Maaf.. jika halaman belakang rumah kotor, jangan salahkan sapu yang patah- coba tengok tanganmu yang tiada sudi menyentuh sapu lidi itu.
Maaf.. jika dapur tak pernah terisi makanan, jangan salahkan makananku yang tak enak- pernahkah ada kata terima kasih dalam kamusmu?
Maaf.. jika tak pernah ada senyum tulus yang ku persembahkan untukmu – kalau satu cerita dan keluhan pun tak pernah kau bagi.
Maaf.. jika tembakanmu tak pernah tepat sasaran, jangan salahkan panah yang melesat- karena kau pemanahnya sekaligus pemegang busur amatiran.
Maaf.. jika jalan pikir kita tak searah, bukan aku yang tak sejalan – tapi kau yang terus-menerus melanggar rambu –rambu itu.
Maaf.. jika taman di depan rumah hanya ditumbuhi rumput liar, jangan salahkan sabit yang tak mampu membersihkannya – engkau saja enggan beranjak dari kursi plastik kebesaranmu itu.
Maaf.. jika kesabaranku mungkin tak sedalam sumur rumah kita yang airnya tak pernah habis- karena aku bukan Tuhan,
Laras melirik kursi di sebelahnya. Lagi-lagi kosong. Seorang pria berbaju kaus hitam biasanya selalu nangkring di kursi itu, menatapnya dengan lembut- selanjutnya meminjam diktat kuliah yang tak pernah ia catat. Jaman sih boleh modern, tapi kadang-kadang amanat dosen terlalu sayang dilewatkan. Namun pria itu.. masih saja dengan gaya cueknya, pergi ke kampus ini, berbaju kaus hitam, mengambil mata kuliah yang sama denganku, dan.. selalu memilih duduk disampingku.
Tentu saja terlihat kontras! Karena aku selalu suka berpakaian putih. Kemeja putih, blus putih, rok putih, sepatu putih – sedangkan Leo – nama pria itu, selalu memakai busana yang berwarna hitam.
“Yin dan Yang banget sih.. kalian?? Prikitiwwww….!” Begitu sorak teman-teman – karena saking bosannya melihat busana kami yang engga pernah berubah.
Habis.. mau gimana lagi? Aku memang suka segalanya yang berwarna putih – dan dia kebalikannya. Apakah itu salah?
Jujur sih, sepertinya lama-lama aku menaruh hati pada Leo.. namun, ada beberapa hal yang tidak kusuka darinya. Pertama, dia selalu… memakai baju-baju bermerek! Dari merek nama sungai di Aussie, sampai yang ada perak-peraknya itu loh! Tidak pernah sekalipun dia memakai baju yang tidak bermerek, udah gitu.. dipamerin pula! Seperti siang ini.
Dia mau merayuku lagi untuk meminjam diktat dari kuliah warga negaraan, sebelum menemuiku di kantin, kulihat sekilas dia mematikan rokok Djarum Black Slimz kesukaannya. Ada senyum di sudut bibirku, dia rupanya tau.. aku tidak suka mencium asap rokoknya itu..
“Laras.” Panggilnya pendek. Aku menoleh pada pria berbaju kaus hitam yang berjalan ke arahku, dan sebelumnya aku tau, dia mau pamer dulu…
“Baju baruku bagus ga, Laras?” “Aku beli di Big Sale kemarin- gilaaa.. diskonnya sampai 90% lo!” ujarnya berapi-api, sambil menunjukkan salah satu merek “surfer” populer - yang malah menyulut sedikit rasa emosi dalam hatiku.
“Leo.” Ujarku tertahan. Pria yang kupanggil Leo itu duduk manis di depanku dan tersenyum. Aduh.. senyumnya itu sebenarnya membuat hatiku meleleh!
“Aku ga suka kalau kamu mesti bolos kuliah, gara-gara ngejar big sale.” Kataku sambil mencoba menahan emosi.
“Laras… aku sebenarnya bolos bukan karena hal itu saja.. aku kan mesti ikut rapat di senat, cantik.. sepulang itu aku ke big sale, bareng teman yang lain juga kok…” begitu manisnya pembelaan itu.
