Thursday, December 10, 2009

Asal Usil (Re-POST)

Prakata :
Postingan ini sudah ada jauhhh… sebelum para readers (yang sudah mengintip nama lengkap binti panjang saya di ajang Djarum Black Competition.) menanyakan arti nama “Gek”.
Postingan aslinya (dulu) hanya berisi komen dari Mbak Fanny Stroberi, yang dari awal, sebelum blog ini ramai dikunjungi para readers, sudah setia banget.. mengunjungi blog saya.. (tersedu-sedu mode : ON) Maka dari itu, saya re-post lagi. (bukan karena tidak ada ide ya.. Jie a.k.a G sering komen kalo saya re-post “Apa ide udah habis??”) Mudah-mudahan rasa penasaran itu ga berlarut-larut yee.. Yang sudah sempat baca, di baca ulang deh.. di komen ulang deh.. jangan di copas aja.. hehehehe!
 Apalah arti sebuah nama?

Hih.. William Shakespeare banget..  walaupun saya belum pernah membaca puisi Eyang Shakespeare ini, saya mengakui kalau apa yang beliau katakan ada benarnya. Namun terkadang, nama seseorang itu bener-bener bikin penasaran. Ada yang namanya kedengeran cantik banget- ada yang sederhana, ada yang ala barat- walaupun kebangsaan masih Indonesia, ada juga yang dari nama aja kita bisa tau suku bangsanya! Tapi, orang-orang Indonesia itu, benar-benar kreatif memberikan nama kepada anak-anak mereka!
Saya ingat sewaktu saya mengisi formulir untuk VISA, cuma ada dua kolom, first name (nama pertama) dan last name atau surname (nama keluarga- nama belakang) saya bingung! Karena nama aseli saya itu terdiri dari 4 kata..  sedangkan nama depan saya- nama Bali, yang notabene.. seperti simbolik yang penting (bagi saya) sehingga tidak ada orang yang memanggil saya dengan nama itu. Lalu.. surname saya yang umumnya nama keluarga.. wadaooo.. nama belakang saya sama sekali bukan nama keluarga!! Dan, lagi-lagi… tidak ada yang memanggil saya dengan nama belakang saya atau nama depan saya. Bengonglah saya, dan melengos pasrah menuliskan nama depan dan belakang saya di formulir pengisian VISA itu..  walaupun dalam hati benar-benar tidak terima!
Tambahan lagi, sebagai orang Indonesia, kita bahkan punya panggilan masing-masing! Nama panggilan itu melenceng jauh nama aseli kita- sementara itu, saat kita beranjak ke masa-masa SMP atau SMA, teman-teman sebaya kita (atau mungkin kita sendiri) akan memberi nama julukan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan nama aseli kita. Omigod! How complicated is this???
Okelah saya beberkan beberapa contoh…

Ini ponakan saya si Rani, orang-orang bilang.. dia cantik dan mirip banget kayak tantenya.. a.ka. GEK... hihihihihi! 

Adik sepupu saya, nama aslinya Pradnya – nama panggilan “Febi” karena? Pasti kalian mudah deh menebaknya, karena… bulan lahirnya Bulan Februari. Keponakan saya, namanya Devita Kiranaputri, panggilannya “Rani” karena kakeknya tidak suka memanggil Devi, Vita, atau Kiran.. astaga! Guru saya dipanggil Ibu Nana- nama aslinya Dewi Ratna.. keponakan saya satu lagi.. (sombong amat sih, baru punya ponakan banyak?) dipanggil Bintang- padahal namanya Intan.. aih… itu baru contoh-contoh ringan saja.
Ada yang dipanggil karena ciri khasnya masing-masing, misalnya pacar saya sendiri, karena dia orang kidal, dia dipanggil “kedel” (sampai sekarang, lo!) Teman satu geng nya dia bernama Angga dipanggil “Jamboel” karena apa hayo..? Yap! Karena rambutnya disisir sehingga berbentuk jambul. Oh, ada yang lebih parah ini dari keluarga saya sendiri lo, ayah saya dipanggil “Taz” karena hobi banget makan, dan sekali ganyang langsung habis- sampai saya sendiri tidak sadar kalo piring camilan udah kosong melompong yang ada cuma sisa minyak. Mau tau nama asli ayahku, ih, keren loo…”Mega!” Belum lagi Paman saya yang dipanggil “Pak Bean” karena sikap dan tingkah lakunya kocak, triky, kadang-kadang nyebelin persis seperti Mr. Bean! Padahal nama asli Paman saya Nugraha.. huks.
Lebih banyak orang juga yang membuat-buat nama panggilan untuk dirinya sendiri, alasannya.. biar ga mudah dikenali orang- biar unik engga ada yang nyamain. Contoh? Waduh kalau yang ini segudang deh.. khususnya para blogger2 kita tercinta atau ambil contoh saya sendiri- (hihi, biar para blogger ga marah sama saya!)  yang dulu waktu SMA mencoba membuat nama panggilan sendiri! Dulu saya buat nama saya cicis_angel. Hih.. aneh ya, artinya? Hum.. ga tau! Wadooo.. tambah aneh. Dulu saya suka ngejar-ngejar anak ayam (chix) maka dari itu, saya memproklamirkan diri jadi CICIS.. – kalau angel-nya, karena saya suka malaikat aja sih! Bodohnya temen-temen SMA saya dulu kok pada setuju manggil saya nama itu- sampai sekarang. Sering papasan di jalan- pas saya lagi bonceng Ibunda dan mereka teriak “Cicis!” terang aja si Mami yang cantik jadi mengkerut. “Gek, mereka manggil kamu apa??”
 Terang saja Ibunda tercinta langsung ketus, lha wong kalau di Bali itu, nama mempunyai kesakralan tersendiri, ada upacaranya pula! Makanya kalau anaknya dipanggil aneh-aneh, jelas aja yang empunya muntab. Tapi, Ibu saya juga melanggar, toh..? Karena memanggil saya “Gek”.

