi rerumputan liar, bunga kamboja, pohon tulang, dan adenium yang tak kunjung berbunga tanpa harus mendengar hujatan tentang hujan. Ah, hujan tak pantas dihujat, Ia tak berdosa......
Denpasar, 21 Februari 2008
Note:
Yup! Dibuat udah tahun lalu, sudah sempat kukirim ke media massa, tapi tak ada tanggapan.. sudahlah. Yang jelas udah nampang di "Angel on Earth"
cukuplahhhh ;)
Tetes-tetes hujan tampak sedang giat-giatnya membasahi rerumputan liar di kebun kecilku yang tak terawat. Meskipun kadang hujan turun tanpa henti, membawa luberan air got dan sungai, becek, kotor..... aku tak peduli. Sepanjang Ia bisa menyejukkan dan mengusir udara dan hawa panas yang ditimbulkan UNFCCC beberapa bulan lalu di Pulau tercintaku ini. Dan Ia pun tak mengurangi keindahan Bali setitik debu pun. Kupuaskan indera penglihatanku sekaligus penciumanku yang serasa sejuk menciumi wangi tanah liat genteng dan tanah kering yang terbasahi oleh rintikan hujan yang cantik. Ah, sungguh hujan yang menawan...
Namun, keasyikkanku menikmati hari hujan terganggu oleh seorang pria tua yang tak henti-henti menggerutu...,
“HUJAN.....! HUJAN LAGI...!”
Aku memandangi pria tua itu, dengan sorot mata protesku. Apa untungnya Ia berteriak pekak yang tak mampu mendepak hujan?
Rambut-rambut jarang di kepalanya yang sedikit botak berdiri beberapa karena teriakannya. Kantung-kantung mata yang mengukir tajam di bawah matanya pun tampak naik turun, mengikuti arah nafasnya yang terengah-engah. Kelelahan mungkin.
Namun kelelahan apa yang mungkin dialami seorang pria tua yang sudah pensiun?
Kelelahan menanti hujan usai?
Kelelahan menapaki hidupnya yang tak pasti?
Atau kelelahan mencaci? Mencaci maki hujan yang turun tanpa henti?
Entahlah.
Usai teriakan, datanglah seorang wanita paruh baya, rival pria tua itu yang akan membabat habis teriakannya dengan omelan yang panjang tak terhingga.
“CUKUP..!”
Ini baru permulaannya...
Pria tua itu pun mulai bersikap seolah-olah bukan dia pelakunya. Bukan ia yang menyembunyikan permen, bukan dia yang melempar batu, bukan ia kambing hitamnya. Gaya khas pun telah diperagakannya seperti senjata pamungkas. Pria tua itu berdiri, melongok keluar, menyandarkan bahunya di pintu kayu, menghela nafas, dan duduk menempati kursi malas kebesarannya. Dinaikkannya kaca mata plus yang terus melorot di hidung berminyak. Tangannya dengan sigap mengambil salah satu buku tebal yang bertumpuk-tumpuk setia berada disampingnya. Pemandangan selanjutnya, akan seperti video yang berulang bagiku setiap hujan tiba.
Wanita itu akan mengambil - lebih tepatnya, merampas buku yang dibaca si pria. Serta merta berkacak pinggang dan berkata nyaring, “Hentikan hujat hujan!”
Dengan alis berkerut, si pria tua pun akan berkata, “Aku tidak menghujat hujan! Kau menuduhku saja..”
“Hah..!” Wanita baya itu menghela nafas berat, sungguh tampak tidak sopan bagiku. Namun, kedua orang yang sedang kuamati ini, memang perangainya seperti itu. Seperti kucing dan tikus di film Tom and Jerry. Mereka saling mencintai, namun saling menyakiti, saling menyerang..., tapi saling membutuhkan. Ah, sungguh ungkapan hati yang bodoh.