Nah ini.. hal kedua yang tidak kusukai darinya. Dia selalu sibuk- atau pura-pura sibuk? Ah, entahlah. Tapi dia memang senat di kampus kami, jadi kalau ada acara-acara penting di kampus – dia selalu menghilang. Maksudnya.. menghilang dari kelas, dari kursi di sebelahku, dari pandanganku tentunya. Dengan diadakannya Djarum Black Goes to Campus semester ini di kampus kami.. frekuensi pertemuanku dengan dia otomatis semakin jarang.
Aku sih, tidak keberatan kalau acara yang dihandle nya itu acara yang positif.. asal ujung-ujungnya jangan ngejar big sale dounk.. protesku dalam hati.
“Ini bukunya Leo, besok kamu kuliah kan?” ujarku seraya menyerahkan diktat kuliahku pada pria itu. Dia mengambilnya namun masih segan untuk menjawab pertanyaanku.
“Hm.. masih ada acara Djarum Black Goes to Campus, Laras. Itu kan acara bergengsi- masa aku tidak ikut berpatisipasi? Kalau selesainya cepet, yah.. aku bisa kuliah, kok.” Sahutnya agak ragu.
Aku hanya mengangguk pasrah dan membiarkan pria itu berlalu dengan senyumnya yang terbenam dalam hatiku.
***
Pagi itu, ada yang beda. Di bangku kuliahku ada sebuah bungkusan putih cantik. Tidak beranilah kubuka, kan tidak tahu dari siapa.. Baru saja ingin menyentuhnya, panggilan dari suara seorang pria mengejutkanku.
“Laras!”
Aku menoleh dan menaikkan alisku. Iya. Itu Leo. Namun, hari ini dia memakai kaus hitam dan bercorak hitam pula bergambar suatu symbol yang sangat sakral.
“Laras, kamu suka ga baju baruku? Ini merk Armani Exchange looo…! Sepupuku yang bawa dari Amerika. Bagus ya?” Aku diam tak berkomentar, menilik lagi gambar corak hitam yang tergambar nyata di kaos bermerk itu.
“Laras, bagus ga? Kok kamu diem aja?” Tanya Leo lugu sambil memandangiku.
“Leo.. ini gambar Burung Garuda?” tanyaku pelan.
“Eh..” Leo tertegun, dan ikutan memeriksa corak hitam di baju kaus nya. Desain pada kaus hitam itu memang mirip sekali dengan symbol Burung Garuda, lengkap dengan perisai, kepala burung yang ada menoleh di sebelah kanan, kaki burung yang mencengkram..
“Ya ampun! Leo! Aku ga mau lihat kamu pakai baju itu!” pekikku tertahan.
“Laras.. tenang dulu, oke-oke, kalau memang mirip Burung Garuda gimana dounk? Ini kan merek Armani, merek terkenal- jangan salahkan aku donk…” ujar Leo, sambil menggengam tanganku perlahan.
“Leo.. itu penggunaan symbol Negara yang tidak tepat. Burung Garuda kita itu tidak berwarna hitam – apalagi dibuat corak hitam tidak jelas begitu…. Sama artinya pendesain Armani ini harus dituntut, Leo…” ujarku perlahan sambil menepis tangannya.
Leo terlihat bingung dan serba salah, karena sesungguhnya bungkusan putih yang tidak pernah ku buka itu adalah hadiah baju kaus yang sama darinya.
Walaupun Leo berkata bahwa pemakaian lambang Negara Indonesia itu belum ada hak ciptanya, bukan berarti lah.. bisa dicopy, dipasarkan, bahkan mencari keuntungan dengan lambang itu seenak udel para pengcopy desain itu.
Akhirnya Leo membuka baju kaus hitam bercorak hitam itu, dan menggantinya dengan baju hitam polos biasa kebesarannya. Dia mengamit tanganku perlahan, aku pun tersenyum melihatnya, yang setidaknya bisa mendengarkan ucapanku kali ini.
Leo dan Laras – Hitam dan Putih, memang seharusnya begitu. Tanpa corak hitam.
__________________________
Pada akhir Januari yang lalu, pihak Armani Exchange sudah mengeluarkan pernyataan maaf dan produk tersebut ditarik dari pasaran. Memang begitulah hal yang paling tepat untuk dilakukan! Berita lengkapnya bisa dibaca disini. Para Black Community yang sering “mengkonsumsi” baju bermerk.. tetap berhati-hati ya…