"Gek” atau “Geg” diambil dari kata “jegeg” dalam bahasa Bali yang artinya cantik. Kalau di pulau Jawa, mungkin dipanggil ‘neng geulis’, ‘non’, atau ‘nduk’.
Lucu juga ya Indonesia punya budaya unik seperti ini, karena orang Barat juga pada heran, kok bisa kita mempunyai nama 4 kata- atau bahkan ada yang lebih panjang, sedangkan kita dipanggil dengan nama panggilan kita (yang mungkin tidak tertera di akte kelahiran) yang buat kita merasa sangat nyaman dipanggil dengan nama itu. Terkadang orang-orang bule itu nguping pas saya terima telfon dari pacar saya, dan langsung menanyai saya setelah telfon saya tutup. “You said your boy friend’s name is Kadek, why you called him “sayang”? How many boy friend have you got?? “


Perhatian!!!
Nama-nama diatas adalah nama sebenarnya, maaf kalo asal nyolong.. hihihi. (ketawa kunti)

Wednesday, December 9, 2009

Sejarah HITAM "Balibo Five" di Timur Lorosae


Postingan Black in News kali ini, saya mulai dengan dua pernyataan yang berhubungan dengan judul postingan ini.
  1. Balibo adalah nama kejadian, nama orang, atau peristiwa yang berhubungan dengan Bali.
(Benar atau Salah?)
  1. Sebelum Timur Lorosae memisahkan diri dari Indonesia mereka adalah bagian dari Indonesia.
(Benar atau Salah?)

Apabila para readers menjawab ke dua pertanyaan ini dengan benar, akan mendapat hadiah sebungkus Djarum Black Slimz (yang bisa dibeli dengan uang kalian sendiri di toko-toko di dekat rumah masing-masing ya…hehe*GETOK*). Kalau jawaban para readers salah, maka harus membaca postingan saya ini sampai habis!
Jawaban dari dua pernyataan tersebut adalah…..
SALAH!
Kok bisa?
Oke, mari saya mulai postingan tentang sejarah hitam di Timur Lorosae ini, readers…
Balibo adalah nama sebuah kota kecil di East Timor (atau dulunya kita kenal dengan nama Timor-Timor dan dijuluki Timur Lorosae – masih ingat lagunya kan?). Kota ini menjadi terkenal dengan kasus “Balibo Five” yang sedang mencuat ke permukaan akhir-akhir ini.
“Balibo Five..?”
Mungkin istilah ini akan membuat para readers mengerutkan alis, seperti reaksi saya waktu mendengar kata ini pertama kalinya di Australia. Memang, belum nge-, trend di Indonesia malah cenderung disembunyikan. Pemain para “Balibo Five” ini sendiri adalah kedua negara yang bertetangga baik – saya sempat heran karena ternyata “api dalam sekam” itu benar terjadi diantara Indonesia dan Australia.
Sepanjang perjalanan pelajaran sejarah yang saya tekuni dari SD sampai SMA, saya belum pernah mendengar kalau dulunya, East Timor itu bukan bagian dari Negara Indonesia! Pada masa perang dunia ke dua pada tahun 1941, East Timor (ternyata) dikuasai oleh Australia dan Portugis. Namun, karena bagian barat Timor-Timur ini adalah wilayah Indonesia, Negara kita ingin menggandeng East Timor sebagai bagian dari Indonesia.
Tetapi, apakah East Timor mau?
Jawabannya, Tidak. Penolakan ini berujung sebuah invansi atau penyerangan ke East Timor pada tahun 1975 silam.. Tunggu…! Penyerangan??
Iya, sebuah invansi penyerangan dari Indonesia ke East Timor!  Pada masa itu, tersebutlah lima jurnalis Australia yang sengaja dikirim ke Balibo karena kejadian ini. Dan sangat disayangkan, ke-lima jurnalis ini dinyatakan dan diberitakan tewas dalam baku tembak yang terjadi di Balibo, tidak ada jejak, tidak ada pula jenazah yang bisa pulang ke Australia – semua menguap bagai debu, yang ada justru berita bahwa Timor-Timur telah menjadi propinsi yang ke 27 dari Indonesia…
Negara tetangga tentu saja merasa tidak terima atas kesimpang siuran tentang berita ini, kemudian mereka terus-menerus melakukan investigasi dari saksi-saksi yang masih hidup, namun hasilnya nihil. Mereka memaksa Indonesia untuk mengatakan atau mungkin mengaku bahwa mereka yang membunuh ke-5 jurnalis tak berdosa itu, namun.. hasilnya NOL. Semua seperti bersembunyi di balik topeng. Tidak ada yang mau membuka topeng. Seperti sebuah pepatah lama bagi saya.. buruk muka telah ditutup dengan topeng namun cermin dibelah juga…