“Mau kemana hari ini?” Hardik si wanita baya itu setelah menilik pakaian necis yang digunakan oleh si pria tua. Saat itu, si pria menggunakan baju batik merah menyala dan celana katun coklat muda. Sungguh paduan warna yang pas yang membuat pria itu seolah berada 20 tahun lebih muda dari umur angka kepala tujuhnya. Rambutnya juga sengaja disemir hitam tadi pagi. Aku masih bisa membayangkan wajah tampan yang membayang di sela-sela keriput wajah pria itu. Belum lagi si wanita mendengus tajam karena membaui aroma parfum murahan yang menyerbak.
“Ke rumah sakit.” Ujarnya singkat. Pria itu memang telah bekerja lebih dari 35 tahun di sebuah rumah sakit berstandard Internasional di Denpasar. Beberapa kali Ia menerima penghargaan, namun... itu dulu. Hari ini, Ia tak perlu lagi pergi pagi- pulang pagi. Berlari-lari menerima panggilan pasien gawat darurat. Meninggalkan istri, menelantarkan anak. Bekerja dengan 36 jam shift namun upah seadanya, membuka praktek sana-sini yang membuahkan ketenaran dan kepenatan. Ia sudah tak perlu melakukan itu. Pria itu sudah pensiun lebih dari 10 tahun yang lalu. Masa-masa gemilang dan kesibukannya telah berlalu. Jadi, untuk apa?
Itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita baya itu berulang kali, namun si pria tidak bergeming. Membisu seperti orang tuli juga, atau pura-pura tuli? Ah, tak jelas bagiku.
“Untuk apa?” Hening tak ada jawaban.
“Untuk apa ke rumah sakit?” ulangnya lagi. Pandangan mata si pria mulai tampak gelisah, bosan, merasa ditelanjangi, dan muak melihat hujan yang semakin deras saja.
“Untuk apa? Untuk menemui kekasihmu itu kah?!” Hardik wanita baya itu to the point. Pria tua itu akhirnya berdiri menantang wanita baya di hadapannya.
“Kau selalu tau jawabannya- namun kau tak pernah berhenti menanyakannya!” balasnya telak.
Wanita itu seperti api yang tersiram bensin, “Dan..., hanya gara-gara kekasih tak bermutu-mu itu, kau menghujat hujan?” Lelaki tua itu menaikkan bahunya, dengan sisa-sisa ingatan bahasa inggrisnya yang pasif, ia seperti biasa akan mengucap, “So..?”
“Tega!”
“Sungguh tega!” bentak wanita itu berkali-kali.
“Ya..! Tentu saja harus tega!” Balas pria itu tak mau kalah. “Kau tidak pernah tahu, bagaimana hujan membuat kencanku menjadi terganggu, aku tak bisa melihat betis mulus perawat-perawat cantik baru itu, dan... apa kau mau menanggung resiko apabila kekasih cantikku itu memutuskan hubungan cinta denganku?”
Aku melongok lebih dalam pada keributan kecil rutin itu. Terkadang bosan sekali mendengarnya, namun kedua orang itu terlihat sangat menikmati adu urat leher mereka.
“Puih...!“ Maki wanita itu, mungkin tak tahu lagi ekspresi apa yang pantas diberikannya. “Bukan berarti kau bisa menghujat hujan seenaknya! Hujan tak pantas kau caci!” Balas si wanita makin emosi.
“Dan kau pasti belum tahu nasib adeniumku yang tak kunjung berbunga karena hujan tanpa pesan itu! Datang, pergi, deras, rintik-rintik,....Tak mendung- hujan! Langit gelap, Ia tambah deras.”
“Seenaknya saja..!” Hah! Seru balasan pria itu.
“HUJAN LAGI....HUJAN LAGI...!!” Teriaknya kesal.
Wanita baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Serasa ia sudah lelah bertengkar, namun ia tak mau kalah. Ia makin tak terima hujan dihujat sedemikian rupa.
“Apa kau yakin kekasihmu itu menunggu mu di Rumah Sakit?” gelak tawa sinisnya yang terasa dipaksakan menggelegak.
“Tentu!” Seru pria itu yang mendadak tampak over confident. Lalu ia mulai merangkai puisi yang agak romantis. “Kekasihku itu mampu menyejukkan hatiku. Ia adalah hujan dalam hidupku... Ia menyirami tubuhku- hatiku yang sedang kemarau.. Jadi aku tak perlu- tak butuh hujan di luaran sana...” ucapnya menerawang. Atau mungkin ia juga sedang membayangkan terawang gaun tembus pandang kekasihnya yang ia rindukan.
Mendengar puisi picisan itu, wanita itu seperti mendapat angin.
Aha!
“Lalu mengapa kau menghujat hujan? Artinya engkau menghujat kekasihmu itu, bukan?” Senyum wanita itu mengembang bagai bunga padma di pagi hari. “Satu-kosong!” ujarnya seolah mengejek.
“BUKAN..!!” Teriak pria itu kali ini lebih menggelegar, kantung matanya seolah berlari lebih cepat mengikuti nafasnya yang mulai satu-satu.
“Bedanya, kekasihku hanya menghujani aku, tubuhku-jiwaku-hidupku, bukan pulau ini! Ia juga tak mungkin menimbulkan bencana banjir yang makin menggila. Karena itulah aku mencintai dia! Aku harus menemui kekasihku itu, dia pasti sudah menungguku..., tidakkah kau mengerti?” Lanjutnya lebih lembut. Merajuk. Layaknya anak kecil yang ingin dibelikan gulali, atau membujuk untuk melali ke Bali Safari Park yang baru dibuka di kawasan Gianyar.
Kali ini, wanita itu hanya memandangi pria tua yang berkali-kali memegangi dadanya, seolah memerintahkan jantungnya agar kuat bertahan sampai hujan usai.
Kali ini, ritme mereka berubah perlahan.
“Baiklah, aku mengerti.” Sahut si wanita dengan lembut sekaligus tegas.
“Aku mengerti, kekasihmu itu adalah segalanya...” Lanjutnya. Pria itu tersenyum, akhirnya mereka akan mencapai kata sepakat, begitu pikirnya.
“Aku pun takkan melarangmu lagi, toh wanita itu sudah berubah menjadi hujan...” ujarnya cuek, sambil lalu meninggalkan pria tua itu di depan pintu teras dengan gaya khasnya yang tidak berubah.
Lelaki tua terhenyak sekejap dan alisnya bertautan seolah berpikir keras. Lalu ia berjalan kearahku dan tersenyum. Ia menyadari bahwa aku dengan lancang sedang mengamati tingkah laku anehnya. Takut-takut aku menghadapinya, namun Ia hanya membelai anak rambutku sejenak sebelum ia berlari merambah pasrah dalam derasnya hujan sore itu.
Ia pun menari-nari dalam derasnya hujan, dibiarkannya batik merah menyalanya itu terbasahi derasnya hujan. Ia pun mulai membayangkan bercinta dengan kekasih yang dirindukannya. Ia bergumul berjam-jam dengan rumput-rumput liar kebun kecilku sambil membayangkan menindih tubuh kekasihnya. Ia meminum air hujan serakus-rakusnya, sambil membayangkan bibir basah kekasihnya yang biasa dilumat dan dikulumnya... Bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari....
Aku berharap wanita baya itu akan menyeret pria tua itu masuk, mengomelinya, bertengkar, dan berbaikan lagi, seperti yang biasa mereka lakukan. Namun, dugaanku tidak tepat, malah cenderung melenceng. Yang tepat hanyalah ingatanku pada percakapan, pertengkaran, dan perhelatan terakhir antara dua orang manusia yang notabene adalah ibu dan kakekku sendiri.