Walaupun media mengumandangkan bahwa Timor-Timur adalah propinsi ke 27 dari Indonesia, mereka tidak bahagia akan itu, ada sejarah hitam di baliknya. Saking hitamnya sejarah ini, Australia mengambil inisiatif untuk membuat suatu film agar sejarah dokumentasi ini bisa disaksikan khalayak ramai – seperti yang sudah diduga.. Indonesia tetap bersembunyi di balik topeng dengan mencegah film yang bertajuk “Balibo Five” untuk masuk ke Indonesia karena di dalam film ini terdapat adegan dimana Tentara Nasional Indonesia menembak dan menikam para jurnalis tersebut. Film ini rencananya akan diputar untuk kali pertama di Ji-Fest di Jakarta, namun tentu saja tidak ada ijin dari lembaga sensor Indonesia!!
Sampai 7 Desember 2009 – 34 tahun setelah insiden Balibo Five, merupakan hari bersejarah bagi kedua Negara karena ada seorang purnawirawan TNI yaitu Kolonel Gatot Purwanto yang merupakan saksi dari peristiwa “Balibo Five” mencoba menguak tabir hitam dari sejarah Timur Lorosae ini. Beliau mengatakan bahwa, ke lima jurnalis dari Australia tersebut dibunuh dengan sengaja oleh tentara Indonesia sendiri! Bukan hanya ditembak sampai tewas, jenazah ke lima jurnalis Australia itu juga dibakar – hingga benar-benar tidak meninggalkan bukti atau jejak. Berita pengakuan ini langsung mencuat di berita nasional seantero Australia, mereka sampai mewawancarai beliau dan bertanya alasan pembunuhan sadis tersebut. Alasan yang dikemukakan bekas kolonel yang diberhentikan secara terhormat ini cukup singkat dan mengejutkan yaitu agar bukti-bukti bahwa Indonesia pernah menjajah atau melakukan invansi  penyerangan terhadap East Timor tidak tersebarluaskan ke seluruh dunia!

Foto ini adalah Foto dari Gatot Purwanto yang saya ambil dari situs ABC NEWS

Sebagai bangsa Indonesia, tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali berkabung untuk pengorbanan ke lima jurnalis dari Australia tersebut, dan mengambil sebuah pesan dari sejarah hitam Timur Lorosae ini, yaitu keberanian seorang purnawirawan kolonel yang dengan lugas dan jujur menguak tabir hitam yang terselubung di antara dua Negara yaitu Negara kita, Indonesia dan teman baik, bahkan Negara tetangga kita, Australia. Sikap ini, saya rasa patut diacungi jempol dan ditiru oleh para Black Community di seluruh Indonesia.
Saya juga berharap agar terdapat rasa berani seperti ksatria dalam hati kita masing-masing dalam hal apapun.  Contohnya adalah tindakan ksatria seorang Kolonel Gatot Purwanto yang walaupun sangat terlambat –  namun, saya  masih percaya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali! Seandainya juga sebuah kejujuran ini dapat dimiliki semua orang, meskipun berwarna hitam dan rasanya pahit. Bukankah kejujuran terpahit jauh lebih baik daripada kebohongan termanis?
 -Gek-
 Postingan ini dibuat berdasarkan fakta-fakta yang bisa dibaca di :
ABC NEWS
Wikipedia Balibo Five