Aku hanya bisa tersenyum miris saat Ibu mencuci baju batik merah menyala itu dan diseterikanya pula hingga licin. Merahnya mengingatkanku akan api yang menyala-nyala waktu proses ngaben pria tua ayah kandung ibuku. Geliat-geliat api yang menari dengan eloknya mengingatkanku pada tarian hujan terakhir kakek- si pria tua yang terbuai puber keduanya. Kali ini, tarian api bertugas menjilati jasad kakekku inchi demi inchi sampai nanti menjadikannya abu tak berarti.
Tak seorang pun meratapi kepergian pria tua itu. Hanya Ibu mungkin yang masih merasa bersalah. Pertengkaran yang berujung kebodohan perilaku dan membunuh badan kasar renta kakekku pada akhirnya. Demam tinggi setelah tarian hujan erotisnya tak mampu diturunkan, sehingga kami mengalah merelakan pria itu terbebas dari alam duniawinya.
Tapi kupikir, pria tua itu akan bahagia disana. Ia tak perlu lagi berdebat kusir dengan Ibuku. Tak perlu memikirkan harga tahu – makanan favoritnya yang harganya melonjak-lonjak karena harga BBM yang melonjak tanpa ampun. Tak perlu bingung memilih gubernur siapa pada PILKADA Bali yang akan datang atau memikirkan banjir, angin, maupun perubahan iklim yang semakin mengganas...
Hanya aku dan ibuku yang sedang tenang memandangi rintikkan hujan cantik yang membasahi rerumputan liar, bunga kamboja, pohon tulang, dan adenium yang tak kunjung berbunga tanpa harus mendengar hujatan tentang hujan. Ah, hujan tak pantas dihujat, Ia tak berdosa......
Denpasar, 21 Februari 2008
Note:
Yup! Dibuat udah tahun lalu, sudah sempat kukirim ke media massa, tapi tak ada tanggapan.. sudahlah. Yang jelas udah nampang di "Angel on Earth"
cukuplahhhh ;)
Pengadilan Cinta
Tok, Tok, Tok,
Sidang dimulai.. Pak hakim sudah mengetukkan palunya untuk membuka sidang hari itu.
Aku duduk di kursi pesakitan, menunggu untuk diinterogasi, diadili, dan dipaksa untuk mengatakan yang sejujur-jujurnya.
“Nama….?”
“Angel”
“Umur, 22 atau 23?”
“22 tahun 6 bulan”
“Lahir 30 atau 31 Juli?”
“29 Juli…”
“Pak hakim, ini bukan acara interview mencari kerja, kita mulai saja sidangnya!” Paksaku.
Pak hakim segera memberi tanda agar jaksa penuntut umum membacakan tuntutannya kepadaku.
”Saudari Angel, anda dipanggil ke pengadilan cinta ini untuk menjadi saksi, betul?”
”ya” Jawabku tegas.
”Sekaligus tersangka..”
”Baik, saya terima.” Lanjutku kalem. ”Tapi apa tuduhan saya?”
”Anda terbukti telah membohongi diri anda sendiri....”
Aku mengkerutkan alisku, “berbohong apa?”
“Anda tidak pernah mengakui bahwa anda menyayangi, Sinar. “
Jantungku berdebar, apa yang akan kukatakan sekarang?
Ini adalah pengadilan cinta terakhir. Aku harus berkata sejujur-jujurnya untuk mendapatkan apa yang kumau, tapi mungkinkah...?
“Keberatan, Pak Hakim..” Jawabku lantang.
Jaksa penuntut umum marah, hadirin ribut, lalu......
Tok, tok, tok!
”tenang saudara-saudara, saudari Angel berhak membela dirinya!”
”Maksud anda?”
”Saya memang tidak pernah mengakuinya lewat kata-kata, tapi saya membuktikannya dengan perbuatan...”
”Contohnya?” Sela si Jaksa penuntut umum.
”Saya berulang kali mencoba menghubunginya, saya berusaha mencari kabarnya, tapi saya tidak pernah berhasil, salahkah saya..?”
”Tentunya usahamu belum maksimal” sela si Jaksa penuntut umum untuk yang kedua kalinya.
Aku tertunduk, mungkin benar, usahaku kurang maksimal. Tapi sebelum-sebelum ini, aku benar-benar telah berusaha untuk mendekatinya lagi, namun, yang kuasa tidak berkehendak.
”Lalu, bagaimana saudari Angel, anda sekarang mau mengaku kalau anda sebenarnya menyayangi Sinar?”
Bibirku terkunci rapat, aku memandangi pesakitan kedua yang duduk tepat diseberangku,
Seorang pria baik hati bermata coklat muda.
Aku bercermin di matanya, seolah aku tahu apa yang ada di dalam hatinya.
”Apa bila saya mengaku, mampukah pak hakim membebaskan Sinar dari hukumannya...?
Tak seperti yang kuduga, Pak Hakim menggelengkan kepalanya.
”Tidak.”
”Lalu, untuk apa saya dibawa ke pengadilan cinta ini?” teriakku putus asa.
”Karena hal itu, permintaan terakhir dari Sinar, sebelum ia menjalani hidup barunya...” ujar pak hakim bijaksana.
Aku tertunduk lemas di atas kursi pesakitan itu.
Sinar berusaha menggapai tanganku, namun ingin kutepiskan.
”Baiklah, karena ini permintaan terakhirnya, saya bersedia mengaku...” ujarku lirih.
Jaksa penuntut Umum berdiri,
”Apa hal itu benar-benar tulus dari dalam hatimu?”
Aku mengangguk.
”Sejujurnya, saya menyayangi Sinar, saya selalu merindukan perhatiannya, saya selalu ingin memeluknya... dan..”
”Dan apa?” Pak hakim seolah mendengarkannya dengan seksama.
”Dan, sebelum Sinar harus menjalani hidup barunya pun, saya telah menyadarinya, namun saya tidak mampu berbuat apa-apa lagi.”
Seluruh hadirin, Jaksa, dan pak Hakim berdiri, mereka menyalamiku satu persatu,
”Saudari Angel, anda berhasil mengungkapkan seluruh cinta yang tak pernah terungkap...”
”Dan kasus ini, saya nyatakan ditutup....”
Tok, Tok, Tok..!
Pengadilan cinta selesai,
Diluar pengadilan, telah menunggu seorang Ibu Muda cantik yang sedang hamil muda, istri Sinar.
Aku berdiri dihadapan Sinar, yang nyaris hilang dalam hidupku.
Ia menggengam tanganku erat, Ia menghapus air mata yang jatuh dari mataku.
Kali ini aku tak bisa memandangi bola mata coklatnya, yang bisa kunikmati hanyalah pelukan hangat terakhirnya yang sesungguhnya ingin kumiliki selamanya.
Note :
Cerita ini, entah kapan kubuat, sudah lupa tanggalnya, apalagi bulan dan tahunnya!
Tapi sewaktu dibaca, masih bagus banget (menurut aku loooo)
Jadi... ku post saja! :)
Sidang dimulai.. Pak hakim sudah mengetukkan palunya untuk membuka sidang hari itu.
Aku duduk di kursi pesakitan, menunggu untuk diinterogasi, diadili, dan dipaksa untuk mengatakan yang sejujur-jujurnya.
“Nama….?”
“Angel”
“Umur, 22 atau 23?”
“22 tahun 6 bulan”
“Lahir 30 atau 31 Juli?”
“29 Juli…”
“Pak hakim, ini bukan acara interview mencari kerja, kita mulai saja sidangnya!” Paksaku.
Pak hakim segera memberi tanda agar jaksa penuntut umum membacakan tuntutannya kepadaku.
”Saudari Angel, anda dipanggil ke pengadilan cinta ini untuk menjadi saksi, betul?”
”ya” Jawabku tegas.
”Sekaligus tersangka..”
”Baik, saya terima.” Lanjutku kalem. ”Tapi apa tuduhan saya?”
”Anda terbukti telah membohongi diri anda sendiri....”
Aku mengkerutkan alisku, “berbohong apa?”
“Anda tidak pernah mengakui bahwa anda menyayangi, Sinar. “
Jantungku berdebar, apa yang akan kukatakan sekarang?
Ini adalah pengadilan cinta terakhir. Aku harus berkata sejujur-jujurnya untuk mendapatkan apa yang kumau, tapi mungkinkah...?
“Keberatan, Pak Hakim..” Jawabku lantang.
Jaksa penuntut umum marah, hadirin ribut, lalu......
Tok, tok, tok!
”tenang saudara-saudara, saudari Angel berhak membela dirinya!”
”Maksud anda?”
”Saya memang tidak pernah mengakuinya lewat kata-kata, tapi saya membuktikannya dengan perbuatan...”
”Contohnya?” Sela si Jaksa penuntut umum.
”Saya berulang kali mencoba menghubunginya, saya berusaha mencari kabarnya, tapi saya tidak pernah berhasil, salahkah saya..?”
”Tentunya usahamu belum maksimal” sela si Jaksa penuntut umum untuk yang kedua kalinya.
Aku tertunduk, mungkin benar, usahaku kurang maksimal. Tapi sebelum-sebelum ini, aku benar-benar telah berusaha untuk mendekatinya lagi, namun, yang kuasa tidak berkehendak.
”Lalu, bagaimana saudari Angel, anda sekarang mau mengaku kalau anda sebenarnya menyayangi Sinar?”
Bibirku terkunci rapat, aku memandangi pesakitan kedua yang duduk tepat diseberangku,
Seorang pria baik hati bermata coklat muda.
Aku bercermin di matanya, seolah aku tahu apa yang ada di dalam hatinya.
”Apa bila saya mengaku, mampukah pak hakim membebaskan Sinar dari hukumannya...?
Tak seperti yang kuduga, Pak Hakim menggelengkan kepalanya.
”Tidak.”
”Lalu, untuk apa saya dibawa ke pengadilan cinta ini?” teriakku putus asa.
”Karena hal itu, permintaan terakhir dari Sinar, sebelum ia menjalani hidup barunya...” ujar pak hakim bijaksana.
Aku tertunduk lemas di atas kursi pesakitan itu.
Sinar berusaha menggapai tanganku, namun ingin kutepiskan.
”Baiklah, karena ini permintaan terakhirnya, saya bersedia mengaku...” ujarku lirih.
Jaksa penuntut Umum berdiri,
”Apa hal itu benar-benar tulus dari dalam hatimu?”
Aku mengangguk.
”Sejujurnya, saya menyayangi Sinar, saya selalu merindukan perhatiannya, saya selalu ingin memeluknya... dan..”
”Dan apa?” Pak hakim seolah mendengarkannya dengan seksama.
”Dan, sebelum Sinar harus menjalani hidup barunya pun, saya telah menyadarinya, namun saya tidak mampu berbuat apa-apa lagi.”
Seluruh hadirin, Jaksa, dan pak Hakim berdiri, mereka menyalamiku satu persatu,
”Saudari Angel, anda berhasil mengungkapkan seluruh cinta yang tak pernah terungkap...”
”Dan kasus ini, saya nyatakan ditutup....”
Tok, Tok, Tok..!
Pengadilan cinta selesai,
Diluar pengadilan, telah menunggu seorang Ibu Muda cantik yang sedang hamil muda, istri Sinar.
Aku berdiri dihadapan Sinar, yang nyaris hilang dalam hidupku.
Ia menggengam tanganku erat, Ia menghapus air mata yang jatuh dari mataku.
Kali ini aku tak bisa memandangi bola mata coklatnya, yang bisa kunikmati hanyalah pelukan hangat terakhirnya yang sesungguhnya ingin kumiliki selamanya.
Note :
Cerita ini, entah kapan kubuat, sudah lupa tanggalnya, apalagi bulan dan tahunnya!
Tapi sewaktu dibaca, masih bagus banget (menurut aku loooo)
Jadi... ku post saja! :)
Subscribe to:
Comments (Atom)